ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Musibah Tidak Sekadar “Muhabasah”, tapi Muhasabah

0

Advertisements

Oleh: Minah, S.Pd.I
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

MUSIBAH terus menghampiri Negeri kita. Musibah yang begitu besar menimpa saudara-saudara di Palu. Gempa dengan kekuatan 7,3 skala richter kemudian disusul dengan tsunami yang besar sehingga membuat bangunan-bangunan banyak yang roboh dan menimpa banyak korban. Selain itu, terjadi juga lumpur yang mampu menghilangkan 1 wilayah dan korbanpun terkubur hidup-hidup. Astaghfirullah.

Apa sebenarnya yang dilakukan oleh manusia? sehingga Allah menimpa dengan memberi teguran berupa gempa bumi, tsunami dan lumpur yang mampu memakan banyak korban. Mari kita muhasabah di balik gempa ini, bisa jadi karena ulah tangan manusia atau kemaksiatan yang dilakukan sehingga Allah memberikan peringatan. Serta ujian bagi orang-orang beriman.

BACA JUGA: Fakta-Fakta Khabib Nurmagedov, Muslim Pertama Jawara Dunia UFC

Musibah yang ada, tidak sekadar “Muhabasah” (muka basah karena menangis) takut akan azab, dan khawatir dengan musibah yang datang menimpa dirinya, sehingga dengan begitu sedih dan baru ingat Allah, setelah itu lupa dan kembali bermaksiat. Oleh karena itu, jangan sampai musibah hanya sekadar muhabasah saja, tapi menjadi muhasabah bagi diri kita untuk intropeksi diri. Mengingat-ingat kemaksiatan yang dilakukan dan memohon ampun kepada Allah serta bertaubat dengan sungguh-sungguh tidak akan melakukan maksiat. Karena musibah yang datang, itu dikarenakan kemaksiatan yang dilakukan.

Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah saw lalu meletakkan kedua tangannya diatas tanah dan berkata, “Tenanglah, belum datang saatnya bagimu.” Lalu Nabi saw menoleh kearah para sahabat dan berkata, “sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buatlah Allah ridho kepada kalian)”

Related Posts
1 of 2

Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab ra, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana. Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian’.”

BACA JUGA: Ibrah dan Sikap Seorang Muslim ketika Ditimpa Musibah

Oleh karena itu, mari kita bermuhasabah diri, gempa, tsunami dan lumpur tersebut merupakan teguran dan peringatan dari Allah swt kepada manusia untuk kembali kepadaNya, bila melakukan kemaksiatan, maka hendaklah segera bertaubat. Gempa, dan tsunami juga merupakan ujian bagi orang yang beriman. Karenanya, Berpegang teguhlah kepada syariat Allah dan terus berupaya untuk tunduk dan taat kepadaNya. Saling mengingatkan dalam kebaikan serta menerapkan hukum-hukumNya agar negeri ini mendapatkan berkah. Yuk bermuhasabah diri agar menjadi pribadi yang beriman. Wallahua’lam. []

Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: redaksi@islampos.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos.

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Maaf Anda Sedang Offline