ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Mereka Akui Al-Quran Tapi Menentangnya

Foto: Pinterest
0

PADA zaman Rasulullah SAW banyak kaum nonmuslim yang tidak menyukai kedatangan Rasulullah yang memberikan ajaran baru di kalangan mereka. Mereka banyak yang melakukan pertentangan. Apalagi ketika Rasulullah menyampaikan dakwahnya dengan menggunakan wahyu dari Allah, yang kita kenal sebagai al-Quran.

Banyak kaum nonmuslim yang menentang dakwah Rasulullah dan tidak mau mengikuti apa yang diajarkan dalam al-Quran. Sebenarnya mereka itu tahu dan mengakui kebenaran al-Quran. Tapi, mengapa mereka melakukan pertentangan?

Di awal zaman Rasulullah, bangsa Arab tidak mau menggunakan logika dan cara berpikir yang sehat. Mereka menolak risalah yang dibawa Muhammad karena menganggap utusan Allah itu orang yang kurang terpandang dan berasal dari rakyat biasa.

Allah SWT berfirman, “Dan mereka berkata, mengapa al-Quran ini tidak diturutkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah atau Thaif),” (QS. Az-Zukhruf: 31).

Sebenarnya al-Quran sudah menguasai dan memengaruhi jiwa dan akal mereka, tetapi mereka menolak kerasulan Muhammad. Mereka meragukan Muhammad.

Mereka menuduh Nabi Muhammad melakukan sihir dengan al-Quran. Aneh! Kalau benar Rasulullah SAW menyihir mereka dengan al-Quran, apakah orang yang disihir bisa mengelak dan menolak? Jika orang-orang yang telah beriman itu dikatakan telah disihir, mengapa tokoh-tokoh kafir tidak juga terkena sihir sampai mereka beriman dan masuk Islam?

Mereka menuduh al-Quran itu kitab syair, padahal bahasa al-Quran berbeda jauh dengan bahasa syair. Mereka menuduh Muhammad seorang tukang tenung (dukun ghaib).

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya al-Quran itu adalah benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia. Dan al-Quran itu bukan perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya,” (QS. Al-Haaqqah: 40-42). []

Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi/Penerbit: Gema Insani.

loading...
loading...