islampos
Media islam generasi baru

Menunggu Hukuman Mati, Napi Ini Pilih Jadi Guru Ngaji di Lapas Tanjung Gusta Medan

Foto: Merdeka
0

TANJUNG BALAI–Ramadan menjadi momen untuk memohon ampunan dan mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Itu pula dilakukan salah seorang terpidana mati di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta Medan, Halim Nasution alias Alem (44).

Pria asal Kelurahan Muara Sentosa, Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara, kini semakin banyak beribadah. Dia juga mengajak rekan-rekannya untuk mengerjakan berbagai amalan baik.

Sejak masuk ke Lapas Tanjung Gusta, Halim memang aktif menjadi guru mengaji bagi warga binaan lain. Dia mengajarkan cara salat kepada para napi belum mengetahuinya.

Halim kini menunggu hukuman mati dijatuhkan kepadanya dan dua rekannya, yakni Guntur alias Ucok (46) dan dan Didit Prayetno alias Wak Men (54).

Mereka dijatuhi hukuman maksimal itu di Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Balai pada 23 September 2015. Itu setelah mereka terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah membawa 20 Kg sabu dari Malaysia. Dia melanggar Pasal 113 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Sebelumnya, mereka ditangkap petugas Satuan Reserse Narkoba Polres Tanjung Balai di perairan Sei Sembilang, Asahan pada 2 April 2015. Dari kapal kayu yang mereka bawa ditemukan 20 bungkus sabu-sabu dengan total berat 20 kilogram.

Penampilan Halim sangat jauh berubah dibanding saat ditangkap dulu. Janggutnya panjang denhan bagian tengah tampak memutih. Busana sehari-harinya juga baju koko dan kopiah lebai.

Halim kini banyak menghabiskan waktu di Masjid At-Taubah ada di dalam Lapas Tanjung Gusta. Mulai membersihkan masjid, azan hingga menjadi imam salat berjemaah dia lakoni di sana.

Dalam pandangan napi lainnya, Halim sosok yang baik. “Orangnya sederhana tidak banyak bicara. Dia orang yang tawaduk. Masalah ibadah dia banyak bicara kepada kita,” kata Suhar, yang juga narapidana.

Meski dijatuhi hukuman mati, Halim terlihat tegar. Dia tampak santai, tak gelisah. “Yang membuat saya tegar itu saya merasa semua orang kan harus mati, tidak ada orang yang kekal hidup, siapa pun dia,” ucap Halim.

Dia yakin amalan yang dikerjakan membuatnya mampu menghadapi semua beban. “Ada satu amalan apabila mengamalkan amalan ini akan lepas dari beban apa pun. Amalan itu adalah laksanakan salat berjemaah,” ucapnya. []

Sumber: Merdeka

loading...
loading...