Menteri Desa Dukung Program Khataman Al Quran di Desa

Foto: Unhas
0

JAKARTA—Indonesia adalah negara yang kaya dan religius, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Agar masyarakat Muslim Indonesia kembali mengingat ajaran-ajaran Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, Nusantara Mengaji mengagas ide Khataman Al Quran di Desa.

“Apa yang mau kita terapkan kalau kita tidak pernah baca. Kita mulai membaca dan mengerti arti dari ajaran-ajaran tersebut, dan kemudian bisa menerapkannya,” ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo.

Gagasan tersebut disambut dengan antusias oleh Eko Putro Sandjojo. Ia mendorong agar pelaksanaan khataman Al Quran melalui Nusantara Mengaji digelar di desa-desa.

“Saya senang sekali waktu sahabat saya Ustadz Jazil (Koordinator Nasional Nusantara Mengaji) menawarkan untuk mengadakan semacam acara nusantara mengaji di kementerian kita (Kemendes PDTT). Saya bilang, Insya Allah kita dukung tidak hanya akan diadakan di kementerian, tapi juga di tempat lain di desa-desa di Indonesia ini,” ujar Eko Putro Sandjojo dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (23/2/2017).

Eko mengatakan, Indonesia yang saat ini memiliki kekuatan ekonomi no 16 terbesar di dunia, diramalkan akan mampu naik menjadi peringkat empat di dunia jika pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan. Jika hal tersebut terjadi, maka hal tersebut akan memberikan kebanggan bagi umat Islam dunia.

“Mayoritas masyarakat miskin kita beragama Islam. Tugas kita adalah untuk menolong umat muslim yang miskin, agar terangkat dari kemiskinan di Negara yang makmur ini, kita harus mulai dari hal kecil dari diri sendiri”.

Sementara itu Ketua Koordinator Nasional Nusantara Mengaji, Jazilul Fawaid, mengatakan, tujuan utama diadakannya khataman Al Quran tersebut adalah adalah bagaimana agar masyarakat gemar membaca AlQuran.

Ia meminta masyarakat, agar mengajak masyarakat muslim lainnya untuk bersama-sama membaca Al-Quran.

“Saya dikritik, kok kenapa membaca? Saya bilang, sebenarnya menyediakan waktu 30 menit dalam 24 jam itu singkat. Tapi memang kita ini untuk mencintai AlQuran itu berat. Percaya, baca terus AlQuran sampai menemukan kenikmatan dari huruf-huruf AlQuran,” kata Jazilul.

Menurut dia, Alquran berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, sebab dijamin dan dijaga hingga hari kiamat tiba. Oleh sebab itu menurut Menteri Eko, memahami atau tidak saat membaca Alquran, maka akan tetap dijaga sebagai pahala. []

loading...
loading...