ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Menjadi Manusia Paling Bahagia Meski Ujian Menyapa

0

KETIKA memiliki masalah, yang kita cari adalah orang-orang yang kita percayai untuk menumpahkan segala lara hanya kepada orang tersebut.

Padahal, ketika kita berharap sesuatu kepada manusia, pastilah akan menemukan kekecewaan sekecil apapun itu. Sama ketika kita mempercayai seseorang, bisa juga suatu ketika dia akan mengkhianati kita.

Bukan berarti semua orang demikian. Tapi sudah sepatutnya kita mencari orang-orang yang baik untuk menjadi sahabat kita.

Lalu bagaimana jika ternyata kita sudah terlanjur memilih orang yang salah dalam berbagi suka dan duka? Bagaimana kalau ternyata orang yang kita percayai, justru tega menusuk kita dari belakang?

Sakit, kecewa? Pasti. Tapi mungkin juga dengan adanya kejadian tersebut, Allah hanya ingin kita sadar bahwa selama ini kita sudah salah. Dan Allah juga ingin kita kembali berharap sesuatu hanya kepada-Nya saja.

Kita harus ingat. Bahwa tidak ada seorang pun manusia yang dapat menghinakan atau memuliakan seseorang. Hanya Allah yang dapat melakukannya.

Oleh sebab itu, tak perlu resah atau risau, ketika kita memiliki masalah yang terasa berat dan semakin berat hingga rasanya pundak tak mampu menanggung beban tersebut. Sebab ada Allah bersama kita. Dia yang akan selalu mendengar segala keluh kesah, yang akan tetap dan selalu memberikan kekuatan serta kasih sayang dengan cara-Nya yang sempurna.

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya),” (QS. An-Naml: 62).

Yang perlu kita lakukan adalah berdo’a. Meluangkan lebih banyak waktu untuk mendekati-Nya.  Mendekap dalam pelukan Rahmat-Nya.

Sebagaimana kisah Nabi Ayub yang juga pernah Allah uji dengan sakitnya. Namun karena kesabaran, keikhlasan dan kesungguhannya dalam berdo’a, maka Allah angkat penyakit Nabi Ayub.

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah,”(QS.Al-Anbiya: 83-84).

Jika Allah sudah menghendaki kemudahan bagi seseorang, maka kemudahan itu akan datang dari arah yang tak pernah disangka-sangka. Pun sebaliknya, jika Allah menginginkan kesukaran bagi seseorang, maka tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya.

Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya dengan kekhusyukan. Dan yang pasti, Allah akan menguatkannya, hingga seseorang  itu yakin dan  merasa bahwa ujian yang dimilikinya merupakan sebuah nikmat. Sehingga kemudian akan Allah angkat derajat seseorang tersebut berkat kesabarannya.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas tunduk kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya,” (QS. An-Nisa: 125).

Allah memberikan ujian bukan karena Allah jahat dan membenci kita. Semuanya semata-mata merupakan sebuah ujian, agar kita berlari menghadap-Nya. Agar kita mengadu dan berharap hanya kepada Allah.

Sebab orang yang paling bahagia, adalah orang yang senantiasa menautkan hatinya hanya kepada Allah semata. []

 

Sumber: Annida

loading...
loading...