Menikah Tanpa Cinta

0

Oleh: Raidah Athirah

SAYA pernah membaca tulisan yang sepintas sangat romantis. Secara garis besar inti tulisan ini tidak jauh dari menikahlah karena cinta, menikahlah dengan orang yang kamu cintai, menikahlah karena saling mencintai. Idealnya memang demikian. Akan tetapi, benarkah?

Apakah orang yang menikah karena dijodohkan tidak bahagia? Kita sendiri telah melihat banyak contoh di masyarakat.

Saya percaya beberapa diantara kita menikah dengan jalan ta’aruf yang hanya berkenalan secara singkat. Mungkin hanya dalam rentang hitungan 1- 5 bulan kemudian menikah.

Saya sendiri menikah setelah menjalani ta’aruf/perkenalan selama 2 bulan dan pada bulan ketiga kami memantapkan niat untuk menikah.

Bagaimana menikah tanpa ada rasa cinta?

Perasaan cinta ini relatif. Berapa banyak pasangan yang menikah karena saling cinta kemudian memilih berpisah?

Sebaliknya, ada pasangan yang sampai dimakan usia senja masih setia saling menjaga walau dulu dalam hidup mereka tidak ada acara pacaran bertahun-tahun, jalan bareng sambil pegangan tangan dan seremonial romantisme lainnya.

Karena sekali lagi, rasa cinta tidak bersifat abadi. Bisa bertambah atau bahkan kering tak tersisa.

Pernikahan yang kuat adalah pernikahan yang didasarkan pada nilai komitmen untuk saling menjaga, saling bertengggang rasa dan terutama saling mendoakan.

Selalu saya ceritakan pada siapapun bahwa menikahlah dengan kesadaran. Menikahlah karena Allah karena sekuat apapun goncangan ada satu tali yang akan tetap mengikat hati, iman kepada Allah.

Perlu kita gali dan tanyakan kembali apa tujuan menikah. Memahami tujuan menikah akan menyadarkan kita apabila timbul riak maupu gelombang yang datang dalam kehidupan rumah tangga.

Tujuan pernikahan yang didasarkan pada sifat-sifat dunia dan materi maka akan memiliki nilai materi, usang atau membosankan.

Menikah karena cantik wajah dan tampan rupa, sah-sah saja. Akan tetapi, mau atau tidak tubuh akan dihempas waktu, menjadi keriput dan lemah.

Menikah karena harta apalagi, boleh-boleh saja, Islam tak melarang. Tapi, tetap berapa banyak keluarga saling mencaci bahkan bermusuhan karena hal ini?

Menikah karena status. Pernikahan yang didasarkan atas nilai-nilai tanah cepat atau lambat akan membawa kita ke titik rendah. Hina dan terhinakan. Berjuang mati-matian hanya karena mengharap status. Bila sudah didapat, adakah jaminan hidup akan bahagia setinggi apapun status pasangan yang kita nikahi?

Menikahlah bukan karena sahabat telah menikah, bukan karena dilangkahin adik, bukan juga karena sudah tak tahan dengan bullying sosial.

Kebahagiaan diri adalah jalan yang kita pilih.Ketika terpilih, belajarlah menjadi yang terbaik. Ketika memilih, belajarlah memberikan yang terbaik semata-mata karena Dia yang Maha Rahman dan Rahim yang akan memberi balasan. Memilih bukanlah tentang sempurna tapi tentang kuatnya ikhtiar untuk saling menjaga di perjalanan.
JanjiNya adalah benar, yang ikhlas melangkah pasti akan mendapat ketenangan.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala pada surat Ar-Rum Ayat 21 sungguh adalah mukjizat terbesar yang telah dibuktikan oleh ilmu psikologi bahwa yang ingin diraih dari ikatan pernikahan adalah perasaan tentram dan saling menghormati.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Menikah tanpa cinta, mengapa tidak? []

Polandia, 15 April 2018
Perantau Fakir Di Jalanan Warsawa

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline