ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Mengukur Iman Pemimpin dari Makna “Alif Lâm Mîm”

0

Advertisements

Oleh: Azi Ahmad Tadjudin

Kepala Program Kulliyyatul Muallimin al-Islamiyyah Pon-Pes Islam Uswatun Hasanah Purwakarta – Jawa Barat. Siswa program Doktor (S-3) Hukum Islam UIN Bandung. Pengasuh Rubrik Konsultasi Syariah di islampos.com

 

ALÎF lâm mîm, “Allah Maha mengetahui maksud isi kandungannya,” (wallâhu A’lam bi murâdihi). Ungkapan itulah yang menghiasi pendapat para para mufassir dalam tafsirnya ketika menafsikan Alîf lâm mîm.  Mayoritas ahli tafsir berhenti (tawaqquf) ketika menafsirkan ayat-ayat mutsyabih dengan ungkapan wallâhu a’lam bi murâdih.

Hal demikian membuktikan bahwa para mufassir tidak banyak mengetahui lebih dalam kandungan tafsir lafazhAlîf lâm mîm dan ayat-ayat yang serupa sebab pengetahuan mereka tentang makna ayat tersebut terbatas dikarenakan keterbatasan dalil-dalil yang menyingkap tentang rahasia di balik maknaAlîf lâm mîm.

Namun jika kita mau mengambil pelajaran di balik makna Alîf lâm mîm, sesungguhnya Allah SWT banyak memberikan pelajaran penting dibalik makna tersebut, hal ini bila kita berasumsi bahwa tidak mungkin Allah SWT  menurunkan ayat al-Quran sebagai petunjuk kehidupan tapi tidak dapat diambil maknanya.

Oleh karena itu dengan landasan bahwa setiap ayat al-Quran pasti memberikan hikmah dan pelajaran pentinga bagi kehidupan kita, karenanya Alîf lâm mîm mengandung makna kehidupan yang sangat berharga paling tidak sebagai berikut:

1). Alîf lâm mîm mengajarkan kepada kita untuk beriman (tauhid). Iman secara bahasa adalah percaya. Indikasi orang percaya adalah tidak banyak bertanya terhadap apa yang dia yakini sebab seiring dengan waktu dan kesempatan kepercayaan tersebut akan terbukti dalam aplikasi kehidupan. Sebagai contoh; ketika seseorang naik pesawat terbang, cukup dengan modal percaya bahwa pilot pasti mampu menerbangkan pesawat dengan baik dan professioanal.

Kepercayaan itu penting diyakini oleh seorang penumpang pesawat sebagai modal ketika terbang di angkasa. Coba kita bisa bayangkan jika modal percaya itu tidak dimiliki sejak awal oleh penumpang pesawat, niscaya dia akan selamanya dihantui ketakutan dan keraguan selama penertabangan. Menyimpan mosi ketidakpercayaan kepada pilot akan melahirkan prasangka buruk (su’ al-zhan) yang pada akhirnya mengakibatkan penumpang tidak tenang selama penerbangan.

Dari sikap tidak percaya itulah akan lahir asumsi-asumsi negatif seperti; “benarkah pilot bisa menerbangkan pesawat dengan baik?”, “jika cuaca buruk apa yang akan dilakukan sang pilot?”, “Bagaimana kalau jatuh?” dan juga beragam asumsi lainnya yang lahir dari mosi ketidak percayaan pada pilot. Namun jika penumpang percaya dan yakin bahwa pilot pasti akan mampu menerbangkan pesawat dengan baik, tentu kita akan tenang dan nyaman menikmati perjalanan selama penerbangan.

Bahkan karena nyamannya tidak sedikit penumpang terlelap tidur menikmati perjalanan. Kenyamanaan itu cukup dengan modal percaya kepada sang pilot, sekalipun penumpang tidak sempat beraudiensi dengan sang kapten pesawat terlebih dahulu bahkan menanyakan lebih jauh, “sang kapten lulusan dari mana?”,“mana sertifikarnya?” dan lain sebagaimanya. Simpulannya dengan percaya (iman) maka akan melahirkan ketenangan (thuma’ninah). Ketika sudah sampai tujuan baru penumapang akan mengatakan alhamdulillah pesawat sudah mendarat dengan selamat.

Model dan beragam contoh yang seurupa banyak kita temukan dalam kehidupan ini, seperti  modal percaya ketika kita akan berobat kepada dokter, modal percaya ketika kita menitipkan anak di lembaga pendidikan, modal percaya ketika kita mengangkat bawahan sebagai kepercayaan, modal percaya ketika mengangkat seorang penjaga toko diamanahi menjadi teller, modal percaya rakya memilih pemimpinnya, modal percaya suami kepada isterinya dan lain sebagainya.

Itu semua akan dapat kita jalankan dengan baik hanya degan modal percaya. Dalam bahasa agama percaya dinamakan dengan iman (bahasa). Jika dalam kehidupan dunia modal iman akan melahirkan amanah dan tuma’ninah (ketenangan), begitupun dengan modal iman kepada Allah swt. akan melahirkan ketenangan hidup dan ketenangan dalam menjalankan semua tuntutan (taklif)  yang  diperintahkan kepada manusia.

Orang beriman kepada Allah hidupnya akan tenang dalam kondisi apapun. Dia akan percaya sepenuhnya kepada Allah. Segala ujian, tantangan dan rintangan hidup akan dihadapi dengan penuh ketenagan dan keridhoan sebab kita yakin segala keputusan yang menimpa kepada kita baik dan buruk itu datang dari Allah swt. sebaliknya orang yang tidak percaya kepada Allah akan selalu dihantui kegelisaan dalam hidupnya. Setiap putusan Allah menimpa kepada hamban-nya, sang hamba yang tidak beriman selalu berprasangka negatif kepada Allah swt. banyak kekhwatiran akan menghantui kehidupannya dengan terus berprasangka negatif kepada Allah swt. Allah swt. berfirman dalam Qs al-Baqarah (2) : 26,

Artinya, “ sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau lebih kecil dari itu, adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “apa maksud Allah dengan perumpamaan ini…”

2). Alîf lâm mîm mengajarkan kita percaya dengan haq al-yakin kepada semua informasi yang Allah sampaikan dalam al-Qur’an. Alîf lâm mîmsebagai modal untuk percaya kepada Allah swt dan sekaligus dengan modal kepercayaan itu al-Quran akan menunjukkan kepada pembaca yang mau mengambil petujuk atasnya.

Intinya Alîf lâm mîmmengajarkan kita untuk tunduk dan pasrah hanya kepada Allah swt. oleh karena itu Alîf lâm mîmmenuntut kita agar percaya sepenuhnya kepada al-Qur’an sebagai sumber kebenaran yang hakiki. Indikasi sikap percaya sesorang kepada Al-Quran, ia menegasikan sikap ragu, buruk sangka dan banyak bertanya tentang sesuatu yang bukan pada tempanya. Alîf lâm mîm, berimanlan kepada al-Qur’an. 

3). Alîf lâm mîm mengajarkan kepada kita bahwa iman adalah modal kehidupan di dunia menuju akhirat. Orang akan dipercaya ketika dia amanah, tapi kepercayaan itu akan memudar ketiak sudah tidak amanah. Orang yang tidak dapat menjalankan amanah akan sulit mendapatkan simpati dihadapan orang lain, sehingga dengan modal iman akan melahirkan orang yang amah sebagaimana riwayat Anas dari  nabi Muhammad saw bersabda, Artinya, “Seseorang tidak beriman jika dia tidak amanah.” (HR. Al-Baihaqy, Sunan al-Qubra li al-Bayhaqi, juz 4 hal. 970 )

Jadi jika selama ini para pemimpin tidak amanah maka yang harus dipertanyakan adalah dimana keimanan mereka, sebaliknya pemimpin yang beriman pasti akan amanah terhadap jabatannya.Wallahu a’lam bi al-shawwab. []

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline