• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Selasa, 6 Oktober 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Mengapa Poligami Sering Dipandang Negatif, Tapi Pacaran Dianggap Lumrah?

by Yudi
1 tahun ago
in Syi'ar
Reading Time: 3 mins read
A A
0
poligami

Foto: Unsplash

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

POLIGAMI dan pacaran—dua kata yang sering memicu perdebatan panas di ruang publik Indonesia. Yang satu dilegalkan secara agama namun kerap dipandang negatif, sementara yang lain dilarang dalam norma agama, namun dianggap lumrah dalam kehidupan sosial sehari-hari. Lalu, mengapa masyarakat cenderung lebih keras menolak poligami, tetapi tampak lebih longgar terhadap budaya pacaran?

Poligami: Legal tapi Tidak Populer

Dalam hukum Islam, poligami diperbolehkan dengan syarat-syarat yang ketat: keadilan di antara istri-istri, kemampuan finansial, serta tujuan yang jelas dan bertanggung jawab. Bahkan, di Indonesia, praktik ini juga diatur dalam hukum negara melalui UU Perkawinan dengan prosedur khusus yang tidak mudah.

BACA JUGA: 6 Penyebab Banyak Orang Tua Muslim Izinkan Anaknya Pacaran, Padahal Islam Melarang!

Namun, di tengah masyarakat, poligami sering dianggap tabu. Banyak yang mengaitkan poligami dengan ketidakadilan terhadap perempuan, penyalahgunaan wewenang laki-laki, atau bahkan trauma sosial dari kasus-kasus yang tidak sehat.

ArtikelTerkait

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

6 Manfaat Berteman dengan Orang Shaleh

Tidak sedikit pula yang menolak poligami karena alasan modernitas: konsep “satu pasangan seumur hidup” dianggap lebih romantis dan ideal secara emosional.

Pacaran: Dilarang Agama, Dibenarkan Sosial

Sebaliknya, pacaran adalah praktik yang nyaris umum di kalangan remaja dan dewasa muda. Meski agama secara tegas melarang hubungan yang mendekati zina dan menganjurkan ta’aruf sebagai alternatif, pacaran tetap dianggap wajar—selama “tidak kebablasan.”

Bahkan dalam banyak keluarga, anak remaja yang mulai pacaran tidak ditegur keras. Justru, ketika seorang laki-laki menikah lagi secara sah (poligami), reaksi masyarakat bisa jauh lebih keras.

Dimana Letak Ketidakkonsistenan?

Fenomena ini menunjukkan adanya standar ganda sosial. Masyarakat sering kali menilai sesuatu bukan dari benar-salahnya secara prinsip, melainkan dari persepsi umum dan kenyamanan emosional.

  • Poligami dianggap menyakitkan perasaan (terutama perempuan), sehingga ditolak, meski legal.

  • Pacaran dianggap bagian dari proses menuju kedewasaan, meski dilarang agama.

Padahal, jika diukur dari sisi kejelasan hukum agama, poligami lebih memiliki landasan yang jelas dibanding pacaran.

Faktor Media dan Budaya Populer

Media dan budaya populer juga memainkan peran besar. Sinetron, drama, lagu-lagu cinta—semuanya memperkuat narasi bahwa cinta harus melalui fase pacaran. Di sisi lain, poligami sering digambarkan dalam konteks perselingkuhan atau pria tak bertanggung jawab.

Akibatnya, persepsi masyarakat terhadap dua hal ini pun ikut terbangun oleh narasi yang dikonsumsi setiap hari.

Solusi: Kembali pada Prinsip, Bukan Emosi

Untuk menghadapi fenomena ini, masyarakat perlu menata ulang cara pandang terhadap hukum agama dan budaya.

  • Jika kita ingin hidup dengan nilai-nilai Islam, maka baik poligami maupun pacaran harus dinilai dengan standar yang sama adilnya.

  • Poligami yang dilakukan secara sah dan bertanggung jawab seharusnya tidak lebih buruk dari pacaran diam-diam yang bisa menjerumuskan pada zina.

  • Sebaliknya, pacaran yang melanggar batas justru harus dikritisi dengan cara yang edukatif dan solutif, bukan dinormalisasi begitu saja.

BACA JUGA: Mengapa Taaruf Sebelum Menikah Lebih Baik daripada Pacaran? Ini 6 Alasannya

Akhirnya, ini bukan soal memilih membela poligami atau membela pacaran. Ini tentang konsistensi nilai. Apakah kita benar-benar peduli pada prinsip, atau sekadar menilai berdasarkan perasaan dan opini mayoritas?

Menjadi masyarakat yang adil artinya berani bersikap kritis—tidak hanya pada apa yang terasa tidak nyaman, tetapi juga pada apa yang dianggap lumrah meski melanggar nilai-nilai dasar kita. []

Tags: PacaranPoligami
ADVERTISEMENT
Previous Post

Cara Mencegah Diabetes Sendirian di Usia Dini

Next Post

Kenapa Jepang Tidak (Fokus) Memproduksi Mobil Listrik?

Yudi

Yudi

Related Posts

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

14 Juli 2025
agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

14 Juli 2025
Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

13 Juli 2025
Interview, Hadis tentang Dosa Berbohong, Teman

6 Manfaat Berteman dengan Orang Shaleh

12 Juli 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.