ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Menakar Peluang Pilgub Jawa Tengah

0

 

TAHUN  2018 akan menjadi momentum penting bagi perpolitikan Jawa Tengah. Pasalnya, dalam Pilgub Jateng 2018 ini ada hal yang menarik perhatian banyak kalangan khususnya warga NU dan masyarakat santri dengan majunya KH Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) putra kyai kharismatik KH Maimoen Zubair dari perwakilan PPP, sebagai calon wakil gubernur mendampingi gubernur petahana Ganjar Pranowo yang berasal dari PDIP.  Pasangan calon yang akan menjadi pesaingnya adalah Sudirman Said dari Gerindra dengan Ida Fauziyah dari PKB sebagai calon wakil gubernurnya.

Pasangan BERGAYA (Ganjar-Yasin) diusung oleh koalisi lima partai, yakni PDI-P (27 kursi DPRD provinsi), Golkar (10 kursi), Demokrat (9 kursi), PPP (8 kursi), dan Nasdem (4 kursi). Total 58 kursi DPRD. Sedangkan pasangan Sudirman-Ida didukung koalisi empat partai, yakni Gerindra (11 kursi), PKS (10 kursi), PAN (8 kursi), dan PKB (13 kursi). Total 48 kursi.

Majunya Gus Yasin mendamping Ganjar sontak memunculkan berbagai asumsi berbagai pihak, khususnya warga NU dan pesantren. Bayangan yang pertama muncul adalah, mengapa putra Mbah Maimoen yang notabene berasal dari dunia pesantren dan sangat kental aroma Islamnya malah berdampingan dengan Ganjar Pranowo yang merupakan kader PDIP yang selama ini dikenal sebagai partai nasionalis?

Dari asumsi inilah akhirnya muncul pendapat dan komentar beragam dari masyarakat khususnya kaum santri sendiri. Ada yang langsung sam’an wa tha’atan dengan dhawuh kyai tanpa harus berfikir panjang dahulu. Cukuplah keilmuan dan keberkahan dari sosok KH Maimoen Zubair menjadi dalil bahwa keputusan mendampingkan Gus Yasin dengan Ganjar Pranowo pasti ada hikmahnya tersendiri.

Di sisi lain, banyak juga kalangan khususnya santri yang melihat dengan sekat ‘kepartaian’. Ganjar berasal dari kubu PDIP yang dianggap partai nasionalis-sekuler, sehingga sikap pesimistis muncul untuk memilih pasangan Ganjar-Yasin karena dianggap tidak ada harapan perubahan sama sekali di dalamnya. Apalagi Ganjar sampai sekarang masih terlilit dengan kasus E-KTP yang menjadikan namanya diragukan orang banyak.

Penulis sebagai warga pesantren dan muhibbin (pecinta) ulama dan kyai dalam hal ini mencoba memberikan pandangan yang semoga saja moderat dan tengah-tengah, untuk mengurai ‘benang kusut’ yang sangat berpotensi muncul agar suara umat Islam dapat kembali bersatu tanpa memandang sekat kepartaian dan organisasi.

Sebelumnya perlu ditandaskan, bahwa sistem politik yang berlaku di negara Indonesia tercinta ini merupakan sarana penting dan bersifat  konstitusional. Seorang Muslim yang berkecimpung dalam politik dan pemerintahan hendaknya selalu membawa niat li i’lai kalimatiLlah dalam tiap usahanya. Begitu pula umat Islam sebagai pemegang hak pilih untuk selalu memilih calon wakil rakyat yang diharapkan mampu mengakomodasi pelaksanaan yang pro terhadap kesejahteraan rakyat.

Dalam kasus Pilgub Jateng 2018 ini, dalam pandangan penulis kebijakan KH Taj Yasin Maimoen menggandeng Ganjar Pranowo merupakan keputusan yang cukup rasional memandang beberapa hal.

Pertama, Jawa Tengah adalah basis PDIP yang dianggap sebagai partai nasionalis sehingga dengan adanya Gus Yasin yang berasal dari kalangan pesantren dapat menjadi “pengimbang kekuatan” dan “pembimbing kebijakan” agar akomodatif dengan Syari’ah Islam. Dalam perspektif ini, maka Islamisasi dan penegakan Syari’ah mendapatkan peluang yang besar jika pasangan Ganjar-Yasin menang, karena memungkinkan keluarga pesantren Sarang khususnya Romo Kyai Maimoen Zubair mewarnai kebijakan pemerintahan secara lebih leluasa.

Meskipun demikian, di dalam kubu Sudirman-Ida sebenarnya peluang Islamisasi juga tidak kalah dengan pasangan rivalnya. Hal ini karena pasangan Sudirman-Ida didukung oleh partai-partai yang selama ini memang getol menyuarakan penegakan Syari’ah dan kedaulatan rakyat. Apalagi tren politik di beberapa daerah lain kemesraan Gerindra-PKS-PAN banyak mencuri perhatian dan suara masyarakat, terbukti dengan kemenangan Anies-Sandi dalam Pilgub DKI.

Kedua, karena suara PDIP dan partai-partai lain yang seirama dengannya biasanya unggul di daerah Jawa Tengah ini, maka pasangan Ganjar-Yasin berpeluang lebih besar untuk menang dibandingkan pasangan Sudirman-Ida.

Meski demikian, di kubu Sudirman-Ida juga tidak bisa dianggap remeh apalagi mulai banyak simpatisan partai lain yang berhijrah ke Gerindra dan PKS karena keduanya dianggap lebih pro terhadap penegakan Syari’ah dan kepentingan rakyat. Kasus Pilgub DKI memiliki pengaruh kuat terhadap cara pandang pemilih di daerah lainnya.

Dalam hal kursi DPRD pasangan Sudirman-Ida juga memiliki 42 kursi, angka yang cukup besar yang tidak bisa dianggap kecil oleh simpatisan Ganjar-Yasin.

Ketiga dan ini menurut penulis sangat penting, kebijakan menyandingan KH Taj Yasin Maimoen dengan Ganjar Pranowo seakan merupakan isyarat dari Romo Kyai Maimoen Zubair untuk mendamaikan antara dua kubu yang selama ini terlihat frontal dengan mencolok sekali. Beliau dalam pandangan penulis seakan ingin menunjukkan bahwa marilah kita meninggalkan atribut kepartaian dan keorganisasian kita, mari kita tegakkan prinsip al-Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaihi bersama-sama, baik antara nasionalis dan islamis, antara santri dan bukan santri, antara yang tahlil dan yang tidak tahlil.

Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa KH Taj Yasin Maimoen akan menghadapi tantangan yang sangat besar dalam usaha mewarnai kebijakan pemerintahan dengan ajaran Syari’ah Islam karena bersandingan dengan partai-partai berhaluan nasionalis. Karena itu wajar sekali jika beberapa tokoh dan kalangan masyarakat mengkhawatirkan posisi Gus Yasin ini nantinya bukannya mampu mewarnai namun malah terseret arus sekularisasi.

Bagaimanapun pula, melihat beberapa argumentasi yang telah dipaparkan di atas, maka penulis meyakini bahwa pemilihan salah satu dari dua pasangan yang ada baik Ganjar-Yasin maupun Sudirman-Ida sama-sama memiliki peluang yang boleh dikatakan sama kuatnya. Keduanya memiliki plus minus yang hampir sama. Semoga pendapat penulis ini berada dalam jalur yang benar dan tengah-tengah. Aamiin.

Penulis disini tidak ingin mengajak pembaca untuk memilih satu pasangan calon sesuai yang dikehendaki penulis. Semuanya penulis serahkan kepada pembaca yang budiman. Kalau Anda merasa pasangan Ganjar-Yasin lebih baik maka silahkan Anda pilih, sebaliknya jika Anda merasa pasangan Sudirman-Ida lebih baik maka silahkan Anda pilih.

Yang ingin penulis tekankan adalah pesan KH Maimoen Zubair tentang persatuan dan kesatuan bangsa dan umat Islam ini. Siapapun yang nantinya menang apakah pasangan Ganjar-Yasin ataupun pasangan Sudirman-Ida, maka sangat diharapkan bagi kubu yang belum menang untuk selalu mendukung usaha menegakkan Syari’ah dari kubu yang menang dan selalu mencari kesepakatan dan kesepahaman agar suara umat Islam selalu bersatu dan tidak terpecah belah.

Tentu hal ini tidak hanya ditujukan kepada praktisi pemerintahannya saja, bahkan masyarakat yang semestinya selalu diingatkan tentang hal ini karena benih-benih pertikaian dan saling caci-maki yang terlihat mencolok sekarang ini berasal dari kaum grass root apalagi yang sering menggunakan media sosial. Bagaimanapun radikalisme maupun liberalisme, anarkisme maupun sekularisme, merupakan masalah bersama yang harus diatasi bersama.

Terakhir, sangat patut direnungkan bersama petuah dari Romo Kyai Maimoen Zubair berikut. “AlhamduliLlah, saya itu NU tenan (asli) tapi tidak seperti NU-nya orang kebanyakan. Karena saya mengerti, nanti yang ditanyakan bukan NU, tapi wa man ikhwanuka (siapa saudaramu), bukan siapa kumpulanmu. Al-muslimun wal muslimat kulluhum ikhwani (orang Islam laki-laki dan perempuan semuanya saudaraku).” WaLlahu a’lam. []

Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi di luar tanggung jawab redaksi.

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...