Memilih dalam Pilihan

Foto: Google
0

Oleh: Amalia Ika Paristu
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

APAPUN yang kita pilih di dunia ini ujungnya adalah tanggung jawab. Memikul tanggung jawab apapun pasti melelahkan. Tidak ada hidup yang tidak melelahkan. Semuanya pasti berujung pada kelelahan. Yang membedakan hanya bagaimana seseorang memahami dan menghargai hidupnya dengan kebaikan. Hanya itu yang membedakan.

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir,” (QS. Ali-Imran: 140-141).

Allah SWT menjelaskan, bahwa pada dasarnya orang kafir maupun orang Mukmin itu sama-sama mengalami rasa capek, kelelahan, kesakitan. Tetapi yang membedakan antara orang Mukmin dengan orang kafir ialah bahwa meski sama-sama sakit, sama-sama lelah, orang Mukmin mengharapkan semua itu ada balasan pahalanya di sisi Allah. Sementara orang-orang kafir tidak bisa mengharapkan balasan pahala tersebut dari Allah SWT.

Hidup hanyalah kesempatan untuk membuat pilihan –pilihan. Segalanya digulirkan dan digilirkan.
Setiap manusia lahir, hidup, lalu mati. Kecil, akhirnya membesar. Muda, lama-lama tua. Muncul kesenangan, terkadang berganti kesedihan. Sehat dan sakit. Semua fana. Semua pasti selalu berubah, bergerak, dan berjalan. Tetapi semuanya akan berhenti dan berakhir.

Rasulullah saw dalam hadist shahih menyebutkan, “Orang yang cerdas itu adalah orang yang mengendalikan dirinya dan mempersiapkan hidup setelah mati.”

Coba kita bertanya pada diri sendiri, apa yang kita cari dalam hidup ini? Jawablah pertanyaan itu dari sudut pandang yang kita mau. Dari sudut kekayaan, harta benda, materi, dan keduniaan. Dari sudut popularitas, jabatan, kehormatan, penghargaan, dan kemuliaan. Atau dari sudut mana pun yang lainnya yang kita mau.

Tanyakan lagi, tentang kematian yang merupakan fase pasti setelah kehidupan. Jika kita berorientasi pada kekayaan, harta benda, materi, dan keduniaan. Tanyakanlah apa dampak itu semua pada fase kehidupan setelah kematian?

Kehidupan memang sebuah bentangan jalan yang akan berakhir. Kematian pasti terjadi siapapun kita. Sebesar apapun kuasa dan jabatan kita. Seluas apapun milik kita. Sekuat apapun perlindungan kita. Begitu mahalnya nilai hidup. Karena itu, setiap orang harus memberi pilihan yang tepat untuk mengisi hidup.

Pilihan dalam hiduplah yang akan menentukan siapa kita
Pilihan dalam hidup juga yang akan menentukan kemana kita nantinya.
Pilihan hidup juga yang akan menetapkan seluruh akibat yang harus kita jalani nantinya.
Setiap hari umur bertambah, usia berkurang. Hal itu berarti kematian kian dekat. Tak ada pilihan lain, kecuali kita harus memilih jalan hidup yang benar. Wallaahu a’lam []

loading...
loading...