ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Memaknai Wawasan Kebangsaan yang Sesungguhnya

Foto hanya ilustrasi
0

Oleh: Elda Widya I. K.
Mahasiswi Fakultas Sains dan Tekhnologi Universitas Airlangga, elda_widya@yahoo.co.id

 

Presiden RI Joko Widodo menghadiri deklarasi aksi kebangsaan di Nusa Dua, Badung, Bali pada Selasa 26 September 2017. Deklarasi aksi kebangsaan itu dihadiri kurang lebih 3.000 rektor dari seluruh universitas di Indonesia. Dalam deklarasi aksi kebangsaan itu, Jokowi mengingatkan kepada seluruh rektor jangan sampai universitas menjadi lahan penyebaran paham ideologi anti-Pancasila. Jokowi menyatakan, kampus adalah sumber pencerahan. Sangat berbahaya jika kampus menjadi mediasi ideologi-ideologi radikal.

Berbicara tentang wawasan kebangsaan yang diberikan sebagai wujud kepedulian dan cinta terhadap bangsa Indonesia maka seharusnya juga dimaknai dengan bahwasanya kita tidak boleh membiarkan pihak asing melakukan penguasaan, dominasi apalagi sampai melakukan penjajahan terhadap negeri kita ini. Cinta tanah air juga ditunjukkan dengan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya disintegrasi yang dapat memecah belah bangsa.

Perguruan Tinggi sebagai pusat pengembangan teknologi, pengetahuan, dan seni seharusnya obyektif dan proporsional dalam menyajikan pemikiran islam yang kaffah (menyeluruh) dalam diri umat islam. Stigma negatif saat ini diberikan kepada umat islam melalui paham radikalisme. Radikalisme dipahami sebagai suatu paham yang berbahaya yang dikaitkan dengan Islam. Padahal, jika kita lihat definisi aslinya, radikalisme merupakan gabungan dari dua kata yaitu radikal dan –isme.

Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya perubahan mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) atau dalam bahasa Inggris kata “radic” yang artinya akar atau bisa disebut mengakar. Sedangkan, -isme adalah imbuhan yang bermakna paham, pikiran, atau paradigma. Sehingga dari definisi tersebut, radikalisme adalah paham, pikiran, atau paradigma yang mengusung perubahan mengakar atau menyeluruh.

Jika paham yang dimaksud adalah islam maka seharusnya tidaklah salah jika seseorang itu paham akan keislamannya secara menyeluruh, karena memang harusnya kita paham sesuatu itu sampai kepada akarnya. Justru, seharusnya Perguruan Tinggi sebagai pusat pengembangan teknologi dan pengetahuan mengajak umat untuk mewujudkan islam dalam realitas kehidupan masyarakat dan berguna untuk mengatasi masalah di negeri ini. Maka dari itu sungguh aneh bila ada yang mengatakan kampanye syariah islam kaffah justru akan berpotensi memecah belah bangsa.

Lawan deradikalisasi dengan menyampaikan kebenaran ajaran islam kaffah dan metode shohih penerapannya sehingga mahasiswa tidak terjebak aksi kekerasan. Bukan sebaliknya program deradikalisasi justru sebagi jurus jitu pembungkaman suara kritis mahasiswa.

Indonesia akan menjadi negara maju terdepan di kancah internasional jika membuka diri terhadap aspirasi rakyat, ulama dan intelektusl dan ormas Islam yang terus menyerukan pelaksanaan ajaran Islam demi keberkahan negeri ini. Bukan justru bersikap represif menutup pintu diskusi dengan dalih “melawan radikalisme.

Saatnya mahasiswa muslim ada di garda terdepan, memperjuangkan tegaknya kebenaran berlandaskan identitas hakiki sebagai hamba Allah. Mengembalikan kejayaan negeri, menghapuskan kedzaliman tanpa basa-basi. []

OPINI ini adalah kiriman pembaca Islampos. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos. Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri.

loading...
loading...