SEBETULNYA agak males menuliskan ini, namun harus saya tulis sebagai pengingat diri.
Minggu lalu, mesjid dekat rumah kami kedatangan jamaah baru. Penjual kasur gulung yang mencari tempat untuk berteduh, sudah dua hari 5 kasurnya tak kunjung laku. Makan pun katanya pemberian orang lain.
BACA JUGA: Ketika Kita Mengeluh
Baru saja ketemu orang yang bernasib serupa, seorang penjual sendal kulit, sudah satu minggu baru laku 2 buah sendal. Hari ini sampai pukul 20.30 belum ada yang laku terjual.
Di saat kita terhibur dengan hingar bingar “hiburan” yang tak lucu sama sekali (tak usah disebut lah ya, kita tahu sama tahu saja), puluhan bahkan ratusan ribu kepala keluarga bernasib sama seperti penjual kasur dan penjual sendal tadi.
Bahkan seorang kawan harus meringis ketika bisnis yang sudah dibangun lama mengalami krisis yang berkepanjangan, sekadar untuk makan saja sulit bukan alang kepalang.
Padahal dalam Hirarki-nya Maslow, kebutuhan makan adalah yang paling mendasar. Jika hal ini tak terpenuhi, akan banyak masalah terjadi.
Mungkin bagi sebagian kita yang masih bisa ke emol dengan memakai tas dan sepatu merk luar negeri, kita bisa buka bisnis dengan suntikan dana fantastis, kita bisa menikmati berbagai fasilitas mewah yang didapatkan karena merasa itu hak kita sebagai konvensasi dari sebuah jabatan. Nasib kedua pedagang tadi bukanlah urusan kita, iya kan?
Tapi dari situ saja sudah memperlihatkan manusia seperti apa kita ini? Ah mungkin ada yang bilang, kita? Loe aja kali, gue sih kagak!
Satu hal yang kami sampaikan kepada pedagang itu ketika mereka mengeluh, “Pak ,Bu semakin hari mencari uang itu semakin sulit, nggak kayak dulu, bisa membawa uang cukup ke rumah sisa makan dan bayar kontrakan.”
BACA JUGA: HP yang Jatuh
“Mang, jangan banyak mengeluh, syukuri apa yang kita miliki, apa pun yang terjadi tetaplah berjuang, tak usah berpikir hasil nya berapa yang bisa dibawa ke rumah, ikhtiar saja, semoga barang dagangannya laku semua,” tukas kita.
Satu hal yang kadang dilupakan ketika hidup sudah di posisi nyaman, urusan perut orang-orang kecil yang karena sedikit pengetahuannya bisa diperdaya dengan recehan. []
Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word














