Mahasiswa Kutu Buku

Foto: Siasat
0

Oleh: Muhammad Daud Farma, [email protected]

 

MAHASISWA kutu buku, mungkin itulah kata yang paling pantas untuk mendeskripsikan mahasiswa/i Indonesia di Mesir atau lebih dikenal dengan Masisir. Masisir tidak terlepas dari yang namanya buku atau kitab. Menjadi aib bagi mereka pulang ke tanah air tanpa membawa kitab satupun, apalagi tidak membawa ilmu. Memiliki kitab yang banyak merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Biasanya setiap mahasiswa berlomba-lomba memenuhi rak-rak rumah mereka dengan buku. Akan tetapi, tidak semuanya seperti itu, mungkin hanya 85 persen yang suka belanja buku dan selebihnya lagi suka menghabiskan jajan pada hal yang lain.

Selain belanja buku dan dikirim ke tanah air melalui kapal laut, ternyata ada juga mahasiswa-mahasiswa yang menghasilkan buku sendiri dan ia hanya mengirim bukunya via e-mail, bukan kapal laut apalagi pesawat. Ya, mereka adalah seorang penulis. Naskah mereka dikirimkan kepada penerbit di Indonesia dan bukunya pun mejeng di Gramedia serta dibaca banyak orang. Hal seperti Ini sudah tidak langka lagi di Mesir.

Di Mesir, harga buku lebih mahal daripada biaya hidup. Tidak percaya? Akan saya jelaskan rinciannya. Ada sebuah buku berjudul (Ilmu Ma’ani : علم معاني dan Syarh Qothrunnada : شرح قطر الند ) Harga satu bukunya 50 Le. (Egypt Pounds) atau setara dengan Rp.100.000 lebih.

Bayangkan saja, harga sebuah buku setara dengan belanja untuk satu bulan, bahkan mungkin lebih mahal. Ya, kalau ngirit beli ful tiap harinya, tentunya bagi siapa yang hobi saja. Jujur, saya kurang minat. Namun, karena kitab adalah kebutuhan dunia dan akhirat, maka terkadang ia jauh lebih penting daripada memanjakan perut yang minta ngemil.

Walaupun harga kitab di sini semakin mahal tiap tahunnya, akan tetapi antimo Masisir untuk membelinya tidak surut. Sekarang harganya 50 pounds, bisa jadi tahun depan 75 pounds atau bahkan 100 pounds.

“Hantam saja bah,” kata teman saya dengan logat bataknya.

Novelnya Andrea Hirata, Laskar Pelangi juga dijual di Mesir, tentunya edisi terjemahan bahasa Arab. Ternyata buku tersebut juga laris di Mesir, mengikuti suksesnya di Indonesia. Begitulah hebatnya seorang penulis yang menghasilkan buku. Ilmunya bakalan dibaca jutaan orang di seluruh penjuru dunia. Maka tidak jarang kita temui Masisir yang berkarya, untuk umat dan khususnya untuk Indonesia tercinta.

Oleh karena itu, kita semua para Mahasiswa, mulailah suka membeli dan membaca buku. Kalau tidak sempat membacanya sekarang , beli saja dulu. Suatu saat nanti kita pasti akan memerlukannya dan mengambil manfaat dari buku tersebut.

Mulailah sedikit menyicilkan uang saku untuk membeli buku. Buku bukan hanya novel saja, banyak jenis buku lainnya. Tinggal menyesuaikannya dengan hobi dan minat kita.

Dengan banyak membaca, tentunya akan banyak yang terlupakan, begitu pun sebaliknya. Sedikit membaca sedikit pula yang dilupakan dan kalau tidak pernah membaca sama sekali, apa yang mau dilupakan?

Ilmu itu tidak hanya didapatkan dari guru, ada kalanya kita harus belajar sendiri. Karena guru tidak selalu berada di sisi kita, guru tidak terus-terusan di dalam kelas bersama kita dan menerangkan pelajaran. Tidak!

Oleh karenanya kita harus bijak untuk belajar mandiri. Salah satunya ialah dengan banyak membaca buku. Toh suatu saat nanti kita juga menjadi seorang guru, paling tidak menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga.

“Mari tanamkan dalam diri kita untuk hobi membeli buku dan membacanya”

“Jika kamu ingin melihat dunia , membacalah.

Jika kamu ingin dilihat dunia, menulislah.”

Semoga Allah memudahkan proses kita dalam belajar, dan membawa manfaat bagi umat terutama bagi diri sendiri dan keluarga. Namin yang terpenting adalah tidak lupa untuk mensyukuri nikmat-Nya yang melimpah ruah. []

loading...
loading...