ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Hati-hati, Jangan Sakiti Tetangga

0

Advertisements

Orang yang tidak beriman ialah orang yang menyakiti tetangganya. Maka, jagalah lisan dan perbuatan yang akan menyakiti perasaan orang lain.

KITA mungkin sering mendengar bahwa lisan itu tajam bagaikan pedang. Mengapa? Sebab, lidah yang tak bertulang ini sangat mudah sekali mengeluarkan kata-kata yang tidak mengenakkan. Di mana kata tersebut dapat menyakiti perasaan orang lain. Sehingga, orang yang tersakiti itu bisa jadi menjadi penghalang keberkahan hidup kita.

Kita harus bisa menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak baik terhadap orang lain. Termasuk, salah satunya kepada tetangga. Sebab, tetangga adalah orang terdekat kita. Kita sangan membutuhkan keberadaannya. Karena, kita tak bisa melakukan sesuatu seorang diri. Tentu kita memerlukan orang lain untuk membantu masalah kita.

Tidak menyakiti dengan ucapan atau perbuatan merupakan salah satu etika yang harus kita terapkan terhadap tetangga. Sebab, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia jangan menyakiti tetangganya,” (Muttafaq alaih).

Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah orang yang tidak beriman, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya,” (Muttafaq alaih).

Sabda Rasulullah ﷺ, “Wanita tersebut masuk neraka.”

Sabda di atas ditujukan Rasulullah ﷺ kepada wanita yang konon berpuasa di siang hari dan qiyamul lail di malam hari, namun ia menyakiti tetangganya.

Dapat kita ketahui bahwa orang yang tidak beriman ialah orang yang tidak bisa menjaga ucapan dan perbuatannya dengan baik terhadap tetangganya. Sehingga, ada tetangga yang tersakiti karenanya. Dan inilah yang menyebabkan amalan ibadah kita belum tentu diterima oleh Allah SWT.

Oleh sebab itu, jagalah lisan dan perbuatan kita. Sebelum berbicara dan bertindak, pikirkan terlebih dahulu. Jika dirasa ucapan dan perbuatan itu menyakitkan, lebih baik jangan dilakukan. Tetapi, jika dirasa tidak ada masalah, maka tak mengapa jika diutarakan. Sebab, lebih berhati-hati dalam berucap dan berbuat itu lebih baik bagi kita agar terhindar dari penyesalan sepanjang hidup. Wallahu alam. []

Referensi: Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim/Karya: Abu Bakr Jabir Al-Jazairi/Penerbit: Darul Falah

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline