ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Laporan: Militer Myanmar Lakukan Pelanggaran Sistematis terhadap Muslim Rohingya

Foto: Al Jazeera
0

YANGON – Militer Myanmar melakukan pelanggaran sistematis terhadap Muslim Rohingya selama operasi mereka di Negara bagian Rakhine. Demikian menurut sebuah laporan yang dirilis Senin 27/2/2017), dilansir oleh Kaladan Press Network, sebuah kantor berita Rohingya independen yang berbasis di Bangladesh.

Menurut laporan yang berdasarkan wawancara dengan 21 perempuan Rohingya yang melarikan diri dari daerah Maungdaw ke negara tetangga Bangladesh itu, ada pemerkosaan pada lebih dari 70 perempuan Rohingya dan anak perempuan oleh pasukan keamanan Myanmar terjadi sejak awal Oktober,

Hampir semua perempuan yang diwawancarai kehilangan suami mereka. Setengah dari mereka adalah anak-anak, dalam aksi kekejaman mengerikan.

Pemerintah Myanmar mengatakan sedikitnya 106 orang telah tewas dalam operasi keamanan yang diluncurkan setelah serangan fatal terhadap pos-pos polisi 9 Oktober lalu di dekat perbatasan.

Namun, kelompok advokasi Rohingya mengklaim sekitar 400 Rohingya, tewas, wanita diperkosa dan desa-desa Rohingya dibakar.

“Dari 21 perempuan yang diwawancarai, 15 wanita, dari delapan desa, secara pribadi mengalami atau menyaksikan kekerasan seksual,” kata laporan tersebut. Laporan ini juga memberikan rincian yang mengerikan akan kekejaman tentara dan polisi Myanmar.

“Setidaknya 70 perempuan dan anak perempuan diperkosa, dibawa pergi untuk diperkosa, atau ditemukan setelah diperkosa oleh kelompok tentara dan milisi.”

Kaladan menambahkan bahwa insiden tersebut sebagian besar terjadi ketika para perempuan berkumpul di bawah todongan senjata di luar desa mereka.

Laporan ini menggarisbawahi bahwa kesamaan dalam kesaksian perempuan Rohingya menunjukkan pola yang jelas adanya pelanggaran terhadap warga sipil dalam skala luas.  Sehingga hal ini memberikan bukti kuat bahwa pelanggaran sedang dilakukan secara sistematis.

“Pihak berwenang Myanmar menyembunyikan kebenaran pada setiap tingkat,” ungkap Razia Sultana, seorang pengacara Rohingya yang melakukan wawancara untuk laporan ini dalam siaran persnya. [fq/islampos]

loading...
loading...