ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Kunci Persatuan: Mufakat Firasat

0

 

• Mengapa Nicolaus Copernicus menyembunyikan teori ilmuwan Arab Muslim di balik observasi bentuk bumi dan gerak benda langit?

• Mengapa kerajaan-kerajaan Islam di bumi Andalusia memilih saling memerangi, bahkan hanya karena soal sastra, hingga mereka tak menyadari ancaman besar dari pihak luar siap bertindak kejam?

• Mengapa Khalifah terakhir Baghdad terlampau mempercayai orang dekatnya, yang ternyata bersekutu dengan Hulagu Khan, sampai akhirnya Baghdad pun dihancurkan dengan tragedi memilukan?

• Mengapa Hamka begitu mengagumi dan memberikan pujian tulus atas sosok Tan Malaka?

• Mengapa Bung Tomo begitu yakin, Sukarno akan segera bertindak otoriter manakala sang proklamator ini hendak menikah lagi? Mengapa Erdoğan teranggap murid gagal dan aktivis Ikhwan yang mesti dibuang?

Tiap sejarah dalam rentang masa itu memiliki benang merah. Ada tindakan yang mestinya bisa diperbuat agar kejadian itu tak terjadi. Dan tindakan itu memerlukan kecerdasan mengelola kumulasi pikiran, pengalaman, dan tentunya keimanan. Husnuzhan, dan tsiqah acap berkembang dan diharuskan hadir di tubuh gerakan islamis. Baik untuk hadapi tantangan internal dan lebih-lebih eksternal kelompok. Firasat, dalam telaah Yusuf Maulana, beranjak untuk “memulihkan” anggapan keharusan husnuzhan dan tsiqah dalam berharakah. Firasat adalah ekstensi untuk husnuzhan dan tsiqah yang kritis. Memadukan prasangka baik dan penyiapan atas kemungkinan tak pasti atau bahkan turbulensi di gerakan.

Ketika kebaikan menyangka dikemukakan, dan bertemu dengan banyak orang, jadilah sebuah kekuatan. Meski berbeda pandangan, ketika firasat yang dihadirkan, maka mufakatnya menjadi gelombang mengejutkan sekaligus memesonakan. Gerakan Aksi Bela Islam sekadar contoh untuk menunjukkan betapa berbeda aliran pemikiran hingga metode gerakan berislam dapatlah dirujukkan manakala mufakat firasat ditumbuhkembangkan. Dari sini, akhirnya saya bisa memahami mengapa bentang sejarah dalam tanya di atas mesti dijawab.

Buku Yusuf, yang juga redaktur ahli IslamPos, ini dirilis resmi 17 Maret, bertepatan dengan wafatnya Ibnu Khaldun, penulis Kitab al-Ibar, yang pengantarnya dikenal luas (Muqaddimah).

“Menyejukkan. Buku yang penuh berwawasan ini seharusnya menjadi bahan bacaan bagi para pengkaji Islam di Nusantara secara amnya dan bagi para aktivis gerakan Islam. Yusuf Maulana adalah cendekiawan muda yang harus diambil serius kerana beliau tergolong daripada segelintir penulis yang dapat mengungkap isu-isu genting di Nusantara pada zaman ini.” Demikian dikatakan Khairudin Aljunied, (PhD SOAS, London), associate professor di National University of Singapore, ketika menjadi pembaca ahli buku ini.

Buku ini memadai untuk jadi teman bacaan muslimin yang meminati perjalanan sejarah umat. Menariknya, buku ini bersifat terbuka, dalam arti bisa dibaca dalam berbagai kajian. Buku ini oleh penulisnya bukan dimaksudnya sebagai buku sejarah belaka, namun juga mengkaji pergerakan Islam, sosial, politik, psikologi, dan ranah pemikiran. Disajikan dengan bahasan bergaya bercerita, tema “berat” ditulis dengan bahasa populer, tanpa melupakan kedalaman kajiannya.

Pemesanan buku ini melalui: 0813-2838-7240 []

loading...
loading...