Kunang-kunang Membantu Ibu

0

SETIAP pagi sebelum berangkat ke sekolah, kunang-kunang terbiasa membantu ibunya berjualan kue. Kunang-kunang memang tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, ibu kunang-kunang berjualan kue. Selain itu, hasil berjualan kue juga dipergunakan untuk biaya sekolah kunang-kunang.

Kunang-kunang biasanya berjualan pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah dan sore sebelum malam tiba. Akibatnya bisa ditebak, kunang-kunang hampir tidak pernah punya waktu untuk belajar dan menghafal pelajarannya. Ketika di sekolah, pelajaran dimulai, kunang-kunang biasanya ngantuk. Maklum, ia kecapean. Dan pada malam harinya, biasanya kunang-kunang juga langsung tertidur. Begitu terus setiap hari.

Pada suatu hari, karena berjualan dulu, kunang-kunang datang terlambat datang ke sekolah. Kunang-kunang panik. Ia memberi salam kepada ibu guru dan segera masuk. Ternyata pagi itu sedang ada ulangan harian. Dengan tergesa-gesa, kunang-kunang segera mengerjakan ulangan hariannya. Kunang-kunang benar-benar lupa kalau hari itu ada ulangan. Seperti biasanya ia tidak belajar, dan akibatnya, kunang-kunang tidak bisa mengerjakan sebagian besar isi ulangan itu. Ketika semua teman-temannya sudah keluar ruangan kelas, kunang-kunang tertunduk. Ia merasa takut.

Akhirnya karena lama sekali dan waktu ulangan pun sudah habis, ibu-ibu guru kupu-kupu menghampiri kunang-kunang. “Kenapa kau belum juga menyelesaikan soal-soal ulanganmu, kunang-kunang?”

Kunang-kunang terdiam. Ia tak berani menatap wajah ibu guru.

Ibu guru meraih lembar kertas kunang-kunang, kemudian berkata, “Wah, ulangan kamu banyak yang belum diisi, kunang-kunang…..”

Kunang-kunang tidak menjawab juga.

Ibu guru tersenyum. “Kamu kenapa tadi kesiangan, kunang-kunang?”

Dengan malu-malu dan sedikit takut, kunang-kunang menjawab, “Saya tadi berjualan kue dulu, Bu Guru…..”

“O begitu ya….” Kata Bu Guru, “kamu juga tidak belajar ya?”

Kunang-kunang menggangguk.

Ibu Guru duduk di kursi depan Kunang-kunang. “Kunang-kunang, Ibu tahu kalau kamu setiap hari berjualan kue membantu ibumu. Itu bagus dan perbuatan amat mulia.

Ibu senang sekali. Tapi kau juga harus ingat, bahwa kau masih punya tugas yang lain yang juga mulia, yaitu belajar. Supaya kamu pintar. …”

“Tapi Bu Guru, saya hampir tidak punya waktu untuk belajar…”

Ibu Guru mengangguk-anggukan kepalanya lagi. “Ibu Guru mengerti. Kamu pasti kecapekan sehabis berjualan. Tapi coba kau bilang sama ibumu yah, kalau kamu juga perlu waktu untuk belajar di rumah. Supaya kamu tidak ketinggalan sama teman-temanmu. Supaya kamu juga pintar. Coba kau minta ibumu mengatur waktu berjualan, misalnya kalau pagi, jualan kuemu jangan terlalu banyak dulu. Terus kamu teruskan sebentar setelah pulang sekolah. Setelah itu kamu belajar sebelum istirahat siang hari. Nah, pas malam harinya, kamu coba juga mengatur waktumu untuk belajar juga. Kamu juga hrus istirahat yang cukup….”

Kunang-kunang mengangguk, “Aku mengerti, Bu Guru. Terima kasih atas nasihatnya….”

Sore itu, ketika sedang santai Kunang-kunang mendekati ibunya, “Ibu,….”

“Ada apa, Nak….”

“Ibu tadi aku mendapat nasihat dari ibu guru di sekolah. Kata beliau aku harus banyak belajar juga di rumah…..”

Ibu kunang-kunang menarik nafas. Ia mengerti. “Apa lagi katanya…..?”

“Nilai ulanganku tadi jelek sekali. Aku juga biasanya sering kecapekan dan ngantuk di sekolah. Kiata Bu Guru, bagaimana kalau pagi hari jualan kueku tidak terlalu banyak dulu, Ibu? Supaya aku segar di sekolah. Aku juga ingin membantu Ibu, tapi aku juga ingin jadi anak pintar. Kalau aku pintar, aku bisa sekolah yang tinggi dan membantu ibu ….”

Kali ini, ibu kunang-kunang tersenyum. “Ya, anakku… Ibu minta maaf kalau selama ini banyak membebanimu. Mulai saat ini, ibu akan mengatur waktu jualanmu ya, supaya kamu bisa punya waktu belajar di rumah yang cukup….”

Kunang-kunang senang sekali. Sekarang, setiap malam, kunang-kunang bisa belajar dulu sebelum tidur. Dan kalau di sekolah pun kunang-kunang tidak pernah mengantuk lagi. Kunang-kunang sangat berterima kasih kepada Bu Guru dan Ibunya tercinta. [ ]

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline