ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Konferensi Internasional tentang Fatwa dan Problematika Kontemporer Hasilkan 10 Rekomendasi

0

Advertisements

JAKARTA—Konferensi Internasional Tentang Fatwa dan Problematika Kontemporer digelar di Jakarta, 20-22 Juli 2018. Konferensi yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta telah menghasilkan 10 rekomendasi.

BACA JUGA: Ini 10 Poin Deklarasi Baghdad Hasil Konferensi Internasional tentang Islam Wasathiyyah dan Moderasi Beragama

“Konferensi tersebut telah menghasilkan sepuluh rekomendasi yang di antaranya menekankan agar senantiasa ada hubungan dan koordinasi di antara lembaga-lembaga fatwa di dunia Islam seiring terus munculnya masalah-masalah baru,” kata Sekretaris Panitia Pelaksana, Dr Andi Hadiyanto MA melalui siaran pers-nya, Senin (23/7/2018).

Andi menambahkan, fatwa harus menjadi pengetahuan yang independen, tidak terkait dengan kepentingan politik dan sebagainya.

“Konferensi itu juga merekomendasikan, hendaknya ilmu tentang fatwa diajarkan di kampus-kampus dan pondok-pondok pesantren, khususnya pondok-pondok pesantren yang mengkader calon hakim agama, imam masjid dan penceramah,” ujarnya.

Konferensi yang berakhir pada Ahad (22/7/2018) tersebut menampilkan nara sumber para ulama terkemuka dari berbagai negara. Baik negara-negara di Timur Tengah, Australia, Rusia, Ukraina, dan Indonesia. Konferensi diakhiri dengan jamuan makan siang oleh Dubes Qatar untuk Indonesia, Ahmad Bin Jassim Mohammed Ali Al-Hamar.

Para peserta yang hadir pada jamuan makan siang tersebut adalah Ketua Umum MUI Provinsi DKI Jakarta, KH A  Syarifuddin Abdul Ghani  MA, beserta jajaran panitia; Prof Syeikh Abdurazak Abdurahman Assa’di  (Rusia),  Prof  Dr   Muhammad Rawasydah  (Yordania),  Prof  Adnan Assaf  (Yordania),  Syekh Dr  Sa’dudin al Kabi (Libanon), dan Dr  Rasyid al Haritsy (Oman).

BACA JUGA: Konferensi Internasional Wasathiyyah Hasilkan Deklarasi Baghdad

Selain itu, hadir pula Dr   Haj Abdullah Dulabi  (Iran),  Syeikh Bilal Alabdaly (Irak), Syeikh Hasan Almanshuri (Irak), Dr  Abdul Hamid Hilali (Maroko),  Dr  Fuad Assufy (Yaman), Dr Fuad Assufy (Yaman),  dan  Dr  Muhammad Jawad As`ady (Iran). []

SUMBER: REPUBLIKA

Artikel Terkait :

Maaf Anda Sedang Offline