ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ketika Anies Baswedan Berkisah tentang Ayahnya

0

“Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas,” demikian ujar Aneis Baswedan membuka percakapan soal kisah ayahnya yang menginspirasi sang Gubernur Jakarta.

Diambil dari pengalaman hidupnya di akun instagram pribadinya @aniesbaswedan, Ahad (12/11/2017), yang bertepatan dengan Hari Ayah tersebut, Anies menceritakan sosok Ayah dan Kakeknya.

“Namanya Rasyid Baswedan, Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas. Di siang hari bekerja keras, mengajar di sekolah dan kampus. Di malam hari jadi penutur dongeng bagi anak-anaknya. Dongengnya penuh variasi mulai dari yang lucu hingga cerita sedih atau cerita menegangkan. Semua adalah dongeng karangannya sendiri.”

Ia juga menjelaskan, sudah tradisi apabila saat makan mereka sambil menggelar diskusi dan debat termasuk apabila terjadi perbedaan pandangan. Menurut Anies, Ayahnya tidak pernah mengatur pikiran, tetapi lebih ke mengatur cara dan adab dalam mengungkapkan pikiran.

Anies dan Ayahnya juga kerap membersihkan vespa dan menguji mesin sambil membersihkan busi mesin vespa sebulan sekali. Karena vespa adalah kendaraan yang dimiliki Ayahnya untuk mengantar Anies.

Anies juga mengingat pesan kakeknya, Abdurrahman Baswedan : “Kalau mau bebas hantaman ya duduk-duduk santai saja di rumah; kalau berjuang maka tantangan dan hantaman adalah kenormalan”.

Kala Anies masih kecil, keluarganya menempati rumah kakeknya. Mereka, yaitu Ayah, Ibu, dan 3 orang anak menempati sebuah kamar disana. Gubernur DKI tersebut sampai terheran-heran bagaimana bisa sekamar diisi oleh 5 orang.

Pesan kakek yang selalu Anies ingat adalah “Begitu ada waktu senggang maka baca, baca buku apapun. Jangan buang waktu tanpa baca.”

Dalam captionnya di Instagram tersebut, ia juga mengulas pengalaman pamannya yang ditangkap karena menjadi seorang aktivis mahasiswa yang memrotes kebijakan NKK-BKK. Saat pamannya diprotes, Ayahnya rutin menjenguk dengan membawa buku dan makanan.

Postingan Anies kemudian ditutup dengan kalimat “Kakek berpesan pada semua keluarga: jangan pernah khawatir; ini konsekuensi sebuah perjuangan, biasa saja. Berani melawan, maka berani ditahan. Itulah Ayah dan Ayahnya Ayah. Selamat Hari Ayah !! *ABW.” []

 

Namanya Rasyid Baswedan, Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas. Di siang hari bekerja keras, mengajar di sekolah dan kampus. Di malam hari jadi penutur dongeng bagi anak-anaknya. Dongengnya penuh variasi mulai dari yang lucu hingga cerita sedih atau cerita menegangkan. Semua adalah dongeng karangannya sendiri. . Meja makan di rumah jadi saksi ayah mengijinkan anak2nya diskusi & debat, termasuk bila berbeda pandangan dengannya. Beliau tidak mengatur pikiran, tapi mengatur cara & adab dalam mengungkapkan pikiran. . Dengan diboncengkan vespa, Ayah antarkan saya yg masih duduk di bangku SD untuk jadi anggota perpustakaan di Harian Kedaulatan Rakyat. Hari Minggu, sama-sama membersihkan vespa dan sebulan sekali menguji mesin sambil membersihkan busi mesin vespa. . Ayah selalu menjaga semangat utk terus berjuang dan tetap teguh walau ada hantaman. Pesannya: "Kalau mau bebas hantaman ya duduk2 santai aja di rumah; kalau berjuang maka tantangan & hantaman adalah kenormalan". . . Abdurrahman Baswedan, Ayahnya Ayah. Kami sekeluarga, Ayah—Ibu dan tiga anak, menempati satu kamar di rumah Kakek. Kadang2 suka heran, bgmn bisa sekamar diisi 5 orang; tp waktu itu biasa2 saja dan semua enjoy. . Karena serumah, maka saat masih di bangku TK, Kakek selalu jemput dan langsung ajak jalan kaki ke kantor pos. Tiap hari beliau ke kantor pos, kirim surat atau kirim artikel utk koran atau majalah sambil olahraga. Ada sebuah pesan singkat dari Kakek: "Begitu ada waktu senggang maka baca, baca buku apapun. Jangan buang waktu tanpa baca." . Suatu ketika, saya duduk di bangku kelas 4 SD, paman ditangkap karena dia aktivis mahasiswa yg memprotes NKK-BKK. Dari UGM dibawa ke Semarang. Ditahan beberapa bulan oleh Kopkamtib tanpa proses pengadilan dll. Ayah rutin menjenguk bawa buku dan makanan. Kakek ikut mendirikan Republik ini, dan saat-saat anak bungsunya itu ditahan oleh pemerintah republik ini, ia berpesan pada semua keluarga: jangan pernah khawatir; ini konsekuensi sebuah perjuangan, biasa saja. Berani melawan, maka berani ditahan. . Itulah Ayah dan Ayahnya Ayah. Selamat Hari Ayah !! *ABW. . #HariAyah #HariAyahNasional

A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan) on

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...