ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ketika Menjadi Orang Kedua

Foto: Pixabay
0

Oleh: Ratna Dewi Idrus
Penulis buku dan Ibu Rumah Tangga Tinggal di Banjarmasin

JIKA kita merasa menjadi orang kedua dalam hidup ini, baik dari kecintaan orang tua, kapasitas diri atau pun materi, cobalah selami hati lebih dalam, apakah kita di dunia ini ibarat Nabi Harun dan Nabi Musa?

Betapa kita telah mengerti Allah begitu mencintai Nabi Musa, dari sejak ia dilahirkan, Allah telah melindunginya, ditumbuhkan dengan pertumbuhan yang baik dalam istana, dididik oleh bundanya sendiri dan juga permaisuri Asiyah yang penyayang, hingga lengkaplah nikmat itu saat Allah menganugerahkan padanya kebaikan, memersiapkan beliau untuk menjadi Rasul-Nya yang akan menjadi pemimpin Bani Israil yang telah lama tertindas.

Sedangkan Nabi Harun adalah saudara laki-lakinya (kakaknya) yang tidak mendapat keistimewaan itu, melainkan karena permintaan Nabi Musa sendiri saat beliau diangkat menjadi Rasul, Nabi Musa meminta Allah menjadikan Nabi Harun pembantunya untuk berjuang menghadapi Fir’aun karena beliau tidak lancar berbicara. Sedang Harun saudaranya mahir dalam berbicara.

“Musa memohon kepada Allah, Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,” (QS. Thaahaa, 20:29).

Dan Allah pun mengabulkan permintaannya:

“Kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu),” (QS. Al Furqan, 25:35).

Nabi Harun disebut sebagai pembantu, orang yang membantu Nabi Musa. Adakah Nabi Harun merasa rendah atau iri hati atas segala keistimewaan yang Allah berikan pada Nabi Musa?

Jawabannya: Tidak!

Begitu pulalah dengan kita semoga.

Baca Juga: Kekuatan Cerita, Bisa Menginspirasi Buah Hati

Manakala kita melihat orang lain bahagia, kita tak bahagia, itu artinya ada yang salah dalam hati kita. Kita memohon kepada Allah dijauhkan dari sifat iri hati karena sifat ini adalah sifat tercela, ibarat api yang memakan dedaunan dan membakar segalanya.

Rasulullah bersabda, “Jaga dirimu dari penyakit dengki, karena dengki itu melahap amal kebaikan sampai habis bagaikan api memakan kayu bakar,” (H.R. Abu Daud).

Setiap hamba tentulah memiliki keistimewaan, itulah yang menjadi dasar pemahaman Nabi Harun saat beliau diangkat menjadi Rasul guna membantu Nabi Musa.

Hal ini dapat kita ketahui dari permohonan Nabi Musa kepada Allah agar mengangkat Nabi Harun sebagai pembantunya karena kelebihan yang ada pada Nabi Harun. Dengan kelebihan Nabi Harun, Nabi Musa memohon pada Allah: Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, sekutukanlah dia pada urusanku, (QS. Thaahaa, 20:31-32).

Musa memohon Allah meneguhkan kekuatannya dengan adanya Harun, karena Musa merasa memang ia adalah seorang yang kuat, keras hati, keras kepala dan orang segan kepadanya. Musa takut Bani Israil mengikutinya karena takut kepadanya bukan karena keimanan yang sempurna.

Karena itu harus ada seorang yang mampu memberikan penjelasan dengan lidahnya yang fasih, pidato yang menarik, sehingga apa yang disampaikan Nabi Musa diterima kaumnya dengan senang hati. Ini menandakan betapa pentingnya juru bicara untuk menyampaikan sebuah pesan sehingga orang lain tidak menerimanya sebagai sebuah keterpaksaan. Inilah tugas utama Nabi Harun.

Yang kedua, Nabi Musa meminta agar Allah menjadikan Nabi Harun sekutunya di dalam urusan yang penting ini, menghadapi Fir’aun dan memimpin Bani Israil yang akan dibawa keluar dari perbudakan Fir’aun. Dan agar Nabi Musa bersama Nabi Harun bertasbih kepada Allah sebanyak-banyaknya dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya.

Di penghujung doanya Nabi Musa dalam surat Thaahaa, 20 ayat 35 terasa benar betapa Musa penuh harapan, bahwa bersama Harun, tugasnya akan berhasil, hal ini menandakan bahwa beliau mengakui kelebihan Nabi Harun dan menganggapnya sebagai teman kerja bukan sebagai bawahan.

Begitu pulalah kita seharusnya, di saat kita ditawari bekerja menduduki sebuah jabatan atau dengan kata lain menjadi yang kedua, itu karena orang lain memercayai kelebihan kita dan potensi yang ada pada kita. Sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Harun.

Baca Juga: Nabi Musa dan Kantong Berisi 1000 Dinar

Beliau menempatkan dirinya sebagai seorang yang ahli dan berbakat menjadi juru bicara Nabi Musa. Nabi Harun menjalani perannya dengan berusaha keras menjadi seorang yang amanah saat diberikan tugas menjaga Bani Israil ketika Nabi Musa menghadap Allah di bukit Thursina.

Nabi Harun yang lemah lembut tetap berakhlak santun dan baik saat Nabi Musa marah besar padanya dengan menarik janggut dan kepalanya, beliau berkata dengan kalimat yang menyentuh hati Nabi Musa, “Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh bergembira melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zalim,” (QS. Al-A’raaf, 7:150).

Dan di ayat lainnya Allah berfirman: “Wahai putra ibuku! Janganlah engkau pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Aku sungguh khawatir engkau akan berkata (kepadaku), “Engkau telah memecah-belah antara Bani Israil dan engkau tidak memelihara amanatku,” (QS. Thaahaa, 20:94).

Dipanggilnya Musa dengan sapaan “Wahai anak ibuku” kalimat yang lebih mendalam daripada “Wahai adik kandungku” menunjukkan betapa cerdasnya Nabi Harun dalam menyusun kata. Perkataannya yang menyentuh Nabi Musa itu membuat Musa tersadar dengan siapa ia berhadapan dan akhirnya mau mendengar penjelasan Nabi Harun yang telah sedaya upaya mencegah perbuatan kaumnya menyembah patung anak sapi, tetapi karena perawakannya bukan sekuat Nabi Musa, orang-orang tidak memedulikannya, bahkan jika beliau tidak berhenti melarang mereka, beliau akan dibunuh kaumnya.

Harun juga menyadarkan perbuatan Nabi Musa yang menarik janggut dan kepalanya dapat menggembirakan musuh mereka. Hingga Musa tersadar dan meminta maaf padanya serta memohon ampunan Allah.

Nabi Musa sadar akan kekhilafannya. Bersama mereka berdua bekerjasama menuntun Bani Israil ke jalan yang diridhai Allah.

Dari kisah di atas, semoga terbukalah hati kita, bisa mengambil hikmah dari setiap keadaan, bahwa setiap kita punya keistimewaan, bahwa setiap kita punya potensi untuk maju.

Dengan senantiasa berbuat kebaikan, mengupayakan potensi yang ada pada diri, dan memohon pertolongan Allah (mengharap keridhaan-Nya), insya Allah segala jalan dimudahkan-Nya untuk kita, mendapat tempat terbaik di hadapan-Nya dan juga di hadapan makhluk-Nya, amin ya Rabb. []

loading...
loading...