islampos
Media islam generasi baru

Ketika Imam al-Ghazali Memaknai Shalat (1)

Foto: Sahih Bukhari
0

NAMA lengkap Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali. Ia lahir di Thus, di Iran sekarang, pada 457 H/1058 M dan meninggal pada 505 H/1111 M. Imam Al-Ghazali, sebelum belakangan menempuh jalan sufi dan menjadi salah seorang sufi terbesar dalam sejarah Islam, adalah seorang filosof sekaligus ahli fiqih yang amat menguasai kedua bidang ilmu ini.

Sedemikian sehingga oleh Nizamul Mulk (perdana menteri Dinasti Saljuq Turki, yang juga teman-sekolahnya), ia diangkat sebagai rector sebuah universitas terkemuka di Dunia Islam pada waktu itu, yakni Nizamiyah di Bagdad.

Namun, sebagaimana ditulisnya dalam karya-autobiografinya yang berjudul Al-Munqidz min Al-Dhalâl (Pembebas dari Kesesatan), ia belakangan mengalami krisis intelektual dan spiritual yang pada akhirnya membawanya kepada keyakinan bahwa tasawuf adalah jalan hidup yang terbaik, yang dapat membawa orang kepada kebenaran tertinggi.

Setelah mengalami transisi menentukan dalam kehidupannya ini, Imam Al-Ghazali hidup sebagai seorang sufi dan merantau meninggalkan kota kediamannya selama 17 tahun di wilayah Palestina dan Suriah.

Pada masa inilah ia menyelesaikan mahakarya-ensiklopedisnya di bidang tasawuf yang berjudul Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn. Sebuah karya yang merupakan puncak sistematisasi ajaran-ajaran tasawuf dan mendemonstrasikan keselarasannya dengan syariat.

Lewat karyanya ini, sang Hujjatul Islam juga mengembalikan tasawuf—yang sempat dianggap berlebihan di tangan sebagian sufi tertentu—kepada fondasi ajaran Islam sebagaimana terungkap dalam Al-Quran, hadis, dan ajaran para sufi besar.

Begitu pentingnya karya ini sehingga sebagian pengamat menyatakan bahwa Ihyâ’ adalah karya tulis terpenting ketiga setelah Al-Quran dan hadis.

Shalat menurut Imam Al-Ghazali

Bagi Imam Al-Ghazali, shalat yang memenuhi persyaratan sebagai shalat yang baik Ada tiga persyaratan, apa saja?

Pertama, penghindaran shalat dari berbagai penyakit.

Kedua, pengikhlasannya demi Allah SWT.

Ketiga, pelaksanaannya dengan mengikuti persyaratan-persyaratan batinia.

Fungsi shalat yang lain juga menurut Imam Al-Ghazali ialah memancarkan cahaya-cahaya di dalam hati, yang selanjutnya akan merupakan kunci bagi ilmu-ilmu mukâsyafah (penyingkapan rahasia-rahasia besar rubûbiyyah (ketuhanan, yakni yang berhubungan dengan aspek penciptaan dan pemeliharaan alam semesta), yang merupakan inti segala sesuatu, tujuan dari segala tujuan, dan kepadanya terarah seluruh dambaan para wali Allah, sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing).

Wali-wali Allah, yang dikasyafkan (disingkapkan) baginya kerajaan lelangit dan bumi serta rahasia-rahasia rubûbiyyah(ketuhanan, yakni yang berhubungan dengan aspek penciptaan dan pemeliharaan alam semesta), selalu mengalaminya dalam shalat.

Dalam suatu hadis disebutkan: “Apabila seorang hamba sedang berdiri dalam shalatnya, Allah SWT. mengangkat tirai yang menghalangi antara Dia dan hamba-Nya itu, lalu Dia pun menghadapinya dengan wajah-Nya. Malaikat berbaris, mulai dari kedua bahunya sampai ke langit, bershalat mengikuti shalatnya dan mengucapkan amin atas doanya. Dan sesungguhnya, seorang yang sedang bershalat ditaburi segala kebajikan dari puncak langit sampai garis pembatas rambut di kepalanya. Di saat itu, bahkan terdengar suara: ‘Sekiranya hamba yang sedang bermunajat ini menyadari

Siapa yang diajaknya bermunajat, niscaya ia tidak akan menoleh ke arah mana pun.’ Dan sesungguhnya, pintupintu langit terbuka bagi orang-orang yang bershalat. Sedangkan Allah SWT menunjukkan kebanggaan-Nya di antara para malaikat berkenaan dengan hamba-Nya yang sedang bershalat.”

Demikianlah, terbukanya pintu-pintu langit bagi si hamba yang sedang shalat serta dihadapi-Nya ia oleh Allah SWT dengan wajah-Nya adalah isyarat tentang mukâsyafah yang telah disebutkan. []

BERSAMBUNG

SUMBER: Buat Apa Shalat? Kecuali Jika Anda Hendak Mendapatkan Kebahagiaan dan Pencerahan Hidup/ Dr. Haidar Bagir/Mizan dan IlMaN/2007

loading...
loading...