ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ketahanan Ekonomi Keluarga dan Kesejahteraan Bangsa

0

Advertisements

Oleh: Diah Arminingsih
Magister Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dyah.ponty@gmail.com

 

BERDASARKAN data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) angka perceraian di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di Asia Pasifik, sejak tahun 2013 sampai sekarang angka perceraian tersebut tidak mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Adapun faktor dominan terjadi perceraian adalah karena tidak tercukupinya ekonomi keluarga, atau bisa dikatakan terjadinya kemiskinan dalam keluarga. Menurut Data kemiskinan per bulan Maret tahun 2017 https://www.bps.go.id/brs/view/1379 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen).

Ketika berbicara terkait kemiskinan, bahwa Islam sangat mewanti-wanti jika ada ummatnya termasuk dalam golongan miskin ini. Dampak kemiskinan yang paling fundamental bagi Islam salah satunya adalah dapat melemahkan bahkan melunturkan aqidah islamiyah seseorang, sehingga diperlukan adanya perbaikan-perbaikan. Perbaikan skala individu akan berpengaruh bagi perbaikan keluarga, jika perbaikan keluarga sudah terbangun, maka perbaikan umat pun terus berjalan, karena umat merupakan kumpulan keluarga. Atau dengan kata lain adalah keluarga merupakan miniatur umat, sedangkan umat adalah keluarga yang besar, umat yang besar inilah disebut bangsa.

Berangkat dari Pemahaman Tugas dan Peran Suami Istri

Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang amir adalah pemimpin atas rakyatnya dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dikeluarganya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya.” (Hadist Riwayat Bukhari)

Berdasarkan hadist di atas terdapat keseimbangan antara peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Seorang suami pemimpin dikeluarganya dan seorang istri pemimpin dirumah suaminya. Ibarat pada sebuah perusahaan, suami sebagai direktur dan istri sebagai manajer. Suami sebagai kepala keluarga sedangkan istri sebagai kepala rumah tangga. Salah satu tugas suami adalah memelihara keluarganya agar terhindar dari api neraka, sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an surah At-Tahrim (66) ayat 6.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Peran dan tugas suami istri di rumah tangga dalam Islam pada dasarnya sudah sejak lama dan sudah banyak tata aturannya. Akan tetapi masih saja terjadi ketimpangan antara peran dan tugas keduanya, hal ini terjadi akibat dari pengaruh budaya Patriarkhi yang masih mendominasi dalam keluarga tersebut. Sehingga perlu diluruskan kembali posisi perempuan atau dalam hal ini adalah istri, yang juga memiliki peran istimewa dalam keluarga.

Suatu saat khalifah Umar bin Khattab Radiyallahu’anhu mengatakan bahwa “Lelaki sukses itu dilihat dari dua hal, yang pertama siapa ibunya dan yang kedua siapa istrinya.” Atau kalimat tadi bisa kita artikan di belakang laki-laki sukses, terdapat perempuan yang hebat. Senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah ibnu Umar “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” Bahkan terdapat kutipan yang berbunyi, “Jika ingin melihat kualitas suatu negeri, maka lihatlah perempuan di negeri itu”.

Suami dan Istri Saling Berdaya

Secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya” yang berarti kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Berdasarkan pengertian tersebut, maka pemberdayaan dimaknai sebagai proses untuk membuat daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.

Pemberdayaan secara substansial merupakan proses memutus dari hubungan antara subjek dan objek. Proses ini mementingkan pengakuan subjek akan kemampuan atau daya yang dimiliki objek. Hasil akhir dari pemberdayaan adalah beralihnya fungsi individu yang semula objek menjadi subjek, sehingga relasi sosial yang ada nantinya hanya akan dicirikan dengan relasi antar subjek dengan subjek yang lain.

Islam merupakan ajaran yang komprehensif, selalu memberikan motivasi-motivasi terhadap kaum laki-laki dan perempuan untuk mengaktualisasikan diri secara aktif. Hal ini dapat ditemukan dalam al-Qur’an surah an-Nahl (16) ayat 97.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.”

Dalam bidang ekonomi perempuan bebas memilih pekerjaan yang halal, baik didalam maupun diluar rumah, mandiri atau kolektif, dilembaga pemerintah atau swasta, selama pekerjaan itu dilakukan dalam suasana terhormat, sopan, dan tetap menghormati ajaran agamanya. Sejarah dari Shahabiyah Rasulullah saw mengajarkan kepada kita terkait hal ini, seperti Khadijah binti Khuwaylid dikenal sebagai komisaris perusahaan, Zainab binti Jahsy sebagai penyamak kulit binatang, Ummu Sulaim binti Malhan sebagai tukang rias pengantin, al-Syifa sebagai sekretaris dan pernah ditugasi khalifah Umar sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah. Begitu aktif kaum perempuan pada masa Nabi, maka Aisyah pernah mengemukakan suatu riwayat “Alat pemintal di tangan wanita lebih baik dari pada tombak di tangan kaum laki-laki”. dalam riwayat lain Nabi pernah mengatakan “Sebaik-baik permainan seorang wanita muslimah didalam rumahnya adalah memintal/menenun.

Related Posts
1 of 2

Adapun tugas utama seorang istri menurut Syaikh Al-Ghazali dalam Hussein Muhammad adalah istri harus selalu dekat dengan “rumah”. Syaikh Al-Ghazali gelisah pada kebiasaan ibu rumah tangga yang meninggalkan (membiarkan) anak-anaknya tinggal dan diasuh oleh para pembantu atau diserahkan pada tempat penitipan anak. Karena nafas seorang ibu memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam menumbuhkan dan memelihara perilaku kebijakan dalam diri anak-anaknya.

Sedangkan menurut para ahli fiqh klasik, diantaranya Ibnu Hajar al-Haitsami, Zainuddin al-Malibari, Kamal bin Hummam, dan Ibnu Qudamah, menyatakan bahwa seorang istri diperbolehkan meninggalkan rumah jika dalam keadaan darurat, meskipun tanpa ijin suaminya. Keadaan darurat yang dimaksud seperti takut rumahnya roboh, kebakaran, tenggelam, takut terhadap musuh, keperluan keagamaan atau untuk keperluan mencari nafkah karena suami miskin sehingga tida dapat memberikan nafkah pada istrinya atau tidak memberikannya dengan cukup, atau istri menanggung biaya hidupnya sendiri beserta keluarganya.

Beberapa fatwa ulama tentang peran perempuan diluar rumah, yaitu fatwa Abu A’la al-Maududi yang menyatakan bahwa Peran perempuan dalam Islam adalah menjadi seorang ibu rumah tangga. Oleh karena itu, jika suami termasuk orang yang mampu bekerja dan berusaha, kewajiban istri adalah mengatur urusan rumah tangga. Namun jika seorang perempuan memiliki keperluan rumah tangga, seperti mencari nafkah (karena sudah janda atau suami tidak mampu) maka Islam memiliki toleransi. Di dalam hadits Rasulullah riwayat Bukhari disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah memberi izin kepada kamu (wanita), tetapi izin keluar rumah itu hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja.”

Sedangkan fatwa Muhammad Abdullah al-Khatib;

Islam membolehkan perempuan bekerja dengan tempat dan jenis pekerjaan yang sesuai dengan karakternya. Hendaknya pekerjaan-pekerjaan itu bukan semata-mata untuk membantu nafkah suami, karena mencari nafkah adalah kewajiban suami, atau untuk keperluan diri sendiri. Akan tetapi, hal itu dapat juga menjadi alasan jika ternyata masyarakat sudah tidak mampu memelihara orang-orang fakir, orang-orang lemah, dan masyarakat yang berpendapatan rendah.

Perbaikan Ekonomi Keluarga

Setelah memahami peran dan tugas suami istri dalam rumah tangga, selanjutnya adalah memulai melakukan perbaikan-perbaikan ekonomi keluarga. Dalam perbaikan ekonomi keluarga perlu diperhatikan konsep-konsep dasar perekonomian rumah tangga muslim. Adapun konsep dasar perekonomian rumah tangga muslim sebagai berikut:

Perekonomian yang didasarkan pada keimanan bahwa Allah adalah pencipta dan pengatur rezeki manusia. Perekonomian rumah tangga muslim menganggap pemenuhan kebutuhan material sebagai alat memenuhi kebutuhan spiritual

  1. Perekonomian yang berdiri di atas nilai-nilai akhlaki
  2. Perekonomian yang berpegang pada prinsip pencarian rezeki dan nafkah yang halal dan baik.
  3. Perekonomian yang menggunakan asas keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual dalam pemenuhannya
  4. Perekonomian yang mengutamakan kebutuhan primer di atas kebutuhan sekunder dan pelengkap di dalam pengeluaran
  5. Perekonomian yang memelihara kelangsungan hidup dan hak-hak ekonomi generasi yang akan datang
  6. Perekonomian yang memberikan beberapa hak kepada wanita untuk menjalankan roda perekonomian

“Fondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum wanitanya karena wanita adalah Guru Dunia, dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya.” -Hasan Al Banna-

Wallahua’lam Bissawab. []

Referensi Bacaan:

Husein Muhammad, Fiqh perempuan; Refleksi Kiai atas wacana Agama dan Gender, Cet. 1, (Yogyakarta: Lkis, 2001), hlm. 126.

Husein Syahatah, Iqtishadil Baitil Muslim fi Dau’isy Syari’atil Islamiyyah, alih bahasa Dudung Rahmat Hidayat dan Idhoh Anas, Ekonomi rumah tangga muslim, Cet.1, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 140.

Moh. Ali Aziz, dkk. Dakwah Pemberdayaan Masyarakat: Paradigma Aksi Metodologi, (Yogyakarta: LKis Pelangi Aksara 2009), hlm. 169.

Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 271.

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline