ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Kesaksian Relawan Kemanusiaan Indonesia di Rakhine State

Foto: reuters.
0

Faisol dan Suryadi, relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) berhasil masuk ke Rakhine State, Myanmar, 3 hingga 9 September 2017 lalu. Keduanya menyalurkan bantuan makanan sebanyak 12 ton dari Indonesia yang disebar di 12 titik.

Menurut penuturan Faisol seperti dikutip dari Kumparan, kondisi pengungsian etnis Rohingya sangat menyedihkan.

“Mereka tinggal di tenda, tenda-tenda plastik, terpal dan alasnya juga seadanya dan kalau nggak ada terpal ya diatas tanah gitu, ketika di pengungsian yang di perbatasan seperti itu seadanya, plastik ketemu plastik, baju mereka kalau bisa disampirkan ke atas itu bisanya, dengan seadanya,” ujar Faisol.

Selama di Myanmar, Faisol melihat penjagaan super ketat yang diberlakukan oleh aparat setempat. Mereka bertugas memeriksa siapa pun yang masuk ke wilayah Rakhine. Para etnis Rohingya juga terus mengalami tindakan kekerasan.

“Jadi kondisinya sangat memprihatinkan, sangat menyedihkan dan membuat tears down ketika melihat itu. jadi betul-betul sad gitu,” jelas Faisol.

“Iya betul, ada tindakan-tindakan kekerasan yang jelas dibunuh, innocent people ya, anak-anak wanita, bapak-bapak, lansia, tidak pandang bulu, bahkan naudzubillah min zalik, they can depressed gitu untuk woman ya. itu yang terjadi,” imbuhnya.

Etnis Rohingnya juga harus mencari tempat yang aman. Bila tidak, menurut Faisol, nyawa mereka jadi taruhannya.

“Mereka harus cari safe place, tempat yang aman karena kalau tidak cari yang aman, nyawa taruhannya. Bahwa tindakan-tindakan kekerasan ini betul sudah masuk kategori human rights ya,” papar Faisol.

Etnis Rohingnya mayoritas bekerja sebagai petani. Para petani itu, jelas Faisol, tidak mendapatkan pendidikan serta kesehatan dari Pemerintah Myanmar.

“Untuk Rohingya mayoritas pekerjaannya adalah petani dan mereka tidak mendapat pendidikan. Mereka tidak diakui warga negara, dan aktivitas mereka dibatasi, everything limited. Jadi no school, no healthy condition,” ungkap Faisol.

Faisol menerangkan sejak tahun 2012 sampai sekarang populasi Rohingnya terus menurun. Penurunan itu karena adanya kekerasan terhadap mereka.

“Kemarin 1,1 juta yang dirilis yang eksis sampai sekarang dari 7 juta, terus mengalami penurunan dan betul-betul terjadi kekerasan ya, penghilangan nyawa dan sebagainya,” tegas Faisol.

Sementara itu, militer Myanmar juga sangat kuat dan sering sekali mondar-mandir untuk memantau pergerakan para etnis Rohingya. Sehingga penyaluran bantuan dari luar untuk diberikan kepada etnis Rohingya sangat sulit. Berbagai macam strategi dibutuhkan agar dapat memberikan bantuan.

“Kalau kondisi saat ini sangat sulit mas, karena belum ada Internasional Aid yang dibuka dari government. Artinya kita harus hide and seek, dengan baju lembaga kemanusiaan juga harus hide and seek. Ketika Internasional Aid belum dibuka ya sulit, mereka nggak bisa menerima gitu. Jadi akan ketemu aparat dan lain sebagainya di bandara imigrasi terutama di Sittwenya yang kita alami betul,” bebernya.

Untuk itu, Faisol menjelaskan, ada strategi yang dibuat oleh para relawan dalam menyalurkan bantuan. Mereka lebih banyak memanfaatkan relawan lokal sebagai tim kemanusiaan dari Indonesia dan ACT.

“Kami ada strategi dengan memanfaatkan relawan lokal dengan bahasa lokal mereka, kami sebagai tim kemanusiaan dari Indonesia dan ACT kita sudah cari tempat yang aman dulu sebelum bantuan pokok itu datang dari pasar-pasar. Kemudian setelah aman kita distribusikan. Karena kalau tidak dengan strategi itu, akan bahaya buat kita sendiri. Karena memang kita belum dibuka Internasional aid itu,” tutur Faisol.

“Berdasarkan tadi yang sudah saya update adalah 300 ribu yang sudah menyeberang di Bangladesh dan 100 ribu di perbatasan Myanmar, dan 100 ribu masih stuck on the way,” kata Faisol di kantor ACT, Menara 165, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (11/9/2017). []

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...