islampos
Media islam generasi baru

Kematian Saksi Kunci e-KTP: “Nama Besar” Pantas Dicurigai

Foto: CNN
0

KEMATIAN salah seorang saksi penting skandal e-KTP, yaitu Johannes Marliem, di Los Angeles, Amerika Serikat, beberapa hari lalu, tidak bisa dibiarkan berlalu tanpa penyelidikan cermat. KPK dan pihak yang berwenang lainnya di Indonesia, terutama Polri, wajib mencari fakta tentang penyebab kematian Marliem. Kesimpulan penegak hukum di Los Angeles bahwa dia tewas bunuh diri, tidak bisa diterima begitu saja.

Sangat besar kemungkinan dia dibunuh dengan tujuan untuk melemahkan bukti keterlibat seorang “nama besar” dalam skandal korupsi e-KTP.

Sebab, Marliem memiliki banyak bukti penting yang sangat, sangat mungkin akan mepertegas keterlibatan “nama besar” tsb. Dan, ingat, “nama besar” ini, selalu bisa lolos dari kejaran hukum karena kelicikannya. Bahkan, dia pernah mengeluarkan ancaman mau membunuh seorang karena orang itu akan membeberkan keterlibatan si “nama besar” dalam skandal e-KTP.

Johannes Marliem memiliki rekaman sepanjang empat jam. Rekaman lengkap yang berisi pembicaraan mengenai proyek e-KTP. Termasuklah di situ rekaman pembicaraan si “nama besar”. Marliem merekam pembicaraan karena dia sendiri ikut membantu proyek e-KTP dari segi teknologi biometrik yang digunakan untuk menyimpan data kependudukan di lembar e-KTP itu.

Marliem sempat menghubungi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) karena dia merasa takut dan terancam. Tetapi, dia belum sempat mengajukan permohonan perlindungan. Sampai akhirnya muncul berita kematiannya yang diduga karena bunuh diri. Dia mengaku dikejar-kejar oleh orang-orang yang terlibat korupsi e-KTP.

Meskipun penyelidikan kematian Marliem itu adalah wewenang kepolisian Los Angeles, tetapi pihak Indonesia tentunya bisa meminta agar Polri dilibatkan dalam proses ini.

Lembaga penegak hukum Indonesia harus ikut. Jangan sampai “nama besar” skandal e-KTP bisa lolos lagi untuk kesekian kalinya. Si “nama besar” ini, kata para komentator dan pengamat sosial-politik, sudah sangat terkenal dengan gaya pembunuhan berdarah dingin.

Sulit menolak dugaan para penganut teori konspirasi yang meyakani bahwa kematian Marliem sudah direkayasa oleh oknum pejabat tinggi yang tersangkut skandal e-KTP. Kemungkinan itu sangat besar. Sebab, “nama besar” ini memiliki sumberdaya (resource) yang boleh dikatakan tak terbatas.

Dia punya banyak uang. Bagi dia, tidak masalah kalau harus mengeluarkan jutaan dollar untuk menghabisi Marliem agar rekaman itu bisa dilenyapkan.

Organisasi besar saja bisa dibiayainya, sampai-sampai semua petinggi organisasi itu siap membela dia mati-matian agar si “nama besar” bisa lolos dari jerat hukum. Orang dengan “nama besar” ini sudah terbiasa mencari jalan selamat dengan menghalalkan segala cara.

Karena itu, tidak berlebihan untuk mencurigai keterlibatan si “nama besar” dalam kematian Marliem. Tidaklah salah kalau orang mengatakan bahwa ahli teknologi biometrik itu lebih masuk akal dibunuh ketimbang bunuh diri.

Kalaupun dia disimpulkan bunuh diri, maka tidak salah untuk disebut sebagai bunuh diri karena tak sanggup menghadapi tekanan berat dari si “nama besar”. []

loading...
loading...