islampos
Media islam generasi baru

Kelembutan Nabi Musa Saat Berdakwah kepada Fir’aun

CAIRO, EGYPT - APRIL 2006: The mummy of Ramses II (1301-1235 BC), son of Sethy I, in April 2006, at Cairo Museum, Egypt. The mummy was discovered with the other royal mummies in the Deir el Bahari hiding place by Maspero, Ahmed Bey Kamal and Brugsch Bey. (Photo by Patrick Landmann/Getty Images) *** Local Caption *** Ramses II
0

MUNGKIN kita tidak bisa membayangkan bagaimana jika seorang manusia bisa membuat malaikat babak belur? Terlebih ia adalah malaikat pencabut nyawa?

Tapi inilah yang terjadi kepada malaikat Izrail. Malaikat yang biasanya ditakuti manusia, justru ia habis dipukuli oleh seorang manusia. Bahkan kedua bola mata Izrail sampai terpental copot dari tempatnya. Lalu siapakah manusia itu?

Manusia itu adalah Nabi Musa AS. Al-Hafidz Ibnu Kasir dalam kitabnya, al-Bidayah wan Nihayah, mengisahkan ketika itu Sang Malaikat diutus untuk mencabut nyawa Nabi Musa.

Sayangnya, ia datang dalam wujud manusia. Alhasil, Sang Malaikat pencabut nyawa dihajar Nabi Musa hingga babak belur. Kedua bola matanya bahkan copot dari sarangnya karena ditinju Nabi Musa.

Tapi tahukah? Jika Nabi Musa AS bersikap lembut saat ia diutus untuk mendakwahi Fir’aun? Hanya kata-kata lembut yang keluar dari mulutnya.

Allah SWT berfirman, “Pergilah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka, bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia akan ingat dan takut.” (QS Thaha [20]: 43-44).

Betapa zalim dan kufurnya seorang Fir’aun tak lantas menjadikan Musa AS harus berlaku kasar padanya. Fir’aun yang bahkan mengaku Tuhan sekalipun tetap diperlalukan Musa AS dengan santun. Inilah yang diperintahkan Allah SWT kepada sang Nabi jagoan. Walaupun jagoan, tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan.

Kelembutan dakwah seorang Nabi Musa AS kepada Fir’aun harusnya menjadi teladan bagi para mubaligh. Banyak mubaligh tak sabar dalam berdakwah. Baru melihat suatu hal yang janggal di masyarakat, si mubaligh langsung menjustifikasi. Banyak pula yang memakai unsur kekerasan dalam dakwah. Jika seperti ini, tentu menjadikan mad’u (objek dakwah) menjadi semakin menjauh.

Allah SWT berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran [3]: 159).[]

Sumber: Republika.co.id

loading...
loading...