ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Kedudukan dan Kemuliaan Para “Penjaga” Al Qur’an

0

Tak ada kitab suci yang mudah dihafal, selain kitab sucinya umat Islam, yakni Al Qur’an. Itulah salah satu mukjizat Al Qur’an. Selain mudah dihafal, juga menjadi pelajaran bagi yang berakal. Allah lah yang menjaga kitab suci ini di dalam hati kaum muslimin, sehingga Al Quran tetap terjaga dari kepunahan, abadi sepanjang masa.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an,  dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr: 9). Dari ayat itu menunjukkan, bahwa Allah lah yang menjaga di dalam hati orang-orang yang menginginkan kebaikan dari Al-Quran, sehingga jika ada satu huruf saja yang berubah dari Al-Quran, maka seorang anak kecil akan berkata, “Engkau telah berdusta dan yang benar adalah demikian.”

Inilah bentuk penjagaan Al Qur’an yang tetap lestari keasliannya. Kemuliannya tak terkontaminasi oleh segala cela. Inilah skenario Allah Swt dalam menjaga Kitab Suci umat Islam melalui para penghafal Al Qur’an.

Sejarah mencatat, saat terjadi Perang Yamamah (11 Hijriyah), banyak para penghafal Al Qur’an yang gugur di medan jihad. Hal inilah yang menjadi keresahan Umar bin Khaththab ketika itu. Kekhawatirannya menguat, jika para penghafal Al Quran lainnya gugur di medan perang yang berbeda. Sehingga, Al Qur’an punah bersama gugurnya penghafal Al Qur’an.

Ketika menghadap Khalifah Abu Bakar, Umar ra mengajukan usulan agar segera mengumpulkan dan membukukan Al Qur’an. Usulan itu disambut baik Khalifah dengan membentuk komisi pengumpul Al-Qur’an secepat mungkin.  Mengingat, pembukuan Al-Qur’an harus didasarkan pada hafalan dan naskah-naskah (manuskrip) di beberapa catatan sahabat, lalu dibentuklah tim penyusun Al Qur’an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Ia adalah sahabat Nabi Saw yang dikenal sebagai pencatat wahyu, dan juga penghafal Al Qur’an.

Dimasa Khalifah Utsman bin Affan, terjadi perselisihan yang tajam diantara sahabat terkait perbedaan qira’ah (cara membaca Al Qur’an). Saat itu Utsman kembali mengumpulkan para penghafal Al Qur’an untuk menyusun mushaf Al Qur’an untuk kedua kalinya, hingga kaum muslimin kembali bersatu.

Ketahuilah, Allah mengutus malaikat Jibril untuk memuraja’ah hafalan Nabi SAW, sekali dalam setahun dan ditahun terakhir dari kehidupan beliau. Jibril mengoreksi hafalan Rasulullah sebanyak dua kali. Meski menghafal Al Qur’an bukan merupakan kewajiban, namun banyak hikmah dan keutamaan dari menghafal Al Qur’an.

Allah-lah yang memudahkan manusia untuk menghafal Al Quran sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar: 17). Bukti Allah telah menepati janjinya dengan menyiapkan suatu generasi yang tajam hafalannya, benar pemahamannya, dan sempurna pengamalannya. Al Quran pun terjaga dan terpelihara.

Kemuliaan Penghafal Al Qur’an

Allah SWT telah memuliakan umat ini, yang telah menjadikan hati orang-orang yang shaleh sebagai tempat pemeliharaan firman-firman-Nya dan dada-dada mereka sebagai mushaf untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman dalam salah satu hadits Qudsi: “Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk menguji dirimu dan Aku menguji denganmu. Dan aku telah menurunkan sebuah kitab kepadamu, yang tidak akan luntur karena air, engkau membacanya di kala tidur maupun terjaga.” (HR Muslim)

Imam Abu Hasan al-Mawardi dalam kitab A’lam an-Nubuwah mengatakan, hal ini sebagai pertanda kekhususan Ilahi, dimana Allah mengutamakannya dari kitab-kitab selainnya.

Ada beberapa kedudukan dan keutamaan al-Hafiz atau para penghafal Al Qur’an: Pertama, memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain ketika di akhirat nanti, sebagaimana hadits Nabi SAW: “Dikatakan kepada ahli Al Qur’an: Bacalah dan naiklah dan tartilkanlah bacaanmu sebagaimana engkau dulu membacanya secara tartil di dunia, karena sesungguhnya tempatmu terletak di akhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Daud).

Kedua, al-Hafiz didahulukan urusannya, baik di dunia maupun akhirat, di antaranya, ia lebih berhak menjadi pemimpin. Sebagai contoh, Umar ra pernah menyetujui pilihan Nafi bin Abdul Harits yang mengangkat budaknya sebagai pemimpin karena ia adalah seorang hafiz. Umar ra teringat sabda Nabi SAW:“Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan menghinakan pula kaum yang lain.”(HR Muslim)

Ketiga, al-Hafiz adalah kekasih Allah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT memiliki kekasih dari manusia, para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Nabi menjawab: “Mereka adalah ahlu al-Quran, mereka menjadi Ahlullah dan kekasih-Nya.”(HR Ibnu Majah).

Keempat, jasad seorang hafiz tidak dapat tersentuh api neraka, Rasulullah SAW bersabda: “Kalau sekiranya Al Qur’an itu berada di atas kulit, niscaya ia tidak akan termakan api.” (HR Ahmad). Maksud dari api dalam hadits ini adalah api neraka dan orang yang selalu menghafal dan membaca Al Qur’an tidak akan dijilat oleh api neraka.

Kelima, seorang hafidz adalah orang yang arif di surga, Rasulullah SAW bersabda: “Para qari’-qari’ah itu adalah orang yang arif di surga”. (HR Ibnu Jami’ dalam kitab Al-Mu’jam).

Keenam, seorang hafidz adalah pembawa panji-panji Islam. Dari Abu Umamah bahwa Nabi SAW bersabda: “Orang yang hafal Al-Quran itu adalah pembawa panji-panji Islam. Siapa yang memuliakannya berarti ia memuliakan Allah, dan siapa yang menghinanya, maka ia akan dilaknat oleh Allah SWT” (HR Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus).

Ketujuh, Alhafidz dapat memberikan syafaat kepada keluarganya, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, dan memberinya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya dimana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka”. (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Setelah mengetahui keutamaan-keutamaan ini, hendaknya seorang muslim berkeinginan kuat untuk bisa menghafal Al Qur’an.  Simaklah pesan emas yang diriwayatkan dari Imam az-Zahabi di dalam kitab Siyaru ‘Alam an-Nubala dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah, karena ia merupakan pangkal dari segala sesuatu. Berjihadlah, karena ia merupalan dalil-dalil ke-Islam-an. Dan hendaklah kalian mengingat Allah dan membaca Al Quran, karena ia merupakan Ruh-mu di Ahli langit dan zikirmu di Ahli bumi.” []

loading...
loading...