ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Kecerdasan Imam Al-Bukhari; Wujud Ketaatan Kedua Orang Tua kepada Allah

0

Advertisements

Oleh: Arya Jagad Pamungkas

 

BUKHARA, sebuah daerah yang menjadi muara sungai jihun, terletak di Uzbekistan. Adalah sebuah daerah yang banyak melahirkan para ulama dalam berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu hadits dan fiqih. Salah satu ulama besar yang lahir di daerah ini adalah Imam Bukhari.

Bernama lengkap Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al Ju’fi Al Bukhari, Imam Bukhari terlahir dari pasangan yang sangat mencintai ilmu. Ayahnya yang bernama Ismail bin Ibrahim, adalah seorang ulama ahli hadits yang banyak mengambil hadit-hadits Nabi SAW dari Imam Malik bin Anas.

Dikisahkan di dalam kitab Fathul Bari, Syarh Shahih Al Bukhari karya Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani pada jilid yang pertama, ketika Imam Al Bukhari masih berada dalam kandungan kedua orang tuanya bersepakat agar mendidik anaknya jika terlahir nanti agar menjadi anak yang shalih. Maka disiapkanlah pengajaran disiplin ilmu sejak Imam Bukhari masih kecil.

Ayahnya meninggal ketika Imam Bukhari masih kecil, ia pun menderita sakit mata yang menyebabkan kebutaan pada usia dua tahun. Perjuangan untuk merawat dan mendidik Imam Bukhari diteruskan oleh ibunya dengan memegang komitmen terhadap sang suami ketika ia masih hidup, agar mendidik Imam Bukhari menjadi anak yang shalih.

Ada sebuah kisah yang menarik yang dilukiskan di dalam kitab Fathul Bari di atas. Suatu hari Imam Bukhari kecil mendatangi sebuah majelis ilmu para penghafal Qurán yang diampu oleh seorang guru, saat itu guru tersebut membaca surah Qaf, ketika selesai melantunkan surah Qaf sang Syaikh bertanya “siapakah yang sudah hafal”. Tiba-tiba seorang anak berusia empat tahun dan dalam kondisi buta mengangkat tangannya sembari berkata “ya Syaikh, saya sudah hafal” dialah Imam Bukhari.

“Majulah kedepan anakku, perdengarkan kepada teman-temanmu hafalanmu itu?” perintah sang guru. Ketika Imam Bukhari melantunkan surah Qaf, guru tersebut terkejut karena Imam Bukhari sudah hafal keseluruhan surah Qaf, dan pelafalannya persis sama seperti yang dia ucapkan. Setelah selesai membaca surah Qaf sang guru pun memeluk Imam Bukhari sembari berkata, “anakku, mulai besok kamu harus belajar menghafal hadits.” Karena guru ini berpendapat jika Al Qurán mampu dihafalnya dengan baik, maka menghafal hadits pun demikian.

Senang bukan kepalang, Imam Bukhari mendengar ucapan tersebut. Ia lalu bergegas pulang kerumah untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada ibunya.

“Bu, aku ingin belajar menghafal hadits,” ujar Bukhari kecil menyampaikan kepada ibunya.

“Duhai anakku sayang, ananda punya keterbatasan. cukupkan dulu dengan Al Qurán, setelah itu baru belajar hadits,” jawab sang ibu dengan lirih.

“Tidak bu, aku ingin belajar hadits,” jawab Bukhari kecil. Lalu ia berjalan sembari meraba dinding menuju kamarnya, melihat hal itu air mata sang ibupun menetes.

Ibu Imam Bukhari menuju mihrab sembari mengusap genangan di pelupuk matanya, bermunajat kepada Allah agar anaknya bisa melihat kembali. Dengan doanya yang lirih, “Ya Allah yang Maha Melihat dengan tajam sampai ke kedalaman hati manusia, yang Kuasanya tak terbatas, mohon kembalikan kembali penglihatan anak saya”.

Disaat yang sama Imam Bukhari sedang melantunkan surah Qaf yang baru saja dihafalnya. Ketika ibunya berdoa, “Ya Allah yang Maha Melihat,” Bukhari kecil baru melafalkan Quran hingga pada ayat ke 22 surah Qaf.

“Maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu. Sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.”

Maka ketika selesai membaca ayat tersebut, tersingkap penglihatan Imam Bukhari, saking kagetnya ia bergegas menghampiri ibunya yang masih berada di dalam mihrab.

“Bu, aku bisa melihat kembali,” Imam Bukhari menyampaikan dengan penuh haru.

“Tidak mungkin, ananda pasti melihat dengan hati?” kata ibunya penuh keheranan.

“Tidak bu, aku melihat dengan kedua mataku sendiri,” Bukhari kecil berusaha meyakinkan.

Keduanya pun berpelukan sembari melantunkan pujian kepada Allah. Sejak saat itu Imam Bukhari terus menghafal hadits hingga menyusunnya dalam sebuah kitab dalam masa kurun waktu enam belas tahun, dan dinamai Al Jami’As-Shahih Al Musnad Al Mukhtasar Min Umuuri Rasulillahi Shalallahu Alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi, atau yang biasa dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas, bagaimana peran kedua orang tua dalam membentuk karakter seorang anak. Ketakwaan kepada Allah serta komitmen kedua orang tua Imam Bukhari sejak anaknya masih berada dalam kandungan, adalah tonggak awal keberhasilan Imam Bukhari menjadi seorang ulama besar. Wallahu a’lam. []

Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi di luar tanggung jawab redaksi.

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline