islampos
Media islam generasi baru

Keajaiban Sedekah Ali dan Fatimah

Foto: Kiwi
0

KETIKA Ali  pulang dari rumah baginda Nabi. Fathimah sedang berdiri di depan rumah, ada juga Salman Al-Farisi sedang mengurai bulu-bulu domba untuk dipintal oleh Fathimah.

“Wahai wanita mulia, apakah kamu punya makanan untuk suamimu ini?” tanya Ali.

“Demi Allah aku tak punya sesuatu apa pun. Namun ini ada enam dirham dari Salman saat aku memintal tadi, hendak aku belikan makanan untuk buah cinta kita, Hasan dan Husain,” jawab penghulu wanita ahli Surga ini.

“Biarlah aku yang beli, mana uang itu?,” kata Ali.

Fathimah pun memberikan uang enam dirham tersebut kepada sang kekasih. Lantas ia pun bergegas membeli makanan. Tiba-tiba di perjalanan itu ada seorang lelaki berkata,

“Siapa yang mau meminjami Rabb yang Maha Pengasih lagi Maha menepati janji?” sebuah isyarat bahwa lelaki tersebut minta sedekah.

Tak tanggung-tanggung dan tak jua berfikir panjang, figur yang kelak menjadi khulafaa ar-rasyidin keempat ini langsung memberikan semua hartanya sebesar enam dirham tersebut. Ali pun pulang ke rumahnya, tentu saja dengan tangan hampa.

Fathimah tahu pasti, jika suami tercinta tidak membawa makanan apa pun, sang kekasih telah menyedekahkan hartanya. Fathimah pun sempat bersedih dan menangis.

Ali terheran, “Mengapa kau menangis, wahai wanita mulia?”

“Wahai suamiku, kamu pulang tanpa membawa sesuatu pun?” tanya Fathimah.

“Telah kupinjamkan harta itu kepada Allah,” sahut putra bungsu Abu Thalib ini.

Sayyidah Fathimah bukan wanita shalih biasa, jiwa dan keimanannya telah membumbung tinggi. Wanita shalih biasa akan ber hujjah, “Bukankah kau harus mendahulukan kebutuhan istri dan anak-anakmu?” ya, itu celotehan wanita shalih biasa. Jelas, Fathimah tidak akan mau keislaman dan keimanannya hanya dalam level standar. Ia sadar dirinya akan diteladani para wanita.

Ia memahami kalau sedekah itu tidak akan mengurangi sesuatu apa pun dan tidak merugikan siapa pun. Malah akan dijadikan penghapus dosa-dosa, melipatgandakan pahala dan keberkahan.

Dengan ikhlas Fathimah bertutur, “Sungguh, aku mendukung apa yang kau lakukan.”

Tak lama kemudian, Ali pergi lagi hendak menemui Rasulullah. Tiba-tiba di perjalanan ada seorang Arab Badui beserta seekor untanya.

Ia menyapa Ali “Wahai Abu Hasan, tolonglah beli unta ini.”

Ali menjawab, “Aku tak punya uang.”

“Bayar tempo saja,” kata si Baduwi coba menawarkan.

“Berapa harganya?”

“Seratus dirham”

“Ya, aku beli,” ujar Ali.

Saat melanjutkan perjalanan tidak lama kemudian datanglah orang Baduwi lain, ia pun menyapa Ali.

“Hai Abul Hasan, apakah kau jual unta ini?”

“Ya” jawab Ali.

“Berapa” tanya orang Baduwi tersebut.

“Tiga ratus dirham”

“Ya aku beli,” kata si Baduwi.

Baduwi itu tunai membayar 300 dirham dan mengambil unta tersebut.

Ketika Ali pulang, sang istri dengan tersenyum bertanya pada suaminya itu, “Apa ini, wahai Abu Hasan?”

“Duhai putri Rasulullah, telah kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham, dan kujual lagi 300 dirham, tunai,” jawab Ali lembut.

Fathimah pun senang dengan apa yang dialami suaminya itu. Lantas Ali menemui Rasulullah lantaran tadi sempat tertunda dengan “bisnis”nya itu. Rasulullah berada di Masjid Nabawi, saat Ali masuk ke Masjid, Rasulullah pun tersenyum melihat kedatangan sepupu sekaligus mantunya ini.

“Hai Abul Hasan, engkau yang bercerita atau aku yang bercerita?”

Sabda Rasulullah itu adalah isyarat bahwa beliau telah mengetahui perihal yang terjadi. Tentu siapa lagi kalau bukan Allah ‘azza wa jalla atau Malaikat yang memberikan kabar ini ke beliau, lantaran beliau tidak menyaksikan apa yang dialami Ali.

“Engkua saja yang bercerita, wahai Rasulullah.”

“Wahai Abu Hasan, tahukah kamu siapa Baduwi yang menjual unta dan Baduwi lain yang membeli unta?”

“Tidak. Allah dan RasulNya lebih tahu,” jawab Ali dengan agak heran.

“Berbahagialah engkau, kau telah ‘meminjamkan’ enam dirham kepada Allah. Allah memberimu 300 dirham, tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Baduwi yang pertama datang kepadamu adalah Jibril. Sedangkan yang berikutnya adalah Mikail.”

Kisah ini dikisahkan oleh fuqaha dan imam Madinah, Imam Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin, Ali Zainal Abidin sendiri merupakan putra dari Husain bin Ali bin Abi Thalib. []

 

Sumber: Suara Islam

loading...
loading...