islampos
Media islam generasi baru

Karena Cadar dan Coklat, Wanita Perancis Ini Putuskan Masuk Islam

Foto:Ilustrasi
0

Berniqab/Bercadar adalah salah satu sunnah bagi kaum Muslimah, tak terkecuali muslimah yang bercadar dan berpergian ke daerah Mayoritas Non Muslim Sekalipun tetap harus mengenakannya.

Dua orang laki-laki taat beragama, bersama istrinya masing-masing yang bercadar, berangkat ke Perancis.

Di bandara, para petugas menolak kedatangan mereka sebelum diperiksa dan membuka cadarnya. Tentu saja keputus an untuk membuka cadar ini ditolak dan ditentang kedua mukminah tersebut.

Para petugas kemudian menggiringg keduanya menuju petugas wanita berkebangsaan perancis agar diperiksa lebih lanjut.

Mengetahui komitmen dan pendirian dua wanita yang tidak mau melepaskan cadarnya itu, petugas wanita tersebut marah.

Wanita Perancis tersebut bertanya:

“Apa masalahnya jika orang-orang melihat wajah kalian? Kenapa hal-hal seperti ini membuat kalian tetap berpegang teguh?”

Kedua wanita berniqab tersebut terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian salah satunya berdiri sambil mengeluarkan sepotong coklat. Ia membuka bungkusnya lalu memegang cokelat yang terbuka tersebut.

Cokelat yang terbuka dan berada dalam genggaman ini ditawarkan kepada wanita perancis tersebut. Tentu saja ia menolak mentah-mentah cokelat ini karena takut terkontaminasi sebab telah terbuka dan berada dalam genggaman orang lain.

Melihat hal ini, seorang wanita bercadar lainnya lalu berdiri. Ia segera memberikan sepotong cokelat lainnya yang masih utuh tertutup belum dibuka. Dengan senang hati wanita perancis itu menerimanya.

Salah satu wanita berniqab tersebut kemudian bertutur:

“Lelaki kaum muslimin tidak akan memilih wanita yang dilirik dan dipelototi ribuan mata yang memandangnya. Mereka juga tidak akan memilih wanita yang telah disentuh/diraba dan telah ‘terkontaminasi’ seperti cokelat tadi.”

Masya Allah. wanita perancis tersebut terdiam. Kata-kata cerdas ini mampu menerobos jiwanya. Setelah ini, dia pun masuk Islam.[]

Sumber: KisahIslam/facebook Fachriy Aboe Syazwiena

loading...
loading...