ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Kala Orangtua Lansia, Bagaimana Bakti Kita Sebagai Anak? (1)

0

Advertisements

DENGAN bertambahnya usia, unsur destruktif (perusak) dalam diri lebih dominan daripada unsur konstruktif (pembangun). Karenanya, pada usia lanjut, mulai tampak tanda-tanda kelemahan pada tubuh dan akal seseorang.

Lansia juga rentan terkena serangan penyakit. Misalnya, penyakit agnia pectoris (nyeri dada), lemah jantung, darah tinggi, dan tersumbatnya pembuluh darah yang bisa mengakibatkan kelemahan pada seluruh anggota tubuh, khususnya otak yang membuat mereka mudah lupa dan pikun.

BACA JUGA: Alam Barzakh, Periode Manusia Selanjutnya

Sebagai anak ataupun pemuda dituntut memiliki kesabaran dan kasih sayang dalam melayani orang-orang yang sudah lanjut usia. Maha benar Allah SWT yang telah berfirman:

“Allah, Dialah yang menicptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia jadikan(kalian) sesudah keadaan lemah itu, kuat. Lalu Dia jadikan(kalian) sesudah kuat itu, lemah(kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa” (QS. Al-Rum: 54)

Juga di ayat lain yang artinya: “Allah menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian, Dia ntara kalian ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah(pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha kuasa.” (QS. Al-Nahl: 70)

Ketika seseorang merasakan tanda-tanda ketuaan, maka penyakit dan hilangnya indera perasa menurunkan selera makan. Hal tersebut berdampak buruk terhadap keluarnya asam hidroklorik.

Dampak lain yaitu rusaknya enzim pencernaan dalam lambung, yang memperkecil kemampuan memanfaatkan zat-zat lemak, dan juga kemampuan menyera vitamin yang melebur padanya. Dan selanjutnya, akan mengalami kesulitan mencerna sehingga berubah menjadi gas.

BACA JUGA: 7 Langkah agar jadi Anak Berbakti kepada Orangtua

Beberapa gigi yang mulai rontok juga mempersulit proses pemamahan yang mengakibatkan berbagai masalah dalam mencerna makanan. Jika kelemahan dan ketidak mampuan itu dibarengi dengan kemiskinan, kesendirian, dan kesedihan maka selera makan pun menjadi hilang.

Orang yang memasuki usia lanjut perlu untuk benar-benar memerhatikan kebutuhan makanan. Seringnya, mereka membutuhkan bantuan orang-orang sekitar untuk menyediakan kebutuhan makanan mereka. []

(BERSAMBUNG)

Artikel Terkait :

Loading...

Maaf Anda Sedang Offline

Send this to a friend