Jin Sakiti Manusia, Bisakah?

0

DI dunia ini, ada makhluk yang kasat mata dan tak kasat mata. Jika makhluk kasat mata, seperti halnya manusia cukup mudah bagi kita melihat gerak geriknya. Tapi, bagaimana dengan makhluk tak kasat mata, seperti halnya jin? Kita tak pernah tahu apa yang mereka perbuat. Namun, ada kekhawatiran, jika mereka sampai menyakiti kita. Tapi, apakah jin mampu menyakiti manusia?

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Sesungguhnya fakta yang menyatakan bahwa bangsa jin menyakiti manusia tidak bisa dipungkiri berdasarkan tetapnya dalil dari Al-Quran maupun As-Sunnah dan realita-realita yang pernah terjadi. Kalaulah bukan karena tirai-tirai penghalang dari para malaikat yang diperintahkan Allah untuk menjaga manusia, niscaya tidak ada seorang pun yang selamat dari gangguan jin dan setan. Yang demikian itu, karena manusia tidak dapat melihat mereka dan bahwa adanya kemampuan mereka untuk berubah bentuk dalam waktu yang relatif cepat, dan juga karena tubuh mereka yang halus dan lembut, sehingga kita tidak dapat merasakan dan menyentuhnya.”

Dari sini dapat diyakini bahwa sebagian jin menyakiti (menzalimi) manusia. Apakah karena manusia itu sendiri yang mulai mengganggu atau menyakiti mereka dengan menyiramkan air panas kepada mereka atau mengencingi mereka, atau menempati tempat tinggal mereka tanpa sadar, sehingga mereka membalas dan menyakiti manusia.

Atau karena sebagian dari jin itu memang ingin menyakiti manusia, sehingga mereka pun menyakiti manusia tanpa sebab apapun. Sebagaimana hal itu juga terjadi antara seorang manusia dengan saudaranya sesama manusia. Entah karena sebab-sebab khusus atau karena hanya ingin menyakiti saja. Hal ini dapat kita saksikan pada kehidupan manusia yang rusak fitrah, lemah iman dan akal serta keinginan mereka sekarang ini.

Syaikh Al-Jazairi melanjutkan, “Pada hadis shahih yang lalu telah dijelaskan bahwa ketika seorang pemuda dari kalangan Anshar menusuk jin yang menjelma seekor ular. Ular itu belum akan mati sampai jin melakukan balas dendam kepadanya, lalu membunuhnya. Sehingga, pemuda tersebut menemui ajalnya seketika itu juga.

Sampai-sampai Abu Said Al-Khudri berkata, ‘Tidak diketahui mana yang lebih dahulu menemui ajal, pemuda ataukah ular itu?’ Karena kenyataan ini sudah populer dan diketahui banyak orang, kami tidak perlu bersusah payah lagi untuk mencari bukti dan dalil lain sebagai penjelas. Kita merasa cukup dengan peristiwa yang dialami pemuda Anshar yang terdapat di dalam shahih Muslim.”

Lebih lanjut, Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Kami akan menyebutkan peristiwa lain yang terjadi di dalam rumah kami sendiri, sehingga membuat kami cukup merasa sedih dan berduka. Saya mempunyai kakak perempuan yang bernama Sa’diyah. Ketika masih kanak-kanak, kami mengikatkan tali pada sebuah dahan pohon kurma yang kuat dan ditarik ke loteng rumah dengan posisi kami yang berada di atas loteng.

Pada suatu ketika, tatkala kakak saya menarik tali tersebut, dan dia tidak mampu menariknya, maka ia pun tertarik tali itu dan terpelanting ke tanah. Sehingga, menimpa salah satu jin perempuan. Jin itu merasa tersakiti karena tertimpa kakak saya. Maka jin perempuan ini melakukan balas dendam kepadanya. Dalam mimpinya, jin ini selalu menghampirinya dua atau tiga kali atau bahkan lebih setiap minggunya. Lalu, dia mencekiknya, hingga kakak saya ini menendang-nendangkan kedua kakinya, dia juga meronta-ronta dan bergerak ke sana ke mari layaknya seekor kambing yang disembelih. Dan dia tidak berhenti-berhenti kecuali setelah dia seperti orang yang sudah tidak bernyawa.

Pada suatu ketika, jin ini berbicara dengan terus terang bahwa dia melakukan hal ini, karena kakak saya pernah menyakitinya pada hari ini dan pada tempat ini. Jin perempuan ini senantiasa mengganggu dan menyakiti kakak saya. Jin ini mendatangi kakak saya, ketika dia tidur saja. Hingga berlalu lebih dari sepuluh tahun dia pun membunuh kakak saya dengan siksaan yang tidak mampu dia tanggung.

Pada suatu malam, seperti biasanya, jin ini mengganggunya, kakak saya meronta, menendang dan mengamuk. Hingga, dia menghembuskan nafasnya yang terakhir –semoga Allah mengampuni dan merahmatinya. Amiin.

Peristiwa ini saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri. Sedangkan orang yang menyaksikan langsung dengan mata kepala tidak sama dengan orang yang hanya mendengar,” (Aqidatul Mu’min Hal 230). []

Sumber: Ruqyah Jin, Sihir dan Terapinya/Karya: Syaikh Wahid Abdussalam Bali/Penerbit: Ummul Qura

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline