APA itu Ishlah Bainannas?
Interaksi sesama manusia yang merupakan tabiat dari sifat sosial setiap manusia, terkadang menimbulkan kesalah fahaman, pertengkaran dan bahkan permusuhan. Karena manusia memiliki perasaan, latar belakang, dan persepsi yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Sehingga potensi timbulnya konflik sesama manusia sangat dimungkinkan. Padahal persatuan dan kesatuan ummat merupakan satu perintah Allah SWT. Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman (QS. Ali Imran/ 3 : 103): “Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan jangalah kalian bercerai berai.”
Untuk itulah Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa mendamaikan dua orang yang berselisih adalah shadaqah. Karena tidak mungkin dalam menjalankan aktivitas sehari-hari manusia tidak mengalamai masalah dengan orang lain.
BACA JUGA: 5 Hadits tentang Sabar
Dan oleh karenanya konflik akan selalu terjadi, sepenjang manusia masih menempati bumi. Hal ini terjadi karena beberapa hal :
1. Sifat dan tabiat manusia yang emosional, mudah untuk menumpahkan darah.
Dalam Al-Quran Allah SWT menjelaskan bagaimana para malaikat “bertanya” kepada Allah SWT ketika akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, karena mereka suka menumpahkan darah. Allah SWT berfirman (QS. Al-Baqarah/ 2 : 30)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
2. Karena sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apapun yang dimilikinya. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ menggambarkan :
Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekiranya anak adam memiliki emas sebanyak dua gunung, maka ia sangat menginginkan gunung ketiga berupa emas. Dan tidak akan ada yang dapat memenuhi keinginannya, kecuali tanah (kubur). Dan Allah menerima taubat siapapun yang bertaubat.” (HR. Turmudzi)
3. Sifat manusia yang tamak, kikir dan suka berkeluh kesah terhadap anugerah yang Allah berikan padanya. Dalam Al-Quran Allah SWT menjelasakan (QS. Al-Maarij/ 70 : 19 – 21)
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”
4. Adanya perbedaan sifat, karakter, orientasi, tujuan dan jalan kehidupan masing-masing insan sehingga sangat mungkin perbedaan-perbedaan seperti ini meruncing dalam aktivitas sehari-hari. Dalam Al-Quran Allah SWT memberikan isyarat (QS. Al-Hujurat/ 49 : 13)
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Antisipasi dari terjadinya ikhtilaf dan perpecahan diantara umat manusia adalah diantaranya dengan ishlah bainannas sebagaimana digambarkan dalam hadtis di atas. Bahkan dalam Al-Quran digambarkan, jika salah satu dari pihak yang bertikai tidak mau diajak untuk ishlah, atau justru berbuat aniaya, maka kita diperintahkan untuk memerangi pihak tersebut : (QS. Al-Hujurat/ 49 : 9)
BACA JUGA: Hukum Menarik Kembali Sedekah
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Ishlah bainannas adalah bagaimana seseorang atau satu kelompok melakukan satu aktivitas, baik bersifat qouli, maupun amaly dalam rangka mendamaikan dua pihak atau lebih yang bertikai atau berselisih paham. Baik dua pihak tersebut bersifat individu, maupun yang bersifat kelompok ataupun bangsa. Rasulullah ﷺ menjadikan aktivitas seperti ini sebagai aktivitas yang lebih baik dari puasa, shalat dan shadaqah:
Dari Abu Darda ra berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan dengan sesuatu yang lebih afdhal dari pada puasa, shalat dan shadaqah?” Mereka menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Mengishlah (mendamaikan) orang-orang yang memiliki permasalahan. Sedangkan merusak orang-orang yang memiliki permasalahan adalah haliqah (haliqah adalah memutus tali persaudaraan dan saling berbuat dzalim/ tadzalum).” (HR. Turmudzi)

Bahkan karena begitu pentingnya ishlah bainannas ini, Rasulullah ﷺ memperbolehkan “dusta” dalam rangka mewujudkannya. Dalam sebuah hadits digambarkan :
Dari Umi Kultsum binti Uqbah memberitahukan bahwasanya ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukanlah dusta itu bagi orang yang mendamaikan diantara manusia (yang bertikai), yang ia mengatakan kebaikan (pada pihak-pihak yang bertika tersebut).” (HR. Bukhari)
Manhaj Rasulullah ﷺ Dalam Ishlah Bainannas
1. Melarang emosi atau marah.
Dalam sebuah hadits digambarkan :
Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa seorang sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, nasehatilah aku.” Rasulullah SAW menjawab, “Janganlah kamu marah.” Lalu ia mengulanginya lagi pertanyaan tersebut beberapa kali, dan Rasulullah SAW menjawab, “Janganlah kamu marah.” (HR. Bukhari)
BACA JUGA: 5 Syarat Taubat Diterima
2. Memberikan paradigma bahwa orang yang kuat adalah orang yang pandai mengendalikan dirinya ketika emosi dan bukan orang yang pandai berkelahi.
Dalam sebuah hadits digambarkan :
Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu orang yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya ketika sedang emosi.” (HR. Bukhari)
3. Memotivasi hakim untuk berbuat adil, bahkan mengancam hakim yang tidak adil.
Dari Abdillah bin Amru bin Ash berkata, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil (akan Allah tempatkan) di atas mimbar-mimbar cahaya, dari tangan kanannya Allah yang Maha Rahman. Dan dua tangan Allah adalah tangan kanannya. Yaitu orang-rang yang berbuat adil dalam hukum (yang ditetapkan) mereka, keluarga mereka dan perkara yang diembankan kepada mereka.” (HR. Muslim)
4. Rasulullah ﷺ menggambarkan keutamaan mengishlah antar manusia, boleh berdusta dalam rangka mengishlah dan lain sebagainya, sebagaimana digambarkan dalam hadits-hadits sebelumnya. []













