I’sha, Wanita Punk yang Masuk Islam

0

HIDAYAH mutlak milikNya, kita tak berjak mengatur siapa kemana hidayah itu akan berpijak. Meski telah di nasehati sedemikian rupa apabila Allah tak membukakan hatinya maka mustahil ia akan menerima nesehat kita.

Beberapa bulan terakhir ini, Lucy Osborne telah mewawancarai perempuan-perempuan di Inggris yang telah masuk Islam. Ia merasa para mualaf itu masih dipandang dengan penuh kecurigaan.

Jumlah mualaf di Inggris meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun dan hampir dua pertiganya adalah perempuan. Lucy Osborne, yang berprofesi sebagai jurnalis lepas (freelance) sekaligus penulis ficer, menyelidiki mengapa hal ini terjadi.

Salah satunya yaitu I’sha, wanita berumur 40 tahun yang telah memeluk Islam sejak empat tahun yang lalu.   Keluarga I’sha tidak menyetujui pilihan I’sha untuk menjadi seorang muslim. Keluarga semakin tidak setuju karena I’Sha dalam kesehariannya menggunakan pakaian niqab yang hanya memperlihatkan kedua bola matanya.

“Ketika saya pertama kali memberitahu orangtua bahwa saya menjadi seorang Muslim, mereka tidak ingin ada yang tahu. Apakah itu keluarga atau tetangga. Mereka tidak bisa mengerti keputusan saya,” ujarnya.

Lingkungan menentang I’Sha yang telah memutuskan memeluk Islam.

”Orang-orang di mana saya dibesarkan kini berbalik memusuhi. Mereka tidak ingin anak-anak mereka bersama dengan anak-anak saya. Mereka menilai saya sudah gila,” ujarnya.

Temukan Jalan Pulang

Semanjak Isha masuk Islam ia merasa temukannjalan pulang yang menangkan.

“Saya justru merasa seperti sudah pulang,” katanya. “Melalui Islam, saya telah menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang saya punya. Saya telah menemukan kedamaian sejati,” ujarnya.

I’sha dulunya adalah seorang punk. Dia memakai pakaian yang potongannya terbilang ‘memalukan’. I’Sha tentunya berpotongan rambut Mohican yang mirip landak. Adiknya secara terbuka memproklamirkan diri sebagai seorang lesbian.

Ketika mengatakan kepada keluarganya, teman dan rekan-rekan bahwa dia telah memeluk Islam, I’Sha mengatakan bahwa dirinya tetap tidak berubah. “Saya mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa aku masih si lidah panjang dari utara seperti dulu. Tetapi, menjadi seorang Muslim itu tidak dilihat sebagai sesuatu yang ‘cool’.”

”Ketika orang melihat Anda berkulit putih dan orang Inggris, maka mereka benar-benar berperilaku kasar terhadap Anda. Karena, mereka berpikir bahwa Anda telah kembali pada cara hidup mereka,” tambah I’sha. []

 

Sumber: thetimes.co.uk

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun