ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Inilah Mereka yang Dinaungi Allah SWT di Hari Akhir (1)

Foto: Fatmah/islampos
0

 

WAHAI saudaraku, tahu kah Anda, jika ada golongan orang-orang terpilih yang akan Allah SWT beri kenikmatan di surga dan akan mendapat naungan dari awan sejuk pada cuaca yang panas di hari akhir kelak?

Merekalah golongan orang-orang yang luar biasa karena mampu bertahan menjaga ketaqwaannya. Padahal, lingkungan mereka sangat memudahkannya untuk melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa. Di antara mereka ada golongan para pemimpin yang adil, pemuda yang giat beribadah dan ahli masjid. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan Allah SWT beri naungan kepada mereka. Tatkala itu tiada naungan kecuali naungan-Nya. Merekalah: Pemimpin nan berlaku adil, pemuda giat jalani ibadah, seorang yang hatinya tertaut kepada masjid, dua orang yang bercinta dan bercumbu karena Allah, hamba yang ingat pada Allah ketika sendiri, lalu ia meneteskan air mata karena-Nya. Seorang yang merahasiakan sedekahnya, hingga tangan kirinya tak tahu sedekah tangan kanan. Seorang pria yang dirayu wanita cantik ‘tuk berzina, lalu ia berkata, ‘Saya takut kepada Allah’,”(HR. Abu Hurairah).

Pada hari akhir kelak, di Padang Mahsyar umat manusia akan dikumpulkan dalam satu area. Seluruh manusia dari zaman Nabi Adam hingga dunia kiamat. Pada hari itu udara sangat panas. Ada yang menggambarkan di Padang Mahsyar matahari sangat dekat sehingga sangat panas dan gerah. Seperti kita dijemur waktu upacara bendera, bukan di pagi hari tapi siang hari dan udara sangat panas. Di sana kelak lebih dari itu. Di saat semua orang kepanasan ada awan bergerak yang menaungi beberapa golongan. Dengan awan tersebut orang yang dinaungi di bawahnya menjadi sejuk, sementara yang lainnya kepanasan.

Merekalah golongan khusus, eksklusif. Seperti mereka yang naik kereta api eksklusif. Orang-orang pada mengantri membeli dan masuk ke kereta secara berjumbel-jumbel dengan udara yang panas serta pengap. Namun penumpang eksklusif, menunggu di ruang tunggu ber-AC. Pada saat kereta akan berangkat, ia baru dipanggil untuk masuk satu-satu. Sungguh enak bukan. Siapakah golongan eksklusif itu?

Yang pertama adalah pemimpin yang adil. Mengapa pemimpin masuk dalam naungan. Bukankah banyak pemimpin yang menindas rakyat, zalim dan korup? Bahkan pameo yang terkenal adalah power trends to corrupt, absolute power corrupt absolutely. Kekuasaan, terutama pemimpinnya, cenderung untuk berbuat korupsi. Kekuasaan yang besar akan korupsi dengan besar pula. Demikian peribahasa berbunyi karena saking banyaknya pemimpin yang zalim. Memang pemimpin yang baik dan adil itu sedikit. Dan yang sedikit itu karena kekhusuannya akan diberikan ganjaran yang setimpal dengan keadilannya, yaitu diberikan naungan awan nan sejuk di saat yang lain kepanasan.

Bagi seorang pemimpin, sangatlah mudah ia akan menjadi adil atau zalim. Sama mudahnya dengan dia ingin berteduh di bawah awan yang menaunginya atau tetap berpanas-panasan di bawah matahari yang terik. Namun saat ini kita melihat, seberapa banyak pemimpin yang adil.

Kedua adalah seorang pemuda yang dia giat melakukan ibadah sepanjang waktu. Golongan kaum ini juga eksklusif. Sebab di saat banyak orang seperti dia memanfaatkan waktu hal-hal yang tidak berguna dan cuma untuk kesenangan sesaat, dia justru tekun beribadah.

Seorang pemuda kota yang di saat teman-temannya di malam minggu berkeliaran mengendari motor atau mobil, dia berdzikir di masjid. Teman-temannya pada dugem (dunia gemerlap) atau mendatangi teman wanitanya untuk bergembira dan bersuka ria, dia juga bersuka ria untuk mendatangi majelis taklim untuk menimba ilmu dan berkumpul dengan orang saleh.

Pemuda seperti ini memang beda. Meskipun usianya muda, ia tidak pernah berpikiran bahwa hidupnya masih lama. “Ah, malaikat pasti akan mencabut nyawa kakek dulu, baru ayah dan ibu, kemudian kakak-kakak, baru aku.”

Begitu kira-kira jalan pikiran pemuda yang hidupnya berhura-hura. Dengan selorohnya mereka bersemboyan, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.” Kalau ada anak muda yang demikian, patut kita bilang kepadanya, “Surganya mbahmu”. Namun tidak demikian dengan pemuda calon penghuni surga yang akan dinaungi awan keteduhan. Ia berpedoman dengan hadits Rasulullah SAW, “Berusahalah seakan-akan engkau akan hidup seribu tahun, beribadahlah seakan-akan engkau akan mati besok.”

Memang pemuda seperti ini pantas mendapatkan naungan awan di saat yang lain kepanasan.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kedudukan pemuda yang rajin ibadah seperti ini di mata Allah SWT lebih mulia daripada malaikat. Apabila kita ingin melihat malaikat berwajah manusia, silahkan menyaksikan pemuda seperti ini.

Ketiga adalah seseorang yang hatinya tertaut pada masjid. Siapa pun dia, orang seperti ini hatinya seperti besi yang menempel pada magnet masjid. Hal yang paling disukai adalah menunggu waktu datangnya shalat. Jadi sebelum azan dia sudah datang, melakukan shalat tahiyatul masjid dua rakaat dan berzikir menunggu muazin mengumandangkan azan. Kehadirannya dalam shalat berjamaah di masjid selalu awal, tidak pernah ketinggalan atau masbuk. Di waktu senggangnya ia lebih suka membaca buku agama di masjid. Atau berdiskusi masalah keagamaan di masjid kalau memang tidak ada pengajian di malam itu. Iktikaf di masjid lebih ia sukai daripada tempat mana pun.

Tidak sekadar itu, ia juga aktif dalam kemakmuran masjid. Seorang pemuda yang hatinya tertaut pada seorang wanita tentu ingin menyenangkan hati wanita tersebut. Demikian juga dengan seseorang yang hatinya tertaut pada masjid, pasti ingin “menyenangkan” masjid itu, dengan cara sering mendatangi dan memakmurkannya. Berbagai kegiatan dakwah dan syiar Islam ia adakan dan aktif di dalamnya. Orang seperti ini memang layak mendapat naungan Allah SWT pada saat yang lain tidak mendapatkannya. []

BERSAMBUNG

Sumber: Hikmah dari Langit/Ust. Yusuf Mansur & Budi Handrianto/Penerbit: Pena Pundi Aksara/2007

 

loading...
loading...