Ini Hubungan Zakat dengan Persoalan Pekerja Migran

0

JAKARTA—Ketua BAZNAS, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, CA, menjelaskan, terdapat lima hal yang melatarbelakangi hubungan zakat dan persoalan pekerja migran.

“Kelima hal ini mempertegas bagaimana seyogianya positioning gerakan zakat terhadap persoalan pekerja migran,” ujarnya kepada Islampos.com di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Pertama, papar Bambang, problem kemiskinan. “Jika ditelisik lebih dalam akar permasalahan migrasi pekerja Indonesia ke luar negeri adalah akibat persoalan kemiskinan. Sementara syariat zakat hadir untuk memerangi kemiskinan dengan memberdayakan mustahik agar menjadi muzaki,” tutur dia.

Kedua, tambah Bambang, maqashid syariah. “Tujuan syariah sebagaimana yang diformulasikan oleh Imam Asy-Syatibi adalah untuk menjaga dan memelihara lima hal yakni agama, jiwa, akal, harta, keturunan atau kehormatan,” jelasnya.

Zakat sebagai salah satu rukun Islam bermaksud juga untuk mencapai kelima tujuan tersebut pada diri mustahik atau kaum dhuafa. “Para pekerja migran Indonesia yang mayoritas perempuan dan bekerja pada sektor domestik sangat rentan mendapatkan perlakuan yang bertentangan dengan maqashid syariah dan napas zakat yang ingin melindungi dan memberdayakan kaum lemah,” kata dia.

Ketiga, jelas Bambang, dampak negatif migrasi. “Tak dipungkiri bahwa pekerja migran berkontribusi pada peningkatan devisa negara. Akan tetapi tidak sedikit terdapat dampak negatif pada keluarga yang ditinggalkan di Indonesia. Persoalan pengasuhan anak, disharmoni keluarga hingga perceraian, potensi penyimpangan seksual, human trafficking dan lainnya adalah permasalahan pekerja migran,” terangnya.

Keempat, Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s). “BAZNAS telah menjadikan SDGs sebagai salah satu ukuran capaian dalam program pendistribusian dan pendayagunaan zakat,” ucap Bambang.

Target SDGs nomor delapan berkaitan dengan good job dan economic growth dengan salah satu poin adalah proteksi hak-hak pekerja dan promosi lingkungan kerja yang aman dan nyaman untuk seluruh pekerja, termasuk di dalamnya pekerja migran. Secara khusus juga menyoal perlindungan hak-hak pekerja perempuan.

Kelima, optimalisasi dana remitansi. Dana remitansi yang mencapai ratusan triliun rupiah seyogianya dapat dijadikan sebagai modal pembangunan usaha dan keterampilan pekerja migran dan keluarganya untuk dapat lepas dari jeratan kemiskinan.

“Dalam hal ini, lembaga zakat dapat menjadi mitra dan pendamping usaha untuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian ekonomi keluarga pekerja migran,” pungkasnya. []

Reporter: Rhio

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline