ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

IKADI: Ulama Besar pun Awalnya Diajari Guru Ngaji Kampung

Foto: nggakdiajak
0 265

JAKARTA–Pemahaman keagamaan anak-anak di sekolah dinilai belum bisa memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kerohanian siswa, dalam satu pekan siswa hanya beberapa jam saja waktu belajar Pendidikan Agama Islam. Karena itu, Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Achmad Satori Ismail mengatakan perlu adanya pihak yang membantu pemahaman anak-anak selain di sekolah formal, terutama anak di pedesaan.

Achmad menyebutkan, pihak yang bisa membantu melengkapi pemahaman anak-anak tentang agama Islam, yakni guru ngaji kampung. “Bangsa Indonesia yang sangat luas ini terbantu dengan adanya guru ngaji di surau, langgar dan madrasah di daerah-daerah,” kata Achmad, dilansir Republika, Selasa (4/4/2017).

Menurut Achmad, guru ngaji kampung dikenal sebagai guru yang ikhlas tanpa meminta imbalan dari anak didiknya. Seringkali guru ngaji dijadikan teladan oleh masyarakat kampung, selain karena ilmua agama yang dimilikinya, guru ngaji kampung juga sudah bisa mewariskan ilmunya sehingga banyak ulama-ulama besar yang muncul.

“Guru ngaji bukan hanya mengajar keislaman seperti huruf hijaiyah hingga Al-Quran, bagaimanapun juga ulama-ulama besar yang ada saat ini, mereka belajar saat anak-anak dari guru ngaji kampung,” jelas Achmad.

Achmad juga menjelaskan, perkembangan Islam di Indonesia bermula dari kampung-kampung kecil, hingga melebar ke perkotaan. “Dari kampunglah umat Islam yang awalnya sedikit, kemudian berkembang menjadi populasi terbanyak di Indonesia,” ujarnya.

Mengingat berjasanya guru ngaji kampung sebagai pelengkap pemahaman agama anak-anak, Achmad berharap pemerintah dapat mendukung mereka lewat berbagai kebijakannya. “Karena jika pemerintah mendukung, baik dengan dana insentif maupun biaya kesehatan dapat menjadi berkah terhadap pemerintah itu sendiri,” katanya.

Kemudian Achmad juga menerangkan, ditengah kehidupan manusia yang materialistis, guru ngaji semakin dibutuhkan warga perkampungan. “Banyaknya manusia yang matrealistis dan perhitungan, semakin membutuhkan pengabdian guru pengajian yang ikhlas sehingga menghasilkan anak pengajian yang mukhlis,” Pungkasnya. []

Comments
Loading...