ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ibu pada Anak Gadisnya: Perangai Kekasihmu Buruk, dan Kaulanggar PerintahNya

Foto: Reference.com
0 332

 

Oleh: Arief Siddiq Razaan 

IBU  “Putriku, apa yang membuatmu masih bertahan mencintai kekasihmu padahal perangainya saja buruk, selalu mencari-cari alasan untuk tidak menikahimu meskipun pekerjaannya sudah mapan?”

Putri: “Karena dia tampan dan perhatian meski kami cuma pacaran.”

Ibu: “Jadi dirimu mencintainya hanya karena rupa dan perhatian sampai mengabaikan kelakuannya yang begitu lamanya memacarimu tanpa sebuah kepastian?”

Putri: “Kalau soal nikah tinggal tunggu waktu, lagipula aku merasa bangga saat jalan dengannya karena merasa wanita paling beruntung.”

Ibu: “Jika dirimu mencintai seseorang karena rupa, bagaimana bisa dirimu mencintai Allah yang tidak pernah dirimu ketahui bagaimana rupanya? Lalu jika dirimu merasa beruntung, maka keberuntungan apa yang dirimu maksudkan? Bangga karena pacarmu tampan, pekerjaannya mapan, perhatian? Jika iya, nyatanya ketampanannya itu masih belum menjadi milikmu secara halal, pekerjaannya juga masih belum digunakan menafkahimu secara penuh, perhatiannya bisa jadi untuk membuatmu tidak terlalu menjadi wanita penuntut yang ingin segera dinikahi.”

Putri: “Tetapi selama kami menjalin hubungan, dia selalu baik jadi tak masalah kan?”

Ibu: “Mungkin perasaanmu tidak masalah, tetapi akidahmu bermasalah. Ibu takut dirimu terpedaya oleh kebaikan, kelembutan dan kegagahan seorang lelaki hingga melupakan Allah.”

Putri: “Aku tidak melupakan Allah, aku masih meyakini Allah itu ada.”

Ibu: “Jika dirimu mengakui Allah itu ada, mengapa dirimu justru melanggar perintah-Nya dengan cara pacaran. Jika memang kekasihmu itu lelaki yang baik, ia pasti tidak menunggu lama untuk menikahimu. Hidup ini pilihan, dia tampan dan mapan maka besar sekali peluangnya untuk memilih siapapun yang dikehendakinya, saran Ibu pertegas hubunganmu, mintalah ia menikahimu atau putus.”

Putri: “Kalau dia minta putus bagaimana?”

Ibu: “Berarti kekasihmu tidak meyakini dirimu yang terbaik baginya, lalu untuk apa memperjuangkan lelaki yang demikian. Berkorban demi cinta itu benar menurutmu, tetapi jika dirimu jadi korban penantian dan tanpa kejelasan status pernikahan itu sebenar-benarnya kebodohan yang dirimu lakukan.” []

27 Juli 2015

Comments
Loading...