islampos
Media islam generasi baru

Hukum Putus Asa dan Tobat Darinya

0

IBNU hajar mengategorikan putus asa sebagai salah satu dosa besar. Pendapat ini berdasarkan firman Allah, “Dan tidaklah orang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orangt-orang kafir.” Setelah menyebutkan sejumlah hadist yang menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah SWT, ia berkata, “Dosa ini dianggap sebagai dosa besar dan ini bisa dilihat dengan sangat jelas dari beratnya ancaman bagi para pelakunya.” ( Al-Zawajir[114]).

Para fuqaha berselihi pendapat mengenai tobat orang-orang yang berputus asa. Tobat yang dilakukan pada saat ia mengalami tanda-tanda kematian yang sangat dekat dan tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup.

Mayoritas fuqaha dari Malikiyyah, Syafi;iyyah dan Hanafiyyah berpendapat bahwa tobatnya tidak akan diterima. Pendapat ini berdasarkan firman Allah berikut, “ Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan,” Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.

Sementara, kalangan hambaliyyah menyebutkan bahwqa tobatnya itu akan diteruma oleh Allah SWT selama ia belum sekarat (maksudnya ruh belum sampai di tenggorokan). Pendapat ini berdasarkan hadist dari Ibnu Umar ra yang menyebutkan bahwasannya Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menerima tobat seorang hamba, selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR Turmudzi [5/547], ia berkata “hadist ini hassan gharib)

Dalam kitab Al-Latha’if, Ibnu Rajab berkata, “Barangsiapa yang bertobat sebelum ruhnya sampai di tenggorokan, maka tobatnya akan dietrima, karena ruh akan berpisah dengan hati saat sampai di tenggorokan, dan saat itu tidak ada lagi niat dan tujuan.”

Selain itu ada juga yang memiliki pendapat lain. Yaitu, pendapat yang menyebutkan bahwa tobatnya akan diterima selama ia belum melihat malaikat. Ini adalah Hasan, mujahid dan yang lainnya.
Ibnu Majah telah melansir sebuah riwayat dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. Kapankah terputusnya makrifat seorang hamba?” kemudian beliau menjawab, “Jika ia telah melihat.” Maksudnya adalah melihat malaikat maut. ( Ibnu Majah (1/467). []

Sumber: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah/Ahmad Abduh ‘Iwadh/Salamadani

loading...
loading...