islampos
Media islam generasi baru

Harga Garam Naik, Para Ibu Panik

Foto: M Ardiansyah/Islampos
0

Oleh: Dwi Suryaningsih
Aktifis Dakwah Tinggal di Cilacap

 

AKHIR-akhir ini para ibu rumah tangga dikejutkan dengan melonjaknya harga garam. Kenaikan harga garam yang sangat fantastis, yakni lebih dari seratus persen sontak membuat kalangan ibu-ibu berpikir ulang untuk memutar otak  demi mempertahankan cita rasa dari hasil masakannya. Selain harga garam meningkat tajam, stok garam dipasaran pun jarang, jumlahnya juga  sangat terbatas. Lengkap sudah penderitaan ibu-ibu, layaknya pepatah  sudah jatuh tertimpa tangga.

Alasan kelangkaan garam yang diikuti dengan naiknya harga garam disinyalir akibat anomali cuaca. Namun alasan itu tidak bisa diterima, namun kejadian ini terjadi berulang setiap tahun. Tanpa ada antisipasi memadai, selain hanya menguatkan kebijakan perlunya import. Sehingga hasil panen garam dari para petani tidak dapat mencukupi jumlah konsumsi yang dibutuhkan oleh masyarakat.  Namun setelah ditelusuri ternyata pihak pemerintah membuat kebijakan impor garam mencapai 75 ton.

Tindakan ini jelas sangat merugikan pihak konsumen. Namun yang paling dirugikan dalam hal ini adalah para petani garam di Indonesia, karna dengan masuknya garam impor otomatis harga garam petani dihargai sangat murah. Sebagaimana pengakuan para petani garam dikabupaten Sumenep Jawa Timur, mereka mengatakan  bahwa sejak kebijakan impor garam dilakukan harga garam turun drastis. Yang semula mencapai Rp 3,8 juta per ton, saat ini hanya sekitar Rp 3 juta per ton. Artinya penurunan harga garam mencapai sekitar 22 persen.

Banyak yang menyarankan, agar tidak terlalu membesar-besarkan masalah kenaikan garam ini. Toh tidak akan mati kaalu tidak ada garam. Saran-saran tersebut jelas tidak logis. Tidak perlu diajari, setiap harga naik, otomatis para ibu akan mengurangi dan bahkan tidak membeli sama sekali komoditas tersebut. Selama itu bukan komoditas primer seperti beras. Para ibu cukup tau diri dan sangat canggih menyiasati, tidak memaksa membeli. Masalahnya, jika kenaikannya itu sudah tidak masuk akal, maka wajar jika masyarakat mempertanyakan.ada apa?

Kritik tanda peduli

Sekalipun kenaikan harga garam tidak berdampak sistemik hingga mengguncang ketahanan pangan, sebagaimana jika kenaikan itu terjadi pada komoditas strategis seperti beras, namun hal ini cukup menyita perhatian masyarakat.

Ketika orang-orang mengkritik soal kenaikan-kenaikan harga,termasuk harga garam, bukan berarti mereka tidak mampu bersabar dan menahan diri hidup tanpa garam

Kritik terhadap semua itu merupakan bentuk kepedulian. Kritis, bahwa ada yang salah dengan mekanisme pengelolaan yang diterapkan saat ini, yang berdampak pada harga –harga yang tak terkendali. Harga akan otomatis murah jika suplay mencukupi, suplay cukup jika ada tata kelola pertanian yang baik dan professional, serta dijamin oleh  system pengaturan yang baik dan adil yang dapat mewujudkan kesejateraan bagi seluruh rakyat, sesuai amanat pancasila dan undang-undang Dasar 1945.

Kesejateraan yang ditandai dengan tercukupinya kebutuhan hidup masyarakat secara layak, mencerminkan keberhasilan pembangunan sebuah Negara. Kesejateraan ini juga menjadi ukuran kebahagiaan keluarga dan individu-individu didalamnya. Merasa cukup dan bersyukur dapat menjalankan roda kehidupan dengan normal, baik dalam perkara ibadah maupun muamalah. Inilah hakikat kesejateraan yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam bi ash-showab. []

loading...
loading...