islampos
Media islam generasi baru

Fikih Saksi Ahli Ala Kyai Ma’ruf Amin

0

oleh Cholil Nafis, Lc., Ph D, Dosen Pascasarjana UI, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat

KYAI MA’RUF AMIN (KMA) yang ahli ilmu fikih itu memberi kesaksian  tentang kasus penistaan Al Qur’an di Pengadilan. Cerobohnya, pihak Ahok menganggap sikap keagamaan (baca: fatwa) MUI adalah “pesanan” SBY utk memenangkan paslon 1. Maka dipengadilan itu Sang Fakih ditanya: Apakah ada telepon dari SBY kepeda KMA?

Kyai MA yang harus bersaksi di bawah sumpah tentu tak boleh bohong, tapi pertanyaan itu menjebak. Bahwa jika mengakui ada telepon dari SBY bukan semata telepon biasa tapi berarti mengakui bahwa keputusan MUI tentang Ahok menista agama adalah atas “pesanan” bukan atas pertimbangan fakta dan dalil syariah. Inilah dilema jawaban yang harus dijelaskan saksi di bawah sumpah meskipun makna yang diinginkan adalah membangun opini sesat.

Sang kyai MA yang jawara itu menjawab: tak ada telepon dari SBY. ditanya berkali-kali pun tetap menjawab tak ada telpon dari SBY. Ahok dan para pembelanya yang awalnya memancing Sang Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) terbalik mereka yang terpancing dan emosi sehingga ucapannya menusuk dirinya sendiri: melanggar hukum sadap dan tak beretika. Blunder!

Sebenarnya apa yang terjadi? SBY tak menelepon sendiri secara langsung tetapi melalui sambungan telepon stafnya lalu dilanjutkan dengan SBY. Namun pembicaraannya berkenaan dengan kunjungan Paslon Gubernur No. 1 ke PB NU. Di situ tak ada pembicaraan apalagi permintaan soal fatwa penista Al Qur’an itu. Lah kalau begitu berarti memberi keterangan palsu kalau jawaban KMA tak ada telepon dari SBY?

Menurut ulama Fikih, bersaksi di bawah sumpah di pengadilan adalah sesuai dengan kontek pembicaraan. Jadi, meskipun pertanyaannya apakah ada telepon dari SBY tapi maknanya adalah telepon SBY yang meminta utk menetapkan fatwa penista agama dan kyai Ma’ruf/MUI terpengaruh dalam keputusannya. Tentu jawaban KMA tidak palsu. Hal ini sama dengan orang bersumpah tidak akan makan daging selama sehari, sedangkan kata daging yang masyhur di masyarakat adalah daging sapi. Maka dia tidak dianggap melanggar sumpah jika makan daging kambing dan daging ayam apalagi hanya makan daging ikan. Ia melanggar sumpah kalau makan daging sapi karena makna yang masyhur di masyarakat kata daging artinya adalah daging sapi.

Pertanyaan berikutnya: apakah orang yang bersumpah di depan hakim arti katanya seperti yang diniatian hakim atau orang yang bersumpah? Menurut mazdhab Hanafi Sumpah mengikuti niat yang bersumpah jika dizhalimi dan mengikuti kehendak hakim jika yang bersumpah zhalim. Jelas menurut pendapat ini keterangan KMA adalah sesuai makna yang dikehendakinya bukan hakim karena KMA sedang dizhalimi dengan tuduhan “menjual” sikap keagamaan MUI untuk kepentingan politik seseorang. Ini kezhaliman karena telah menuduh lembaga keagamaan tercemar dan merendahkan para ulama di MUI.

Menurut Pendapat madzhab Maliki dan Syafi’i: Keterangan saksi diartikan sesuai dengan kehendak hakim. Menurut Madzhab Hambali: sumpah saksi sesuai dengan arti yang dikehendaki oleh saksi selama ia tidak zhalim.

Dari mayoritas pendapat madzhab fikih dapat dicerna, bahwa keterangan saksi di depan pengadilan adalah sesuai kehendak saksi bukan hakim selama saksi bukan orang zhalim. Meskipun mau diartikan sesuai pendapat bahwa makna keterangan saksi sesuai kehendak hakim tetap saja KMA tidak memberi keterang palsu. Sebab konotasi telepon dari SBY itu bukan telepon biasa tetapi pesanan fatwa sesuai permintaannya.

Kini arogansi Ahok dan pengacaranya telah menuai masalah dari berbagai pihak. Secara hukum menjadi catatan untuk diusut, dari aspek kesopanan yang dilanggar banyak menuai kecaman sedangkan elektabilitas politik berpotensi akan drastis menurun karena warga NU di DKI Jakarta dihimbau jangan memilih paslon yang menyinggung warga NU.

Ahok dan Pengacaranya berkilah untuk membangun opini bahwa sikap keagamaan MUI yang dipimpin kyai Ma’ruf Amin tidak murni berdasarkan kajian keagamaan, Namun hilah kyai MA bahwa tidak menerima telepon dari SBY (yang mempengaruhi sikap keagamaan MUI) membuat mereka berang dan emosinya meledak. Itulah fenomena siasat ahli huku positif melawan tahqiq ahli hukum Islam di Indonesia.[fq]

loading...
loading...