Fakta tentang Bapak Kopassus Indonesia

0

KOMANDO Pasukan Khusus atau Kopassus berjuluk Si Baret Merah merupakan  unit pasukan TNI yang dikenal sebagai pasukan paling mematikan dan berbahaya yang dimiliki Indonesia.

Unit pasukan yang terbentuk pada 16 April 66 tahun silam itu beranggotakan prajurit pilihan yang lolos seleksi untuk dibina menjadi prajurit tangguh berkualifikasi komando.

Siapa orang yang berpengaruh dalam catatan sejarah Kopassus Indonesia? Dia lah komandan pertama Kopassus yang dikenal dengan nama Idjon Djanbi.

Salah satu orang yang berpengaruh di tubuh Kopassus Indonesia itu merupakan seorang mualaf berkebangsaan Belanda. Namun, kemudian dia menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Tak banyak yang tahu soal masa lalu Bapak Kopassus Indonesia yang pertama kali mengasah mental dan fisik anggota TNI AD terpilih untuk dilatih menjadi Kopassus tersebut.

Muhammad Idjon Djanbi memiliki nama asli Rokus Barendregt Visser. Dia lahir di Boskoop, sebuah kota kecil di Selatan Belanda, 13 Mei 1914. Ia berasal dari lingkungan keluarga petani bunga.

Dia dikenal sebagai sosok yang cerdas. Berbagai hobi menantang dilakoninya, dari mendayung perahu kayu, balapan mobil, bermain sepakbola, berkuda bola (polo) bahkan mendaki gunung.

 

Lingkungan keluarga petani membentuk minatnya pada bidang agraria. Ia menjadi pengusaha ekspor impor bidang agraria dan holtikultura (tanaman hias) tahun 1935-1940. Namun, di usia 25 tahun ia terpanggil masuk dunia militer untuk membela Belanda.

Tahun 1940 ia masuk dinas militer sukarela Tentara Sekutu yang berperang melawan Jerman. Tugas pertamanya sebagai tentara adalah menjadi sopir Ratu Wilhelmina.

Selang setahun berdinas, ia mengundurkan diri. Ia lalu mendaftarkan diri sebagai operator radio di Pasukan Belanda ke-2 (2nd Dutch Troop).

September 1944, ia merasakan operasi tempurnya yang pertama bersama pasukan Sekutu dalam Operasi Market Garden. Pasukan tempat Visser bertugas termasuk ke dalam Divisi Lintas Udara 82 Amerika Serikat. Ia dan pasukannya diterjunkan melalui pesawat layang, lalu mendarat di wilayah konsentrasi pasukan Jerman.

Dua bulan kemudian saat pasukan dikumpulkan kembali, Visser digabungkan dengan pasukan Sekutu lain untuk operasi pendaratan amfibi di Walcheren, kawasan pantai di bagian selatan Belanda.

Pendidikan komando ditempuhnya di Commando Basic Training di Achnacarry di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin dan tak berpenghuni. Setelah menjalani latihan khusus yang keras dan berat, ia berhak menyandang brevet Glider (baret hijau).

Sedangkan baret merah diperoleh melalui pendidikan komando di Special Air Service (SAS), pasukan komando Kerajaan Inggris yang sangat legendaris. Selain itu, Visser juga mengantongi lisensi penerbang PPL-I dan PPL-II. Plus juga menjalani pendidikan spesialisasi Bren, pertempuran hutan, dan belajar bahasa Jepang.

Visser kemudian mengikuti Sekolah Perwira karena dianggap berprestasi. Lalu ia bergabung dengan Koninklij Leger untuk memukul Jepang di Indonesia, meski Jepang keburu mundur dari Indonesia sebelum pasukan Visser sempat dikirim.

Kekalahan militer membuat Jepang hengkang dari Indonesia. Hal ini membuka peluang Belanda kembali menguasai Indonesia. Saat itu, Belanda pun melakukan persiapan besar-besaran di Australia dan Sri Lanka untuk kembali ke Indonesia.

 

Pada 13 Maret 1946, Letnan de Koning dan Letnan van Beek dipanggil dari Sri Lanka untuk membuka School Opleiding Parachutisten (Sekolah Penerjun Payung) pada 15 Maret 1946. Visser turut memimpin sekolah tersebut.

Meskipun kondisinya sangat berbeda dengan kehidupan di Eropa, ternyata Visser menyukai hidup di Indonesia.

Ia sempat pulang ke Inggris menemui keluarganya dan meminta istrinya, perempuan Inggris yang dinikahinya semasa PD II serta keempat anaknya, untuk ikut ke Indonesia bersamanya. Karena sang istri menolak, Visser memilih untuk bercerai.

Tahun 1947, Visser kembali ke Indonesia, tepatnya di Bandung karena  sekolah yang dipimpinnya sudah pindah ke Batujajar, Cimahi, Bandung.

Tidak lama, Visser dipromosikan menjadi kapten dengan jabatan Pelatih Kepala. Dalam kurun 1947-1949, sekolah yang dipimpinnya terus mencetak peterjun militer.

Tahun 1949, Visser memutuskan keluar dari dunia militer dan memilih menetap di Indonesia sebagai warga sipil.

Meskipun keputusan ini mengandung risiko tinggi karena saat itu sikap kebencian serta anti-Belanda tertanam kuat dalam setiap diri orang Indonesia. Meskipun Visser berbaret merah, tetap saja tidak ada yang bisa menjamin keamanan mantan perwira penjajah di negeri bekas jajahannya ini.

Ia memilih menetap di sebuah lahan pertanian di daerah Lembang, Bandung.

Di daerah sejuk ini pula fase kedua dalam kehidupannya di mulai, dengan memutuskan memeluk agama Islam dan menikahi seorang perempuan Sunda.

Sejak itu, Visser dikenal dengan nama Mochammad Idjon Djanbi.

DIa masuk kembali ke dunia militer ketika diminta oleh seorang perwira muda Letnan Dua Aloysius Sugianto dari Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) untuk melatih komando di pendidikan CIC II (Combat Inteligen Course) Cilendek, Bogor.

 

Terhitung 1 April 1952, atas keputusan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, memutuskan bahwa Idjon Djanbi diangkat menjadi mayor infanteri TNI AD dengan NRP 17665.

Lalu ia lapor diri kepada Kolonel Kawilarang selaku Panglima Komando Tentara & Terirorium III/Siliwangi untuk menerima tugas.

Mayor (Inf) Idjon Djanbi pun segera melatih kader perwira dan bintara untuk membentuk pasukan khusus.

Tanggal 16 April 1952 dibentuklah pasukan khusus dengan nama Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi disingkat Kesko III di bawah komando Mayor Inf Idjon Djanbi.

Inilah tanggal yang dijadikan hari jadi Kopassus hingga saat ini.

Satu tahun kemudian satuan yang baru dibentuk ini diambil alih kendalinya langsung di bawah Markas Besar Angkatan Darat (MBAD).

Tanggal 14 Januari 1953, Kesko III berganti nama menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD).

Lanjut pada 25 Juli 1955, KKAD berubah nama menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) di bawah komando Mayor Mochammad Idjon Djanbi.

Pada 1965, TNI AD berkeinginan agar RPKAD dipimpin orang Indonesia tulen. Sehingga Mayor Idjon Djanbi ditawari jabatan baru yang jauh dari urusan pelatihan komando dengan menjadi koordinator Staf Pendidikan pada Inspektorat Pendidikan dan Latihan (Kobangdiklat).

Idjon Djanbi meminta pensiun dini akhir 1957. Dia diberi penghargaan, berupa jabatan mengepalai perkebunan milik asing yang telah dinasionalisasi.

Selepas dari sana ia berbisnis di bidang pariwisata dengan usaha penyewaan bungalow di Kaliurang, Yogayakarta.

Idjon Djanbi tutup usia di rumah sakit Panti Rapih pada 1 April 1977. Sebagai komandan pertama Kopassus, Idjon Djanbi dimakamkan tanpa tembakan salvo. []

SUMBER: TRIBUNNEWS

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline