ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Dekat pada Allah dengan I’tikaf, Tidak Cukup!

Foto: Abu Umar/Islampos
0

SETIAP umat Islam tentu menginginkan kedekatan pada Sang Khalik, yang menciptakan langit dan bumi beserta dirinya sendiri. Ia menginginkan yang terbaik di sisi Tuhan-Nya. Oleh sebab itu, berbagai praktek ibadah dilakukan. Termasuk mengasingkan diri hanya untuk beri’tikaf di masjid, tanpa melakukan sosialisasi dengan orang lain.

Apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang tersebut, yakni mengasingkan dirinya dari gemilau dunia, memanglah baik. Karena maksud mereka pun baik, yakni mendekatkan diri pada Allah. Hanya saja, jika hanya melakukan itu saja, itu tidaklah cukup untuk sampai pada Allah. Mengapa? Ada hal lain yang perlu juga dilakukan oleh setiap insan untuk mencapai tempat yang mulia di sisi-Nya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku berjalan bersama saudaraku muslim untuk memenuhi hajat(nya) lebih aku sukai daripada I’tikaf di masjid selama satu bulan,” (Hadis hasan, lihat shahih al-jami’, hadis nomor: 176).

Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa Rasulullah lebih menyukai menolong sesama saudaranya, daripada berlama-lama mengasingkan dirinya di masjid. Jadi, menolong sesama pun perlu dilakukan, bukan hanya beri’tikaf saja. Karena dalam hadis lain dikatakan bahwa,

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menghilangkan kesusahan mukmin di dunia, maka Allaha akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi aib muslim, maka Allah menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya,” (HR. Muslim).

Subahanallah, itulah kekuatan dari menolong sesama. Kita akan mendapatkan yang lebih daripada apa yang kita perbuat kepada sauadara kita. Maka dari itu, luangkanlah waktu untuk bersosialisasi, bergaul dengan sesama, menyambung silaturrahim dengan saudara seiman.

I’tikaf baik untuk dilakukan, namun alangkah lebih baik jika dibarengi dengan silaturrahim dan menolong sesama mukmin. Jadi, urusan akhirat dan dunia perlu berjalan beriringan. Tidak bisa kita hanya mengunggulkan urusan dunia saja, tidak pula mengunggulkan urusan akhirat saja. Buatlah satu sama lain tidak pincang, artinya sama-sama dilakukan dengan tujuan mendapatkan ridha Allah SWT. []

Sumber: Bersama Allah SWT Sepanjang Hari/Karya: H. Ahmad Heryawan, Lc/Penerbit: Literate Publishing

loading...
loading...