ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ledek Ayah Orang Lain, Ledek Ayah Sendiri?

0

Advertisements

Meledek orang tua orang lain sama halnya kita meledek orang tua kita sendiri.

KETIKA situasi hati sedang tidak menentu, biasanya emosi berada di depan daripada akal. Maka, ketika ada suatu masalah, kita tidak bisa berpikir dengan tenang. Sebab, emosi terus menguasai diri kita. Alhasil, hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan, malah dilakukannya. Salah satunya meledek orang lain.

Jika kita meledek orang lain, maka yang merasa tersinggung adalah orang yang kita ledek. Hanya saja, emosi yang memuncak menyebabkan seseorang hilang kendali. Dan biasanya yang diledek bukan hanya orang yang sedang bermasalah dengannya, melainkan orang tua yang bermasalah itu.

Bermula dari itu, akhirnya terjadilah aksi saling meledek orang tua, baik itu ayah atau pun ibu. Padahal, orang tua mereka tidak mengetahui apa-apa. Tetapi, mengapa mereka yang menjadi sasaran ledekan? Mengenai hal ini, ada yang mengatakan bahwa orang yang meledek orang tua orang lain, maka ia sama halnya meledek orang tuanya sendiri. Benarkah demikian?

Rasulullah ﷺ menyebut diri kita sama dengan memaki orang tua sendiri, jika kita membangkitkan emosi lawan dengan memaki orang tuanya lalu dia berbalik memaki dan menghina orang tua kita juga. Artinya yang pertama kali memulai menghina orang tua lawan sehingga menyebabkan lawan juga memaki orang tuanya, maka orang itu sama saja dengan memaki orang tuanya sendiri.

Memang tidak masuk akal sebetulnya. Orang yang sedang emosi pikirannya tertutup hawa nafsunya. Mengapa ia yang bertengkar, tapi kok orang tuanya yang dicela? Apa hubungannya? Yang demikian itu hanya untuk membuat lawan marah. Orang yang bertengkar memang sengaja agar lawannya marah. Semakin lawannya marah, semakin senanglah hatinya. Seakan-akan ia menang dalam tataran pertengkaran mulut. Baru kalau kemudian berlanjut ke arena tinju masing-masing baru membuktikan kekuatan siapa yang paling unggul.

Kembali kepada membawa-bawa orang tua dalam bertengkar. Seemosi apa pun diri kita janganlah sampai kita membawa-bawa nama orang tua. Tegakah diri kita mendengarkan orang tua kita dicaci maki dan dihina?

Pada saat ada orang yang mencaci maki orang tua kita langsung kepada mereka, pasti kita panas. Kalau ada di tempat itu pasti kita akan langsung turun tangan, main pukul. Kalau pas kita tidak ada, kita akan cari orangnya. Hati kita geram kalau tahu orang tua kita dicaci maki.

Nah, sebelum kita menghina orang tua lawan, ingatlah orang tua kita. Kita amat marah apabila orang tua dihina, jangan sampai kita memulai menghina orang tua lawan. Jadilah anak yang berbakti. Anak yang tidak pernah memaki orang tua sendiri dengan cara apapun. Langsung atupun tidak langsung. []

Referensi: Hikmah dari Langit/Karya: Yusuf Mansur/Penerbit: Pena Pundi Aksara Januari 2007

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline