islampos
Media islam generasi baru

Bolehkah Wanita Haid Diam di Masjid?

0

Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh.” (HR Bukhori, Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah).

ADA beberapa hal yang dilarang bagi wanita haid. Salah satunya masuk ke Masjid. Kebolehan orang yang sedang dalam keadan janabah atau haidh untuk masuk masjid hanya diizinkan bila hanya melintas, tidak sampai duduk lama dan berjam-jam lamanya.

Ustadz Ahmad Syarwat, LC, menjelaskan, kebolehan melintas ini sebenarnya disebutkan dalam Al-Quran buat orang yang dalam keadaan junub, namun para ulama memasukkan juga ke dalamnya orang yang sedang mendapat haidh.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi,” (QS An-Nisa’: 43).

Maka keterpaksaan yang membolehkan seorang wanita haidh masuk masjid adalah yang bentuknya hanya melintas saja. Misalnya, untuk memotong jalan akibat adanya halangan tertentu. Atau karena memang ada sesuatu yang harus dibawanya ke masjid dan diletakkan di dalamnya. Begitu sudah diletakkan, dia harus segera keluar dari masjid. Tidak boleh berlama-lama di dalamnya, karena larangannya sangat jelas dan kuat.

Tentunya kita tidak boleh memudah-mudahkan sesuatu yang hukumnya sudah jelas dan dalilnya sudah qath’i. Sebab meski Islam memang agama yang mudah, namun bukan berarti setiap orang berhak melanggar semaunya sendiri.

Kalau pun alasan terpaksa yang diajukan, bukankah yang namanya terpaksa itu bersifat dharurat? Apakah kehadiran wanita haidh dalam masjid sudah mencapai derajat darurat? Tentu saja tidak.

Kecuali bila terjadi tsunami dan tidak ada tempat untuk menyelamatkan diri kecuali masuk masjid. Maka saat itu para wanita haidh boleh masuk ke masjid dengan alasan dharurat.

Solusi

Seandainya bentuk keterpaksaan itu adalah kewajiban datang dalam acara pengajian, maka perlu dijelaskan kepada pihak penyelenggara pengajian itu bahwa mereka harus memberikan tempat tertentu di bagian masjid, khusus untuk mereka yang sedang haidh. Yang pasti tempatnya bukan di ruang utama untuk shalat.

Mungkin bisa di lantai atas, atau di teras atau di ruangan tertentu, yang diikrarkan oleh para pengurus masjid bahwa ruang itu bukan bagian dari masjid yang suci. Sehingga mereka yang haidh bahkan yang junub sekalipun, boleh memasuki area tersebut []

loading...
loading...