ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Bocah Lucu Terancam Peluru

Foto: Pinterest
0 386

Oleh: Dedeng Juheri

ADIK kecil…
Kemari biar kakak peluk
Biar kakak usap air mata
Kakak belikan baju baru
Kakak berikan susu
Kakak hadiahkan mainan yang kau suka
Kemarilah, Dik..
Mata kakak sudah basah
Kemari ke rumah kakak
Bermain di tempat kami
Saat bocah seusiamu di Indonesia, asyik bermain mobil-mobilan, tertawa menyusun lego, dan teriak bahagia bermain petak umpet.
Engkau di Suriah sana menangis ketakutan, berlindung dibalik tembok, mencari ayah dan ibu.
Saat bocah seusiamu di Indonesia, bangga berseragam rapi, diantar bunda pergi sekolah TK, dibekali nasi, lauk pauk, kue, dan uang untuk jajan.
Engkau di Suriah sana sepi dalam kesendirian, rumah roboh, ayah ibu tertimbun reruntuhan.
Saat anak seusiamu di Indonesia, sore hari menikmati indahnya hari, makan dan minum sepuasnya.
Engkau di Suriah sana, menggigil ketakutan di tengah desing suara peluru, menahan dahaga kehausan, dan perih perut kelaparan.
Saat anak seusiamu di Indonesia, terbahak menahan tawa menyaksikan film kartun, mendendangkan lagu-laguan, dan menari kegirangan.
Engkau di Suriah sana, meringis menahan sakit karena luka yang menganga, tak ada obat memadai, tak ada dokter yang mengobati. Hanya tangis dan perih di hati.
Saat anak seusiamu di Indonesia, tidur nyenyak di kasur empuk, berselimut hangat, dan terbuai mimpi indah.
Engkau di Suriah sana, tidur perut kerongkongan, tergeletak di tikar tipis yang kaku dan dingin yang menusuk.
Saat anak seusiamu di Indonesia, gembira ria piknik bersama keluarganya, bermain air, meluncur di perosotan, dan menyaksikan indahnya pemandangan.
Engkau di Suriah sana, tertimbun reruntuhan, tangan terjepit, kaki terputus, dan muka rusak tak karuan. Jangan piknik dan jalan-jalan, sekadar berdiri pun sakitnya tak tertahankan.
Saat anak seusiamu di Indonesia, kumpul bersama keluarga, berfoto bahagia, dan tersenyum penuh canda.
Engkau di Suriah sana, ditodong senjata, didorong laras panjang, bahkan dipukul pohpor moncong senapan. Jangankan tertawa, menangis pun sudah habis air mata.
Yang ada hanyalah takut, sakit, dan derita.
Kemarilah, Dik, biar kakak peluk
Biar kakak usap air mata
Biar kakak belikan mainan yang kau suka
Ya Allah, apa yang kami lakukan di Indonesia? Mengapa para durjana itu sangat tega, menyiksa, membunuhi bocah tak berdosa?
Ya Allah, saat melihat mereka, kami merasa itu semua anak-anak kami, adik atau ponakan kami, atau anak-anak tetangga dan sahabat kami.
Ya Allah, berikan kekuatan, pertolongan, dan surga bagi mereka yang telah tiada. Semoga tergerak hati para penguasa muslim di manapun berada. Aamiin.
____
Dengan mata berkaca kutulis rintihan ini, di malam sepi, di samping anak istri yang terlelap sunyi. []

Comments
Loading...