Bijak dalam Memilih Calon Kepala Daerah

0

Oleh: Rattahpinusa
Pegiat Klub Diskusi ElFatta, Kupang
rattahpinusa@gmail.com

RENTETAN berita penangkapan Kepala Daerah (kada) terkait Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK) menjelang hajatan Pilkada menghiasi media cetak maupun elektronik beberapa waktu lalu. Dis atu sisi, publik perlu mengapreasiasi kinerja KPK dalam pemberantasan korupsi. Namun di sisi yang lain, publik selaku pemilik mandat perlu merefleksi diri agar kejadian serupa tidak terulang dimasa mendatang.

Mengingat kada yang terkena OTT tersebut merupakan produk dari proses politik yang disebut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Dimana, publik bertindak selaku salah satu aktor yang menentukan terpilihnya kada yang memiliki kompetensi, kapasitas dan integritas dalam menggerakkan roda pemerintahan dan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.

BACA JUGA: Menjelang Pilkada dan Pilpres, Jokowi Imbau Seluruh Rakyat untuk Tetap Jaga Persatuan

Tulisan ini bertujuan membangun kesadaran bersama untuk menepis kapitalisasi politik dalam bentuk politik uang dalam proses pilkada.

Memaknai Pilkada

Pilkada bukanlah kontes adu bakat dimana para kontestannya coba meraih popularitas berdasarkan tampilan fisik maupun kedekatan emosi semata. Pilkada bukan pula ajang charity dimana para kontestan pilkada yang notabene merupakan calon kepala daerah (cakada) membagi-bagikan uang atau paket sembako tanpa ada pamrih tertentu.

Tentunya para kontestan tersebut bermaksud menarik simpati masyarakat melalui bancaan uang tersebut. Namun pilkada merupakan proses politik dalam menentukan calon pemimpin daerah yang berkualitas dan berintegritas yang mampu menakhodai suatu pemerintahan agar masyarakatnya sejahtera. Sehingga para pemilih perlu mempergunakan rasio dan logika dalam memilih calon pemimpin daerah lima tahun ke depan.

BACA JUGA: Menjelang Pilkada dan Pilpres, Zulkfili Imbau Wanita Islam Lakukan Edukasi Politik

Kapitalisasi Politik dalam Pilkada

Pilkada, sebagai salah satu sarana kompetisi politik, menuntut para kontestan dan tim suksesnya saling beradu strategi pemenangnya. Sepanjang strategi pemenangan tidak bertentangan dengan norma hukum dan etika serta tidak merugikan orang lain maka timses tidak dilarang berkreasi dan berinovasi.

Namun fenomena umum yang terjadi, sebagian besar timses menggunakan strategi pemenangan yang tak elok, seperti: kampanye hitam dengan menebar fitnah, ucaran kebencian, mempergunakan politik identitas dan senjata pamungkasnya adalah serangan fajar berupa money politic.

Kapitalisasi politik berbentuk politik uang tentu tidak sesuai dengan demokrasi Pancasila. Politik uang yang bersifat pragmatis dan transaksional telah menjajah kedaulatan publik selaku pemilik suara. Politik uang telah membeli masa depan pemilik suara dan menggantinya dengan kepentingan pemodal.Dan cita-cita demokrasi Pancasila yang mengedepankan musyawarah untuk mufakat dan mensejahterakan kepentingan umum sebatas jargon semata karena terlibas praktek kapitalisasi politik.

Saatnya menjadi Pemilih yang Bijak

Bijak merupakan sikap mental hasil kristalisasi antara pengetahuan dan pemahaman terhadap suatu objek tertentu. Dalam konteks pilkada, publik selaku pemilik suara dan mandat perlu ‘jual mahal’ terhadap para kontestan kada. Ibaratnya gadis yang hendak dipinang, publik selaku konstituen janganlah rela tergadaikannya kedaulatannya dengan selembar uang berwarna biru atau merah.

BACA JUGA: Menjelang Pilkada Serentak 2018, JK Ingatkan Polri soal Bahayanya Berita ‘Hoax’

Sehingga publik perlu mempergunakan rasionalitasnya dalam menentukan kapasitas, kompetensi dan integritas calon kada. Ketiga kriteria tersebut merupakan ukuran logis tentang kelayakan dan kecakapan calon pemimpin daerah lima tahun mendatang.Ketiga kriteria tersebut dapat dilacak dari rekam jejak para kontestan dari aspek kecerdasan intelektual, emosi dan spiritualnya.

Data rekam jejak tersebut tersebar jejaknya baik dimedia cetak dan digital. Bersandar pada rasionalitas akan membentengi publik selaku pemilik suara dari godaan politik uang. Terpenting, bijak memilih calon kada akan menentukan masa depan kita selama lima tahun mendatang. []

Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi di luar tanggung jawab redaksi.

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline