islampos
Media islam generasi baru

Bertemanlah dengan Para Pencinta Akhirat

Foto: Fatmah/islampos
0

IBNU Athaillah pernah berkata, “Sebagaimana dunia memiliki para pencinta yang akan membantu siapapun yang berteman dengan mereka, akhirat juga memiliki para pecinta yang akan menolong siapapun yang mendekati dan berhubungan dengan mereka.

Jangan katakan, ‘Kami sudah mencari, tapi belum mendapat.’ Sebab, andai kau mencari dengan jujur, kau pasti akan mendapatkannya. Penyebab kau tidak mendapatkannya adalah karena kau tidak siap. Pengantin wanita tidak boleh diperlihatkan kepada orang fasik. Seandainya pengantin wanita ingin dilihat olehnya, tentu ia akan lari. Kalau kau meninggalkan orang fasik, tentu kau akan melihat para wali. Jumlah wali cukup banyak. Julah dan pertolongan mereka tidak berkurang. Seandainya salah seorang dari mereka berkurang, tentu cahaya kenabian pun berkurang.”

Seorang penyair bertutur:

Di tengah-tengah manusia engkau diukur
Dengan orang yang engkau jadikan teman
Maka, bertemanlah dengan orang-orang pilihan
Tentu engkau akan mendapatkan penghormatan

Secara fitrah, manusia adalah makhluk sosial. Ia harus bergaul dan menjalin hubuungan sesama manusia. Agar mendapatkan kebaikan, seorang muslim harus menjalin hubungan dengan orang-orang pilihan. Allah SWT memilihkan untuk Nabi SAW pun sahabat yang menolong dan mencintainya.

Rasulullah pun memilih dengan para sahabat dan meninggalkan para pencinta dunia yang berasal dari golongan bangsawan. Berkaitan dengan hal tersebut, Allh berfirman,

“Bersabarlah bersama orang-orang yang menyeru Tuhan di waktu pagi dan petang dengan mengharap ridhaNya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini,” (QS. Al-Kahfi : 28).

Nabi SAW bersabda mendorong kita untuk berteman dengan orang pilihan, “Janganlah berteman kecuali dengan orang mukmin. Dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang bertakwa,” (HR. At-Tirmidzi).

Maka dari itu, marilah kita berteman dengan orang-orang pilihan yang lebih mencintai langit dibandingkan bumi. Yang lebih mencintai akhirat dibandingkan dunia.[]

Referensi: Mengaji Tajul Ar’us Rujukan Utama Mendidik Jiwa/Karya: Ibnu Athaillah/Penerbit: Zaman

loading...
loading...