ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Bermula dari Cinta, Berakhir Jadi Bencana

Foto: Abu Umar/Islampos
0

CINTA merupakan suatu hal yang tak dapat terlepas dalam kehidupan kita. Cinta bisa menjadi anugerah dan menjadi petaka. Semua itu tergatung seperti apa kita menyikapi rasa cinta itu. Pada dasarnya, cinta itu memanglah sebuah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada hati manusia, hanya saja, terkadang manusia terena dengan perasaan itu, hingga melewati ambang batas dari jalan yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Jenis-jenis dari cinta memang cukup banyak, namun, pada masalah saat ini ialah mengenai cinta berlainan jenis, yakni laki-laki dan wanita. Ya, banyak kasus yang menunjukkan bahwa berbagai kejadian yang berujung pada hal yang menyakitkan berawal dari rasa cinta.

Nah, yang paling banyak pada kasus ini ialah para remaja. Masa mereka merupakan masa emas. Di mana biasanya mereka selalu mencoba-coba. Hingga terkadang, sudah tahu bahwa hal itu merupakan yang diharamkan oleh Allah, tapi saking besarnya rasa keingintahuan mereka, akhirnya mereka mencobanya.

Salah satu kasus remaja yang tak kunjung usai dari dulu hingga sekarang ini ialah “Pacaran”. Ya, berawal dari pertemuan dua insan yang berlainan jenis, kenalan, hingga akhirnya memiliki perasaan yang sama, yaitu cinta. Atas nama cinta, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan terlarang itu.

Awalnya mereka memiliki rasa malu yang tinggi dan nafsu yang rendah. Namun, setelah sekian lama jalan bersama, rasa malu itu menjadi rendah dan bahkan nafsu memuncak. Itulah penyebab utama dari sebuah masalah penyimpangan sosial di negara ini. Padahal, wanita itu tiang negara. Nah, jika tiangnya sendiri sudah tak dapat berdiri kokoh akibat mengikuti hawa nafsunya, akan jadi apa negara ini?

Ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama untuk menyelesaikan tugas yang cukup berat. Amar makruh dan nahi munkar harus ditegakkan. Kita harus membantu mereka yang kini terlanjur basah pada jalan yang salah agar kembali ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Jangan jadikan mereka sebagai bahan ejekan. Tapi, rangkulah mereka, beri motivasi dan pengarahan untuk melakukan taubatan nasuha, tobat yang sungguh-sungguh.

Jika, di antara kita pernah melakukan hal itu, tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Menurut Imam al-Ghazali, dosa besar itu akan menutupi hati, seperti kaca yang dicat oleh cat yang hitam. Setebal apa pun cat itu, jika terus membersihkannya, bintik-bintik hitam akan menghilang. Dengan syarat penuh keyakinan dan kesungguhan.

Cobalah, buat suatu tujuan hidup. Karena, bagaikan memasak tanpa resep tentu tidak akan pernah bisa. Apalagi dengan hidup ini? Menerapkan tujuan menjadi sesuatu hal yang penting. Boleh kita memiliki tujuan masa depan di dunia ini, namun jangan lupakan pula masa depan kita di akhirat.

Kembali pada cinta, yang menjadi awal mula terjadinya malapetaka yang membawa kesengsaraan hidup. Ingat, semua itu tak akan terjadi jika kita senantiasa menjaga perasaan cinta itu hanya karena Allah Ta’ala. Kita tetap mengatur hawa nafsu agar tidak melampaui batas. Biarkan cinta itu terpendam di dalam hati saja. Biarlah Allah melalui alam sekitar yang menuntun kita ke arah yang diridhai oleh-Nya. []

Sumber: Ummi Wanita Berpolitik No 01/XI Mei-Juni 1999/1420 H

loading...
loading...