ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Berguru pada Buku, Salahkah?

Foto: Fatmah/Islampos
0

ALLAH Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk terus menuntut ilmu hingga akhir hayat hidup ini. Kemana pun dan kapan pun, ilmu harus terus dikejar. Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah dimiliki. Sebab, ilmu yang telah Allah sebarkan di muka bumi ini sangatlah luas. Ada berbagai macam ilmu dapat kita temukan jika kita terus mencarinya.

Belajar adalah salah satu cara agar kita bisa memperoleh ilmu. Dan kita memang harus mau untuk menuntut ilmu melalui proses belajar. Sebab, dengan belajar ilmu yang kita ketahui dapat kita pelajari dengan baik. Hingga, kita bisa mengamalkan ilmu tersebut dengan benar.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah dalam Kitabul ‘Ilmi menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan. Seseorang yang memiliki guru akan memperoleh beberapa manfaat, di antaranya:

1. Menemukan metode yang mudah dalam belajar. Dia tidak perlu bersusah payah memahami sebuah kitab untuk melihat apa pendapat yang paling kuat dan apa sebabnya. Demikian pula apa pendapat-pendapat yang lemah dan alasannya. Ketika seseorang memiliki guru, maka guru itu yang akan mengajarinya dengan metode yang lebih mudah. Guru itu akan menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu, manakah pendapat yang terkuat beserta dalil-dalilnya. Tidak diragukan lagi, hal ini sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu.

2. Lebih cepat paham. Seorang penuntut ilmu jika membaca di hadapan gurunya akan lebih cepat mengerti dibandingkan jika mempelajari sendiri. Jika dia hanya membaca seorang diri, boleh jadi ia akan menemukan istilah-istilah baru yang sulit untuk dipahami dan membutuhkan usaha serta pengulangan yang memakan waktu dan tenaga. Bahkan bisa jadi dia jatuh dalam kesalahan saat memahaminya.

3. Adanya hubungan yang terjalin antara penuntut ilmu dan para ulama. Maka dari itu membaca sebuah buku di hadapan para ulama lebih bermanfaat dan lebih utama daripada membacanya sendiri.

Di kesempatan lain, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya tentang sebuah ungkapan yang berbunyi, “Barangsiapa yang gurunya adalah bukunya, maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya.”

Syaikh mengatakan bahwa perkataan ini tidaklah benar maupun salah secara mutlak. Akan tetapi seseorang yang belajar dari sebuah buku dan orang-orang yang dikenal dengan ilmunya serta dapat dipercaya dalam menyampaikan ilmunya secara bersamaan maka hal ini dapat meminimalisir kesalahan yang terjadi. Wallahu a’lam. []

Sumber: muslim.or.id dengan referensi dari Kitabul ‘Ilmi, cetakan pertama, tahun 1417 H. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya, Riyadh.

loading...
loading...