islampos
Media islam generasi baru

Berbuat Maksiat, Ini Pengaruhnya

Foto: Abu Umar/Islampos
0

KITA tahu bahwa Allah SWT sangat tidak menyukai orang-orang yang berbuat maksiat kepada-Nya. Di mana ia tak mampu untuk tunduk dan patuh kepada-Nya, bersebab mengikuti hawa nafsunya semata. Padahal, pada hakikatnya hati manusia itu bersih. Hanya manusia itu sendiri yang tidak mau mengakui dan tidak menjaga hati dengan baik. itulah yang menjadi salah satu alasan mereka melakukan maksiat kepada-Nya.

Tahukan Anda bahwa perbuatan maksiat itu sangat berbahaya. Ya, bahaya dari berbuat maksiat terhadap jiwa, hati dan jasamani manusia tidaklah sedikit. Dan hanya Allah sajalah yang berhak mengetahui semuanya. Namun, ada beberapa pengaruh buruk yang bisa ketahui akibat dari perbuatan maksiat. Apa sajakah itu?

Perbuatan maksiat merupakan warisan yang selalu mendapatkan azab dari Allah SWT. Dalam hal ini salah satu maksiat yang terjadi di masa kini ialah menyerupai suatu kaum, di mana kaum tersebut sangat ingkar terhadap perintah Allah. Salah satunya dari cara berpakaian umat-umat terdahulu yang merupakan musuh Allah dan selalu berbuat durhaka kepada-Nya.

Dalam hal ini mari kita perhatikan dari musnad Ahmad dari Ibnu Umar. Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku diutus membawa pedang mendekati hari kiamat sehingga hanya Allah yang tunggal, yang disembah tak ada sekutu bagi-Nya. Dan rezekiku dijadikan berada di bawah bayang-bayang tombakku, kehinaan dan kerendahan berlaku bagi orang-orang yang menyalahi perintahku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongannya.”

Demikianlah sabda Rasulullah ﷺ. Di mana akhir-akhir ini banyak kita temukan orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat dengan cara ikut-ikutan. Demikian pula dalam hal mencontoh cara dan model pakaian yang persis bagaikan orang-orang durjana, yang menjadi musuh Allah. Padahal, menurut hadis nabi tersebut, barangsiapa meniru atau menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.

Kemudian bahaya maksiat selanjutnya yaitu bisa melenyapkan dan menghilangkan rasa malu. Malu sebagian dari iman. Malu merupakan pangkal kebajikan. Jikalau rasa malu sudah hilang, maka hilanglah semua kebajikannya. Dalam sebuah kitab shahih disebutkan Rasulullah ﷺ bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya,” (HR. Bukhari).

Bahaya berbuat maksiat yang terakhir, bisa menutup mata hati. Mengapa bisa terjadi demikian? Tidak lain jawabannya ialah akibat tidak mendapat hidayah dari Allah SWT. Sehingga, itulah yang menyebabkan hatinya gelap tak bersinar dan tak bisa menerima nasihat-nasihat agama. Demikian juga mereka termasuk golongan orang-orang yang lalai.

Menurut Imam Hasan, “Dosa yang berlapis mampu membutakan hati.” Dan menurut ulama yang lain, bahwa ketika dosa dan maksiatnya telah tertumpuk, hatinya pun sudah tertutup. Dan pada awalnya kotoran hati timbul akibat dari kemaksiatan. Dan berkahirnya kemaksiatan itu sendiri tiada lain kecuali hanya, orang itu meraih dan mendapat hidayah dari Allah SWT. Jika tak pernah meraih hidayah dari Allah SWT, maka sang hamba akan disetir ke dalam lembah kehinaan untuk selamanya. []

Referensi: Contoh-contoh Pidato Kultum (Kuliah Tujuh Menit)/Karya: Mulkan Hamid, Spd, Khairul Rahim dan Mahtuh Ahnan/Penerbit: Terbit Terang Surabaya

loading...
loading...